Headlines News :
Home » » Perseteruan Antar Etnis Terbesar Sejarah Perang Dayak VS Madura

Perseteruan Antar Etnis Terbesar Sejarah Perang Dayak VS Madura

Written By Info Breaking News on Selasa, 16 Februari 2021 | 07.29

Kerusuhan Sampit, Misteri Panglima Burung dan Tradisi Kayau

Jakarta
, Info Breaking News - Kalimantan Timur khususnya di Kutai Barat beberapa waktu lalu dihebohkan dengan pembunahan seorang gadis Dayak berusia 20 tahun oleh pemuda Madura. Seperti menguak luka lama, kasus ini menyulut luka sejarah perang Dayak VS Madura belasan tahun lalu kembali perih. Ditambah motif pembunuhan dilatari oleh penolakan korban untuk berhubungan badan dengan pelaku.

Warga net yang menyimak kasus tersebut melalui media online pun cemas. Mereka khawatir tragedi berdarah di Sampit pada tahun 2001 terulang lagi. Seperti diketahui, hubungan antara Suku Dayak dan Madura memang sejak lama tidak baik. Pada 18 Februari 2001 lalu, Dayak membantai orang-orang Madura di Sampit, Kotawaringin Timur dan memakan 500 korban jiwa.

Penyebab perseteruan dua etnis ini tidak diketahui pasti, terdapat sumber yang menyebut karena kasus pencurian ayam, perkelahian remaja antar etnis, kesenjangan sosial, dan masih banyak lagi lainnya. Berdasarkan dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tragedi kerusuhan Sampit berawal dari masalah sepele, namun terus berulang terus menerus.

Konflik Sebelum Tragedi Sampit

Jauh sebelum tragedi Sampit, banyak benturan kedua suku yang memupuk dendam hingga puncaknya tumpah pada peristiwa 18-21 Februari 2001.

  • 1972 di Palangka Raya, gadis Dayak diperkosa oleh pemuda Madura.
  • 1982, seorang masyarakat Dayak dibunuh, tidak ada penyelesaian.
  • 1983 di Kasongan, satu orang warga Dayak dikeroyok 30 orang Madura.
  • 1996 di Palangka Raya, gadis Dayak diperkosa dan dibunuh di bioskop.
  • 1997 di Barito Selatan, dua orang Dayak dikeroyok 40 orang Madura.
  • 1997 di Tumbang Samba, anak laki-laki Dayak dibunuh orang Madura.
  • 1998 di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok empat orang Madura.
  • 1999 di Palangka Raya, petugas keamanan Dayak dibacok.
  • 1999 di Palangka Raya, pengeroyokan orang Dayak oleh orang Madura.
  • 1999 di Pangkut, perkelahian massal antara Dayak dan Madura.
  • 1999 di Tumbang Samba, suami-istri Dayak ditikam tiga orang Madura.
  • 2000 di Pangkut, satu keluarga Dayak dibantai orang Madura.
  • 2000 di Kasongan, seorang Suku Dayak dibunuh orang Madura.
  • 2001 di Sampit, TRAGEDI SAMPIT, pembantaian orang Madura.

Sebagian besar kerusuhan yang dilakukan oleh oknum-oknum Madura di Kalimnatan tidak diselesaikan secara tuntas oleh hukum adat atau negara sehingga memupuk rasa kecewa orang-orang Dayak. Puncaknya, meletus Tragedi Sampit pada 18-21 Februari 2001 saat Suku Dayak menuntut balas terhadap perlakuan buruk Suku Madura selama di tanah lelehur mereka.

Pembalasan Suku Dayak sungguh keji, orang-orang Madura di Sampit dibantai dengan dipenggal kepala, dibakar, dan ditusuk. Kepala-kepala yang terpisah bahkan diarak, diseret keliling Sampit. Tidak ada pihak kepolisian yang berani menghentikan kekejaman itu. Tercatat terdapat sebanyak 500 orang Madura tewas,dan lebih dari 100.000 mengungsi.

Tragedi Sampit pun meluas hingga lingkup provinsi, menyebar hingga ke Kualakayan yang berjarak 100 Km dari utara Sampit, serta Palangkaraya. Para pejuang Dayak mengkampanyekan pembersihan etnis Madura dari seantero Kalimantan Tengah sampai ke ujung jalan raya trans Kalimantan sampai ke Kuala Kapuas di tenggara, dan Pangkalanbun di sebelah barat.

Hampir 90 persen populasi orang Madura melarikan diri menyelematkan diri dari persekusi. Jumlah korban tewas pun semakin meningkat, sekitar 1300 jiwa diduga meregang nyawa. Sejarah pahit Perang Dayak VS Madura merupakan bentrokan antar suku terbesar dalam sejarah Indonesia. Saat ini Kalimantan sudah damai, meski begitu ketegangan dua suku masih ada.


Himbauan untuk semua warga negara Indonesia mari kita hargai dan hormati setiap ada t dan kebiasaan setiap daerah tanpa harus bersikap Arogan. Namun bangsa Indonesia adalah bangsa yang rakyatnya cinta damai itu terbukti dengan keberagaman suku, bahasa dan agama tetap menyatukan bangsa Indonesia dalam Kebhineka Tunggal Ikaannya yang negaranya berlandaskan pada dasar negara Pancasila.*** Lisa Afrida Fachriany


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved