Headlines News :
Home » » Kelelahan Jadi Faktor Utama Petugas KPPS Banyak yang Sakit Bahkan Meninggal

Kelelahan Jadi Faktor Utama Petugas KPPS Banyak yang Sakit Bahkan Meninggal

Written By Info Breaking News on Sabtu, 20 April 2019 | 14.41


Jakarta, Info Breaking News – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, Nurdin S.Pd.I menyoroti  kasus meninggalnya sejumlah petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) selama penyelenggaraan pemilu dan pilpres 2019.

Menurut Nurdin, ada beberapa faktor yang dipercaya menyebabkan petugas KPPS sakit bahkan hingga meninggal dunia. Faktor pertama adalah lantaran pemilu dan pilpres pada tahun ini digelar secara serentak untuk memilih presiden, DPR, DPRD, dan DPD yang pastinya sangat berpengaruh pada tenaga, waktu, hingga pikiran dan bukan tak mungkin menjadi beban tersendiri bagi mereka yang bertugas.

"Kemudian secara enggak langsung tingkat pekerjaan kemudian pikiran, tenaga juga harus ekstra. Di samping itu memang anggaran sama saja artinya yang diperoleh teman-teman. Walaupun pekerjaan banyak dananya sama saja (seperti pemilu sebelumnya),"  tuturnya, Sabtu (20/4/2019).

Bahkan, kata Nurdin, banyak petugas yang akhirnya memutuskan mundur lantaran tak kuat mengerjakan pekerjaan dengan porsi lebih banyak padahal anggarannya tetap sama.

Faktor lainnya adalah dengan adanya pemilihan serentak membuat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) kerepotan mengurus logistik yang sangat banyak.

"Apalagi mereka ini orang yang kita rekrut bekrja selama pemilu saja. Sehingga dia awalnya belum paham sistemnya learning by doing terus ditambah lagi ada pembatasan periodesasi PPK, PPS, dan KPPS. Sehingga yang sudah berkali-kali ikut pemilu harus kita stop dengan adanya regulasi itu," ujarnya.

Oleh karena hal itu, petugas pun banyak yang kaget terlebih tekanan pun ikut muncul dari masyarakat sebagai pemilih.

Ia mengungkapkan, petugas KPPS, PPK, dan PPS mempunyai masa kontrak kerja selama satu bulan dari 20 Maret - 20 April 2019. Mereka melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan pendistribusian C6, menyiapkan TPS minimal H-1, mempersiapkan sampai hari H, membuka TPS pada pukul 07.00 hingga 13.00, lalu melalukan penghitungan suara selambat-lambatnya selama 24 jam.

"Kemarin ada yang menghitung dari jam 1 sampai jam 8 pagi baru diantarkan kotaknya. Kondisi ini walaupun tidak bisa dijadikan alasan utama tapi namanya tenaga manusia pikiran pasti ada errornya," jelas Nurdin.

Diketahui, Nurdin menerima sejumlah laporan terkait anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang sakit hingga meninggal selama penyelenggaraan pemilu dan Pilpres 2019.

Ia menyebut, ada satu anggota KPPS yang meninggal pada malam sebelum pemilu karena kelelahan.

"Kalau sakit banyak. Kalau meninggal ada 1 orang itu yang malam sebelum pemilu dia meninggal. Di TPS di Jakbar karena kecapekan," ucap Nurdin. ***Juenda
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved