Headlines News :
Home » » Moeldoko Minta RS Jangan Permainkan Data Kematian Pasien

Moeldoko Minta RS Jangan Permainkan Data Kematian Pasien

Written By Info Breaking News on Kamis, 01 Oktober 2020 | 14.51

Kepala KSP Moeldoko beserta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberi keterangan kepada awak media usai mengadakan pertemuan di
kompleks Kantor Pemprov Jateng

Semarang, Info Breaking News - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko memberi peringatan kepada seluruh pihak rumah sakit (RS) agar tidak nakal dan mempermainkan data kematian pasien selama pandemi Covid-19. Ia menegaskan perkara ini akan ditindak secara tegas agar tidak terus-terusan menimbulkan keresahan pada masyarakat.

"Tadi saya diskusi banyak dengan pak Gubernur Jateng, salah satunya adalah tentang definisi ulang kasus kematian selama pandemi. Definisi ini harus kita lihat kembali, jangan sampai semua kematian itu selalu dikatakan akibat Covid-19," kata Moeldoko, saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di kantor Pemprov Jateng, Kamis (1/10/2020).


Menurutnya, tidak sedikit pasien yang meninggal karena penyakit biasa atau kecelakaan tiba-tiba diakui meninggal karena Covid-19 oleh RS meskipun hasil tesnya negatif. "Ini perlu diluruskan, agar jangan sampai menguntungkan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dari definisi itu," tegasnya.


Hal itu juga dibenarkan oleh Ganjar. Ia mengaku isu ini sudah menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Bahkan, kejadian itu sudah pernah terjadi di Jawa Tengah.


"Tadi Pak Moeldoko tanya, itu bagaimana ya banyak asumsi muncul semua yang meninggal di rumah sakit dicovidkan. Ini sudah terjadi di Jawa Tengah, ada orang diperkirakan Covid-19 terus meninggal, padahal hasil tes belum keluar. Setelah hasilnya keluar, ternyata negatif. Ini kan kasihan, ini contoh-contoh agar kita bisa memperbaiki hal ini," tuturnya.


Untuk mengantisipasi hal itu, Ganjar menegaskan sudah menggelar rapat dengan jajaran rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa Tengah dan pihak terkait. Dari rapat itu diputuskan, untuk menentukan atau mengekspos data kematian, mereka yang meninggal harus terverifikasi.


"Seluruh rumah sakit dimana ada pasien meninggal, maka otoritas dokter harus memberikan catatan meninggal karena apa. Catatan itu harus diberikan kepada kami, untuk kami verifikasi dan memberikan statemen ke luar," kata dia.


Adanya sistem tersebut memang diakui akan menimbulkan delay (keterlambatan) terhadap data angka kematian. Namun menurutnya, delay data itu lebih baik daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


“Teknologi dan pandemi mendorong negara melakukan transformasi digital. Jika tidak, ada risiko ekonomi dan resesi dan risiko kesehatan banyak korban,” pungkasnya. ***Rina Trian


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved