Headlines News :
Home » » Membangun Papua Dengan Ketulusan Hati

Membangun Papua Dengan Ketulusan Hati

Written By Info Breaking News on Senin, 11 Maret 2019 | 05.39

Sentani, Info Breaking News -  Bandara perkampungan yang masih sangat terbatas dengan prasarana, namun memiliki panorama alam penuh pesona dengan kehidupan anak manusia yang pekerja keras butuh bimbingan kasih dari para pengushaa lainnya membangun Papua nan indah, walau letak posisinya tidak terlalu tinggi. 
Sekitar 1.400 meter dari permukaan laut. Namun, distrik ini hanya bisa dijangkau dengan pesawat terbang. Seramnya, agar bisa mendarat, pesawat harus berputar dua-tiga kali untuk mendapatkan lorong di antara dua ngarai sebelum masuk ke landasan.
Landasan pesawat tidak beraspal. Hanya pengerasan yang dikerjakan oleh penduduk setempat bersama misionaris. Bagian ujung landasan untuk landing lebih rendah dibanding ujung yang lain. Tingkat kemiringan lapangan terbang itu sekitar 25 derajat. Ketika landing, pesawat seperti memasuki jalan menanjak. Itu dimaksudkan untuk menyiasati landasan yang pendek, hanya sekitar 400 meter.
Saat take off, pesawat bergerak dari tempat yang lebih tinggi. Posisi seperti itu membuat pesawat melaju lebih cepat dan mudah terangkat ke udara, karena tidak jauh dari di ujung landasan ada tebing curam. Jaraknya hanya sekitar 300 meter dari ujung landasan. Dengan keahlian pilot, pesawat langsung dibelokkan ke kanan, menyusuri lorong yang diapit dua tebing.
Itulah Distrik Korupun, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, ketika dikunjungi Info Breaking News, Minggu (10/3/2019). Wilayah ini terhitung terisolasi. Tidak ada jalan raya meski sekadar untuk jalan sepeda motor. Dengan pesawat terbang dari Sentani, wilayah ini bisa dijangkau dalam waktu 65 menit. Sedang dengan berjalan kaki, waktu tempuh ke Sentani bisa sekitar satu hari dan ke ibu kota Kabupaten Yahukimo sekitar dua hari.
Ujung landasan rumput di Korupun, Papua. (Primus Dorimulu)
Tidak hanya Bandara Korupun, empat bandara lainnya yang kami kunjungi juga menampilkan kondisi serupa, yakni Bandara Nalca, Bandara Karubaga, Bandara Mamit, dan Bandara Daboto. Hanya Bandara Danowage yang datar dengan runway 1.300 meter. Bandara yang terletak di dataran rendah ini sudah diaspal tahun lalu.
Bukan hanya pesawat yang harus dalam kondisi prima untuk menggapai wilayah terpencil di Papua. Pilot pun dituntut memiliki kualifikasi khusus. Mereka perlu memahami kondisi wilayah Papua yang bergunung-gunung. Tidak seperti daerah lain, gunung-gunung di Papua umumnya terjal dengan kemiringan 80-90 derajat. Pesawat yang dikendalikan harus melalui lorong di antara dua ngarai yang dalam untuk bisa mendarat di landasan pendek di tengah lembah.
Pilot harus paham cuaca yang acap berawan. Setelah pukul 14.00 WIT, awan tebal umumnya menutup gunung dan lembah. Pada hari kedua, pesawat yang ditumpangi Beritasatu.com tidak bisa mendarat di Mamit. Pilot akhirnya mengalihkan tujuan ke Karubaga dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali mencoba memasuki Mamit.
Selama tiga hari, Senin (25/2/2019) hingga Rabu (27/2/2019), awak media ikut dalam rombongan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP), di antaranya, pendiri dan ketua Dewan Pembina YPHP James T Riady dan anggota Dewan Pengelola YPHP Aileen Hambali Riady. Dengan pesawat propeler Cessna milik Mission Aviation Fellowship (MAF), kami mengunjungi Distrik Korupun, Kebupaten Yahukimo; Kotawage, Kabupaten Boven Digul; Nalca, Kabupaten Yahukimo; Karubaga, Kabupaten Tolikara; Mamit, Kabupaten Tolikara; dan Daboto, Kabupaten Intan Jaya.
Di enam distrik terisolasi ini, YPHP mengelola Sekolah Lentera Harapan (SLH) dan Klinik Siloam. Hanya di Karubaga, YPHP belum mendapatkan lahan untuk membangun klinik. Untuk membantu anak-anak dan penduduk miskin yang belum terjangkau tangan pemerintah, YPHP memberikan pendidikan dan kesehatan gratis.
Pendiri dan Pembina YPHP James T Riady (tengah) dan rombongan berfoto di landasan rumput Bandara Korupun, Papua, dengan latar belakang gunung di ujung landasan, 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)
LambanBeda dengan wilayah daratan terpencil di NTT, yang umumnya bisa dijangkau dengan menunggang kuda, di Papua tidak ada kuda. Ternak populer seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba tidak ada di Papua. Sapi hanya ada di Kawasan Marauke. Di Papua hanya ada babi, baik yang dipelihara maupun yang liar. Ini mungkin disebabkan oleh topografi Papua yang hampir setiap jengkal hanya ditumbuhi pohon. Rumput hanya tumbuh di tempat yang sudah dihuni manusia. Pada lahan yang sudah bebas dari pepohonan, rumput bisa tumbuh subur.
Masyarakat di wilayah yang sudah terhubung jalan raya menggunakan sepeda motor atau mobil angkutan umum seperti di Kurubaga, Tolikara. Isolasi yang sudah terbongkar menyebabkan kota kabupaten ini sudah cukup maju, ditandai oleh pasar yang selalu ramai oleh penjual dan pembeli. Banyak pendatang dari Sulawesi Selatan mendiami kota ini dan acapkali bentrok dengan penduduk Papua.
Isolasi menyebabkan suku Kimial yang mendiami wilayah Korupun sangat lamban berkembang. Jika ada sekolah dan pelayanan kesehatan yang baik di wilayah ini, orang Korupun tentu sudah lebih maju dari kondisi saat ini. Dengan mengirimkan anak belajar di Sentani, sejumlah orang Korupun kini sudah menjadi orang hebat. Satu menjadi bupati Yahukimo, dua anggota DPRD setempat, dua DPR RI, dan tiga orang dokter.
"Saya ingin menjadi pilot," ujar seorang siswa SD Kelas II Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Korupun, Senin (25/2/2019). Pilot adalah cita-cita anak suku Kimial. Hal itu mungkin karena besarnya peran pilot dalam memecah isolasi di wilayah mereka.
Siswa kelas II SD Lentera Harapan, Korupun, Papua, dalam foto tertanggal 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)
Penduduk suku Kimial sekitar 10.000 jiwa lebih. Mereka tinggal di gunung-gunung dan lembah. Sekitar lapangan terbang hanya ada puluhan keluarga. Di area yang tidak seberapa luas ini terdapat rumah ibadah, sekolah yang dikelola SLH dan klinik yang diasuh Siloam.
Tanah datar yang sempit menyebabkan pihak yayasan tidak mudah mendapatkan lahan untuk membangun sekolah. Namun, pengurus gereja setempat menyambut baik kedatangan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) untuk membangun SLH. Apalagi pihak YPHP juga membangun Klinik Siloam.
"Jumlah siswa TK dan SD SLH sudah 80 orang , naik dari 40 orang tahun sebelumnya," kata Theresia Saragih, guru SLH, Senin (25/2/2019). Ia bersama lima rekan seprofesi tinggal di Korupun. Semua mereka adalah alumni Teacher College di UPH.
SD yang dibangun pemerintah sudah lama ada. Namun, gedung sekolah umumnya kosong, karena para guru lebih memilih tinggal di kota kabupaten. Mereka hanya datang sekali dalam sebulan.
Lippo juga menghadirkan Klinik Siloam dengan dua perawat dan satu dokter. "Kami senang sekali mendapat bantuan pendidikan dari Sekolah Lentera Harapan dan Klinik Siloam," kata Benny Osu, tokoh masyarakat setempat.
Dikelola tiga perawat tamatan Sekolah Keperawatan UPH, Klinik Siloam di Korupun melayani para ibu dan anak serta seluruh warga setempat. Dalam sehari, mereka melayani puluhan pasien. Umumnya, masyarakat setempat terkena penyakit pernafasan, TBC, malaria, dan cacingan. Sebelum ada Klinik Siloam, tingkat kematian anak cukup tinggi.
Dari kiri: anggota Dewan Pengola Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) Aileen Hambali Riady, Minny Riady, dan Dumasi Samosir di Klinik Siloam, Korupun, Papua. (Primus Dorimulu)
Tidak Akan Pindah
Meski wilayah ini hanya bisa dijangkau oleh pesawat terbang, tidak bisa dengan moda transportasi lain, mereka tidak mau pindah. "Nenek moyang kami dari dulu tinggal di sini. Kami tidak mau pindah," ujar Benny.
Aneh juga. Wilayah Papua sangat luas. Masyarakat setempat tidak mau pindah. Menurut Benny, daerah lain ada pemiliknya, yakni suku lain. "Kalau kami pindah ke tempat lain, kami bisa berperang dengan suku lain," ungkap Benny.
Di sinilah pentingnya intervensi pemerintah. Suatu komunitas akan tetap sulit berkembang jika satu-satunya moda transportasi adalah angkutan udara yang mahal. Cepat atau lambat, konektivitas lewat jalan darat harus dibangun. Demi keadilan dan demi kebersamaan dalam dekap sayap Garuda, Korupun harus bisa dijangkau oleh moda transportasi darat.
SD Lentera Harapan di Korupun, Papua, dalam foto tertanggal 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)
PanggilanSuku Kimial mulai mengenal dunia luar, sekaligus mengenal Allah Pencipta tahun 1963 saat para misionaris masuk wilayah Itu untuk mewartakan Injil. Sebelumnya, penduduk setempat menganut animisme, yakni kepercayaan akan kekuatan roh yang ada di setiap benda.
Setahun kemudian, para pewarta membangun landasan pesawat. Kehadiran pesawat membantu pendidikan di wilayah ini. Pada tahun 1965, sekitar 12 orang Korupun sudah melek huruf. Mereka kemudian dibaptis tahun 1967.
Sebuah perubahan penting terjadi tahun 2010 saat Injil dalam bahasa setempat diterbitkan. Peringatan 50 tahun kehadiran Injil di Korupun dirayakan tahun 2013.
Pendiri dan Pembina Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) James T Riady (kiri) bersama para siswa SD Lentera Harapan di Korupun, Papua, 25 Februari 2019. (Primus Dorimulu)
Masuk tahun 2017, YPHP langsung membangun SLH dan Klinik Siloam. "Kami sangat berterimakasih kepada Yayasan yang sudah menghadirkan sekolah dan klinik," ujar Benny.
Tidak seperti yang lainnya, demikian Benny, pendidik SLH dan tenaga medis Klinik Siloam sangat menyenangkan. Mereka tidak saja diterima, melainkan disayang penduduk setempat.
Merespons pernyataan Benny, James T Riady mengatakan, bagi dirinya dan keluarganya, keterlibatan dalam upaya memajukan sesama Saudara di Papua adalah sebuah keistimewaan. "Allah mencintai orang Koropun. Apalagi orang Korupun sudah memiliki iman sejati. Kami sangat berbahagia ikut megambil bagian dalam pelayanan ini," kata James.*** Tim BS.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved