Headlines News :
Home » » Bagaimana Karakter Asli Manusia Nusantara?

Bagaimana Karakter Asli Manusia Nusantara?

Written By Info Breaking News on Senin, 11 Maret 2019 | 16.41

Ilustrasi Manusia Nusantara
Jakarta, Info Breaking News – Sebelumnya, mari kita mundur sejenak ke masa pra-sejarah, dimana ketika kepulauan di wilayah Nusantara ini masih tersambung satu sama lain dan diantara pulau besar tersebut mengalir sungai-sungai besar.

Di bantaran sungai-sungai besar tersebut tinggal kelompok-kelompok orang yang sudah terikat dalam ikatan tradisi dan pola kemasyarakatan yang sederhana. Mereka mengisi hidupnya dengan cara barter antar kelompok untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka selalu berhubungan dengan kelompok lain di seberang sungai dan selalu menjaga hubungan baik antar satu sama lain.

Satu hal yang mengikat mereka pada masa itu adalah mereka selalu menyebut diri mereka "anak air".  Inilah yang membuat mereka merasa bersaudara satu sama lainnya. Sesama anak air ini selalu bersilaturahmi menjaga hubungan baik mereka karena mereka ada kepentingan barter kebutuhan, sekaligus menjaga hubungan baik secara kekeluargaan.

Hingga jaman es mencair, air laut bergerak masuk ke dalam aliran sungai mengikuti pergerakan bumi, dan pulau-pulau besar itu secara perlahan menjadi terpisah dan dibatasi oleh laut yang mengisi aliran sungai besar tadi. Pulau-pulau itu akhirnya menjadi terpisah oleh laut dan jarak antaranya semakin jauh.

Meskipun terpisah oleh lautan, anak-anak air tersebut tetap menjaga hubungan baik mereka dan selalu berusaha yang terbaik dalam menerima kedatangan anak air dari seberan.  Begitu pula ketika menyeberang, mereka selalu bersikap sebaik mungkin agar bisa diterima dengan baik oleh saudaranya di seberang.

Hal inipun merupakan bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa maritim yang telah menggunakan jalur pelayaran untuk berdagang secara barter dan selalu menigkatkan kualitas kendaraan laut yang mereka gunakan dari masa ke masa.

Rully Rahadian
(Wakil Ketua Umum PWOIN dan Ketua Lembaga Konservasi Budaya Indonesia)


Perahu bercadik merupakan peninggalan otentik sebuah inovasi teknologi pada masa itu, termasuk sistem navigasi yang menggunakan pergerakan alam dan tata surya. 

Dari sekelumit kisah tersebut, kita bisa menyimpulkan bagaimana karakter bangsa kita secara sederhana, yaitu EMPATIK. Manusia Nusantara yang secara berabad-terbentuk oleh faktor geografis tetap menjaga rasa empati terhadap saudaranya masing-masing.

Namun ketika bangsa asing yang pada awalnya ingin berniaga, melihat keramahan dan ketulusan bangsa ini, berubah pikiran ingin menguasai bangsa besar dan kaya ini dengan cara mengadu domba. Bahkan dengan perang fisik yang menumpahkan darah pun turut  dilakukannya. Ikatan emosional anak bangsa yang telah terbentuk berabad-abad ini diluluhlantakkan dengan cara mengadu domba.

Kini, di jaman modern ini, konsep adu domba masih dijalankan oleh para aktor dunia yang ingin menguasai Indonesia. Strategi Psychopolitics dalam medan Asymmetric Warfare atau perang asimetris ini mampu mengubah pola pikir masyarakat secara cepat, dengan biaya relatif murah, tanpa bumi hangus tetapi merontokkan idelogi dan nilai-nilai kebangsaan yang telah dibangun lama.

Kita sebagai warga negara yang paham dan sadar akan hal tersebut sudah seharusnya mengantisipasi kemungkinan terburuk dari situasi seperti ini. Paling tidak, kita mampu menjaga kelompok terkecil kita yaitu keluarga. Jauhkan keluarga kita, lingkungan kita, komunitas kita, dari ancaman perpecahan bangsa. Beda pilihan dalam kehidupan adalah sebuah kewajaran. Apalagi dalam kehidupan yang semakin kompleks, kebutuhan manusia tidak sekesar makan dan tidur. Ada sosialisasi, bisnis, politik dan sebagainya. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai pemecah persatuan persaudaraan dan kekeluargaan kita.

Mari kita jaga karakter empatik bangsa kita yang sudah menjadi karakter turun temurun dari para leluhur kita. Jangan pernah kita terpengaruh hasutan, kabar kebohongan dan fitnah dari luar maupun dalam lingkungan kita sendiri. Selalu waspada dan selalu mencari sumber informasi yang jelas, berbagai kearifan lokal kita mengajarkan agar kita tidak tersulut emosi ketika mendengar berita yang tidak sesuai keinginan kita. Lihat, dengar, pahami dan rasakan. Imbangi rasio kita dengan rasa. Jaga persaudaraan dan keragaman kita. Inilah aset bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia.  ***Rully Rahadian 

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved