Headlines News :
Home » » Sesudah Vaksin, Kini Ilmuwan Kembangkan Antibodi untuk Lawan Covid-19

Sesudah Vaksin, Kini Ilmuwan Kembangkan Antibodi untuk Lawan Covid-19

Written By Info Breaking News on Selasa, 04 Agustus 2020 | 16.12


Washington, Info Breaking News – Para ilmuwan di dunia tak henti-hentinya memutar otak untuk membantu memulihkan kondisi dunia yang kini tengah diserang virus ganas Covid-19.

 

Tidak hanya mengembangkan vaksin, kini para ilmuwan juga merancang antibodi khusus yang diharapkan dapat menyerang virus mematikan tersebut.

 

Pengembangan antibodi monoklonal yang menargetkan virus corona telah disahkan para ilmuwan terkemuka. Pakar penyakit menular AS Anthony Fauci menyebut antobodi hampir pasti dapat melawan Covid-19.

Ketika virus melewati pertahanan awal tubuh, respons lebih spesifik muncul sehingga memicu produksi sel yang menargetkan penyerang. Hal ini termasuk antibodi yang mengenali virus, dan mencegah infeksi menyebar. Antibodi monoklonal - tumbuh dalam bioreaktor - adalah salinan protein yang terjadi secara alami ini.

Hingga kini, para ilmuwan masih mencari tahu peran menetralkan antibodi dalam pemulihan Covid-19. Namun produsen obat meyakini bahwa antibodi yang tepat dapat mengubah arah virus corona

“Antibodi dapat memblokir infeksi. Itu adalah fakta,” kata Eksekutif Regeneron Pharmaceuticals, Christos Kyratsous kepada Reuters.

Regeneron sendiri kini tengah dalam tahap pengujian dua-antibodi yang diyakini membatasi kemampuan virus untuk menggandakan diri lebih dari satu. Data kemanjurannya diharapkan bisa dirilis pada akhir musim panas, atau awal musim gugur. “Perlindungan (antibodi) akan berkurang dari waktu ke waktu. Dosis adalah sesuatu yang belum kita ketahui," tutur Kyratsous.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni lalu telah memberi kontrak pada Regeneron senilai US$ 450 juta. Perusahaan mengatakan dapat segera memulai produksi obat di pabrik AS jika regulator menyetujui.

Pemerintah AS memberdayakan Eli Lilly dan Co, AstraZeneca, Amgen, dan GlaxoSmithKline untuk mengembangkan sumber daya manufaktur guna meningkatkan pasokan jika ada obat yang terbukti berhasil.

Namun ada juga perdebatan apakah antibodi tunggal cukup kuat untuk menghentikan Covid-19 yang telah merenggut lebih 675.000 jiwa secara global. AstraZeneca memulai uji coba pada manusia dengan kombinasi antibodi dalam beberapa minggu. Lilly, yang mulai menguji dua kandidat antibodi dalam ekperimen Juni lalu, memfokuskan pada satu obat. "Jika Anda membutuhkan dosis yang lebih tinggi atau lebih banyak antibodi, lebih sedikit orang yang dapat diobati," kata Kepala Ilmuwan Lilly, Dan Skovronsky.

Tidak seperti vaksin yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sendiri, dampak antibodi pada akhirnya akan menghilang. Kendati demikian, produsen obat mengatakan antibodi monoklonal untuk sementara bisa mencegah infeksi pada kelompok orang berisiko seperti pekerja medis dan orang tua. Antibodi juga dapat digunakan sebagai jembatan terapi hingga vaksin tersedia secara massif.

"Dalam pengaturan profilaksis, kami pikir dapat bertahan hingga enam bulan," kata Kepala petugas medis Vir Biotechnology, Phil Pang, yang mulai menguji antibodi pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit bulan depan.

"Keuntungan suatu antibodi pada dasarnya adalah kekebalan instan," kata Wakil Presiden Senior Sorrento Therapeutics, Mark Brunswick, yang memulai uji coba manusia pada bulan depan dengan calon antibodi tunggal.

Antibodi monoklonal sendiri memiliki risiko keamanan yang rendah meski biaya produksinya sangat tinggi. Jenis obat untuk kanker ini dapat menelan dana lebih US$ 100.000 setahun.

Ada juga kekhawatiran bahwa virus corona bisa menjadi resisten terhadap antibodi. "Kami mencoba mengembangkan sesuatu yang saling melengkapi," kata Kepala penelitian Amgen, David Reese. Amgen bekerja dengan Adaptive Biotechnologies Corp.

Para peneliti dalam sebuah makalah yang diterbitkan jurnal Nature baru-baru ini mengatakan pihaknya telah menemukan beberapa antibodi baru yang sangat kuat dan bisa diarahkan ke area di mana virus menempel pada sel manusia.

Ada juga pertanyaan kapan waktu yang tepat untuk menggunakan senjata baru ini. “Memberikan antibodi di kemudian hari setelah infeksi mungkin tidak membantu," kata profesor mikrobiologi Icahn School of Medicine New York, Florian Krammer. 

"Jika diberikan lebih awal, mungkin akan bekerja dengan baik,” pungkasnya. ***Novie Kusdarman

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved