Headlines News :
Home » » Mengungkap Makelar Kasus Tingkat Dewa Di KPK dan Murkanya Tuhan Kepada Pejabat Yang Tidak Bersyukur

Mengungkap Makelar Kasus Tingkat Dewa Di KPK dan Murkanya Tuhan Kepada Pejabat Yang Tidak Bersyukur

Written By Info Breaking News on Kamis, 03 Juni 2021 | 11.19

Motto yang hebat ini sedang dipertanyakan rakyat dan Tuhan


JAKARTA, INFO BREAKING NEWS - Sepandai pandainya tupai melompat, sesekali pasti jatuh juga. Pepatah kuno warisan nenek moyang kita itu sangat sesuai ditujukan kepada lembaga anti rasuah atau yang selama ini disebutkan secara gegap gempita dan terkesan sangat suci dan pegawainya sangat anti difasilitasi apalagi untuk cawe cawe perkara atau oknum penyidik yang bermain makelar kasus atau jual beli kasus atau transaksi perkara dengan segala gaya permainan cantiknya, yang jika hampir terbongkar pemerasan itu atau transaksi markus itu, maka seringkali dan sangat mudah membius publik dengan mengatakan bahwa itu adalah anggota palsu yang mengaku ngaku. 

Padahal mustinya para pimpinan KPK bisa secara cerdas menyikapi semua issue itu dengan melakukan pemeriksaan yang cermat dan pengawasan yang cermat, jangan terlalu gampang menyebut itu KPK gadungan, karena ternyata ada memang oknum KPK asli seperti AKP Robin yang tak beda dengan oknum aparat lainnya yang memang doyan dengan duit haram makelar kasus, sebagaimana hampir disemua lembaga pemerintahan selalu saja makelarnya, cawe cawenya, bahkan seringkali manusia rendah seperti Robin yang hanya berpangkat AKP itu sesungguhnya mendapat lampu ijo dari seniornya atau kasatgasnya bahkan mungkin dari seorang ketuanya KPK. 

Buktinya sudah terlalu banyak oknum pejabat yang sangat berkelas ternyata bermain juga, contoh kasus Komjen Pol Susno Duaji yang saat itu masih menjabat sebagai Kabagreskrim, juga ternyata jatuh dan parahnya disikat oleh rekan KPK. Sampai si gaek mantan Menteri Agama SDA yang tega memakan uang kitab suci dan ibadah haji, apalagi silaknat mantan menteri sosial Juliari Batubara yang sangat keji memakan uang Covid 19 sehingga isi sembako untuk rakyat itu hanya berisi makanan abal abal seperti ikan Sardencis yang kalengnya sangat kecil dan murahan dan bauk tidak enak, karena terlalu besar uang nya dimakan sibangsat oknum yang belum lama diangkat sebagai seorang Menteri dibidang kaum duafa itu, tapi nyata ditangkap KPK sepulang dari Amerika,  plesir yang selalu modusnya dikemas secara apik sebagai bentuk kunjungan kerja keluar negeri. Preettt lah dengan semua kemunafikan dan penipuan tingkat dewa seperti itu.

Karena akhirnya Tuhan sang Maha Pencipta itu murka dan diijinkanNYA dibuka aib yang selama ini ditutupi lalu dipermalukan didepan publik, anak isteri dan koleganya seperti oknum penyidik KPK bernama Robin berpangkat hanya AKP, tapi bisa mendapat uang senilai fantastis dari seorang Azis Syamsuddin yang dipercaya oleh rakyat dan Tuhan sebagai wakil ketua DPR RI, dan memang dianggap memiliki track record banyak kasus dan paling piawai dalam soal bermain karena ditenggarai Azis merupakan pemain watak yang paling berani dibungkus banyak dukungan dari semua kalangan kaum bangsat, jahanam dan penipu kelas dewa yang ada dihampir semua lini dipartai yang besar dan bertitel sarjana hukum yang mapan. 

Mustinya keranda kematian dan kain hitam sangat pantas saat ini dibentangkan di gedung KPK, bukan pada masa yang kemaren yang hanya sok sok an dan penuh kemunafikan bahkan sampai sejumlah LSM dan Mahasiswa serta Media bahkan rakyat dilibatkan untuk ikut berperan Safe KPK ketika ribut dengan aparat hukum lain, dari malam hingga pagi penuh dengan ketegangan yang sesungguhnya sudah di desain dan dikondisikan seperti lembaga suci bahkan dalil nya KPK bisa mengalahkan kitab suci apapun, karena itu marahlah sang khalik sang pencipta Tuhan Yang Maha ESA melalui penyidik KPK AKP Robin Julu julu apalah namanya itu, dibukakan topeng dan kedok nya yang selama ini sebagai kategori modus rampok tingkat dewa. 

Padahal mustinya pegawai KPK harus ngaca diri dan sadar, bahwa pengalaman dan jam terbang kalian itu belum berarti apa apa dibanding SDM yang dimiliki instansi hukum lainnya, 

Dan sesungguhnya bukanlah orang terbaik dari kejaksaan atau polri yang dikirim kepada KPK, tapi pada umumnya setelah bertugas di KPK....waduh sombongnya dan gaya selangitnya minta ampun, sampai tak diijinkan bertegur sapa dengan koleganya bahkan seleting jika bertemu diluar atau dipasar sana. 

Tak boleh katanya diberi fasilitas apapun  dilapangan, tetapi nyatanya menjadi penjahat kaliber tingkat dewa karena siapa yang bisa menyangkal kalau sesungguhnya tak ada yang gembel kere dan miskin para koruptor yang ditangkapi oleh pihak KPK, bahkan penulis sendiri sering melihat langsung ketika OTT disebuah rumah penjahat berdasi itu digarasi mobilnya ada belasan mobil mewah, tapi masih saja serakah dan inilah sasaran empuk oknum KPK yang menyalahkan gunakan amanah kepercayaan rakyat, khususnya Tuhan pun sangat kecewa karena tak ada rasa syukur dan tak bisa menjadi manusia beradab dan tidak memiliki derajat istiqomah, bukan lagi soal integritas sebagai yang digemborkan tapi istiqomah itu telah lenyap dimakan kesombongan dan merasa hebat sehingga dijatuhkan oleh tangan Tuhan sendiri.

Kalau sudah begini, apakah masih berani lagi sombong dan lupa daratan wahai para petinggi di KPK dan masih mampukah untuk bisa bangga atau merasa pejabat hukum paling disegani ? Oh...tak sadar betapa belakangan ini ada banyak kasus besar justru dihajar habis dan lebih ditangani berani dalam menangani sejumlah perkara kelas kakap separti kasus Asabri, Jiwasraya dll dengan vonis hukuman seumur hidup, hasil kerja profesional oleh pihak Kejagung dan Kepolisian dibawah naungan Kapolri Jenderal Sigit, walaupun hingga berita ini diturunkan, seperti tak habis habisnya ada saja oknum jaksa dan polisi yang ahli menerus lalu apes tertangkap tangan dan dipecat dengan tidak hormat bahkan meringkuk disel penjara karena rakus dan terbawa arus ikut jurus si markus alias makelar kasus. 

Kasihan sekali Markus yang adalah nama kitab suci umat Nasrani yang kini sangat terkenal dengan konotasinya yang sangat buram dan hancur akibat ulah manusia yang kelewat batas serakah dan sombongnya karena mentang mentang sudah namanya bekerja di lembaga aparat hukum seperti KPK, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Mabes Polri bahkan yang bekerja di Istana Negara, yang tak terbantahkan sudah banyak mendekam didalam sel penjara.

Manusia yang tidak pernah bersyukur kepada Tuhannya dengan pangkat dan jabatan hebat bahkan dengan gaji dan fasilitas mewah, tapi masih saja otak bejadnya rakus dan ijo matanya melihat gumpalan uang yang selalu menjadi gumpalan kolestrol dan mati mendadak serangan penyakit jantung, strok, kropos tulang, bahkan impoten sebelum waktunya, dimana semua itu adalah bentuk dicabutnya satu persatu rasa nikmat yang selama ini berasal dari Tuhan sang pencipta.

Bahkan tidak sedikit koruptor yang sudah mendekam didalam penjara, masih saja hobby mengejar uang haram melalui cawe cawe perkara alias makelar kasus dengan menggunakan jaringan kerja diluar penjara. seperti tak ada bedanya dengan terpidana narkoba yang didalam penjarapun masih gentayangan menjadi pengedar sekaligus penikmat narkoba.

Belum lagi para pengusaha ternama yang bertengger digedung mewah, tetapi bisnisnya banyak yang illegal diantaranya mengincar perkara kakap lalu telepon sana sini untuk pendekatan, lalu jika sudah berhasil, yang lain dan yang fundamen disingkirkan dan dilupakan sehingga terjadilah cikal bakal terbongkarnya kasus besar seperti Djoko Tjandra dan lainnya yang bermula dari pecah kongsi karena ada saja pihak yang serakah dan lupa diri dan akhirnya ada yang kecewa dan  bernanyi nyaring dengan membawa sejumlah bukti telak kepada aparat hukum. 

Nyatanya rakyat yang dulu sangat mendambahkan KPK bisa lebih dipercaya ketimbang lebaga atau instansi aparat hukum lainnya yang jauh lebih berpengalaam soal bargaining markus bertopengkan penyidik seperti kasus yang memalukan ditubuh KPK dari seorang berpangkat AKP bernama lengkap Stepanus Robin Pattuju, yang mengagetkan publik. Sebab, KPK yang selama ini dinilai cukup bersih malah disusupi oknum-oknum yang bermain dalam lingkaran setan yakni makelar kasus atau calo perkara yang pasti tidak bermain sendiri.

AKP Robin merupakan penyidik dari Polri yang ditugaskan di KPK. Saat ini AKP Robin tengah diproses hukum di KPK dan harus diisidangkan di Pengadilan Tipikor lalu dipenjara dengan hukuman yang sangat lama seperti mantan ketua MK Akil Muchtar, karena dianggap orang hukum tapi melanggar hukum, orang KPK tapi kok lebih bajingan dari koruptor yang terkencing kencing saat ditangkap didepan anak isterinya.karena diduga menerima suap dari Wali Kota Tanjungbalai nonaktif M Syahrial dan ini baru yang terungkap, tapi yang belum terungkapo selalu lebih dasyat lagi. Mustinya penyiidik uang memperoses Robin adalah aparat yang berasal dari keluarega miskin yang selalu dihina dan dilecehekan oleh banyak pihak tapi bisanya orang yang dihina dan rendahkan itulah yang selalu ditinggikan Tuhan.

Lebih gilanya lagi ada fakta lain yang terungkap melalui sidang pelanggaran etik AKP Robin di Dewan Pengawas (Dewas) KPK. Saat putusan kode etik AKP Robin dibacakan pada Senin, 31 Mei 2021, tersebut nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin diketahui memberikan uang ke AKP Robin untuk memantau seorang kader Partai Golkar bernama Aliza Gunado dalam perkara di Lampung Tengah.

Bisa saja seorang Azis Syamsuddin berkelit licin bagai belut apalah, tapi jika sudah ada dua alat bukti yang sah, maka ikutlah proses hukum dan ngggak usah lagi berdali sakit dan tugas sehingga lemot melangkah ketika dipanggil KPK, agar jangan sampai terjadi dipanggil Tuhan pulang kepangkuannya untuk selamanya seperti almarhun Sutan Batugana politisi parta Demokrat itu yang matinya saja sangat miris dan menjadi buah pembicaraan banyak orang.



 

Perihal apa yang terungkap di sidang Dewas KPK itu, Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri memastikan pengusutan informasi tersebut. Ali juga mengatakan bila Azis Syamsuddin segera dipanggil untuk menjalani pemeriksaan kembali dalam proses penyidikan dimana selangkah lagi Azis pun menyandang predikat tersangka, lalu menjadi terdakwa dan terpidana, dan tamatlah karier politiknya padahal masih sangat muda dan potensial sebagai pemimpin kedepan.

Apalagi terkait jumlah uang yang diduga diterima tersangka SRP (Stepanus Robin Pattuju) akan dikembangkan lebih lanjut pada proses penyidikan perkaranya yang saat ini masih terus dilakukan, Hanya tinggal waktu saja yang harus bergulir.

Sesungguhnya semenjak KPK diubah sistemnya melalui UU 19/2019 banyak SOP yang membuka ruang terjadinya potensi korupsi yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. Apa yang terjadi di kasus Robin di Medan menurut saya bukti bahwa sistem yang baru begitu mudah disusupi kepentingan, terutama bagi para pihak yang kerja KPK merasa miskin pengawasan dan tidak sekuat dulu sistemnya, sehingga mereka bisa berpikir untuk menyalahgunakan kewenangannya,

Penerimaan duit haram oleh Robin itu terungkap dalam pertimbangan putusan sidang etik yang dibacakan oleh Anggota Dewas KPK, Albertina Ho, pada Senin (31/5/2021). Dewas menyatakan Robin bersalah melanggar etik dan dipecat dari posisinya sebagai penyidik KPK.

Dalam pertimbangannya, Dewas menyebut ada duit dari berbagai pihak yang masuk ke kantong Robin. Uang itu disebut ditujukan para pemberi agar Robin membantu mengurus perkara di KPK.

"Terperiksa meminta uang dan untuk mengamankan saksi M Syahrial yang disepakati jumlahnya Rp 1,5 miliar. Untuk tahap awal sebagai biaya operasional, untuk tim, sejumlah Rp 200 juta," ucap Albertina, yang sebelum terjun sebagai anggota Dewas KPK adalah mmerupakan macan betinanya peradilan karena dialah seorang hakim perempuan yang dikenal paling berani seberani almarhum hakim agung Artidjo Al Kautsar

Dari kesepakatan tersebut, Syahrial disebut mengirim duit ke rekening seseorang bernama Rifka Amalia secara bertahap dengan jumlah Rp 1,24 miliar. Robin juga disebut menerima duit Rp 210 juta secara tunai dari Syahrial saat bertemu di Pematangsiantar.

Sehingga jumlah uang yang telah diterima adalah Rp 1.450.000.000 dan masih terdapat kekurangan Rp 50 juta. Dari jumlah uang tersebut, terperiksa menerima Rp 500 juta dan saksi Maskur Husain menerima Rp 950 juta," ucap Albertina. hakim karier yang selama ini dikenal sebagai macan betina lembaga MA yang berkiprah menjadi petinggindi KPK, walau ada seorang mantan hakim tinggi bernama Nawawi Pomolongo yang duduk sebagai wakil ketua KPK dari unsur kehakiman. Persoalannya akankah lupa diri dan menjadi sombong dan tidak bersyukur manusia yang telah ditinggikan derajatnya oleh sang Khalik Allah SWT.

Robin juga disebut menerima duit dari Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin. Duit dari Azis ke Robin disebut berjumlah total Rp 3,15 miliar.

Mantan penyidik KPK bernama Robin itu juga tersandung dalam kasus Lampung Tengah, menerima uang dari saksi Azis Syamsuddin untuk memantau kader Golkar bernama Aliza Gunado yang dalam perkara tersebut berstatus sebagai saksi," ucap Albertina yang mustinya saat ini sudah menjadi seorang hakim agung di Mahkamah Agung RI, tapi panggilan hatinya beralih ke KPK tapi sedihnya justru terbongkarlah pengkhianatan oknum penyidik KPK dan masih berderet panjang lagi yang jauh lebih edan dan ganas ketimbang seorang AKP Robin yang hanya abal abal dan kaleng kalengan tapi sudah menyikat belasan miliar dari uang jin dimakan setan terkutuk.

Emil Foster Simatupang
Penulis adalah wartawan senior yang juga dikenal sebagai seorang novelis dan kini sebagai salah satu dedengkotnya Jurnalist di Mahkamah Agung, dan penulis juga merupakan CEO Media Online Breaking News Grup dan merupakan Pimpinan Umum Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum, yang kini sedang membaktikan dirinya didunia politik sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Partai EMAS.


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved