Headlines News :
Home » » Bareskrim Tangkap Debt Collector VCard Abal Abal

Bareskrim Tangkap Debt Collector VCard Abal Abal

Written By Info Breaking News on Rabu, 09 Januari 2019 | 08.20

Jakarta, Info Breaking News - Keluhan para nasabah pinjaman online yang merasa terjebak dengan besarnya tunggakan yang terus berbunga dan kasarnya praktik penagihan utang mendapatkan jalan terang.
Dit Siber Bareskrim membekuk empat orang tersangka dari VCard Technology Indonesia yang bergerak dalam usaha peer to peer lendingdengan nama Vloan. Mereka yang berprofesi sebagai debt collector itu ditangkap secara terpisah.
Mereka adalah Indra Sucipto yang dibekuk pada 29 November di Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat dan Panji Joliandri alias Kevin Januar ditangkap 3 Desember di Jalan Jati Jajar, Depok, Jawa Barat.
Lalu ada Roni Sanjaya alias X_X ditangkap 6 Desember 2018 di Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat dan Wahyu Wijaya alias Ismedchaniago ditangkap 10 Desember 2018 di Kembangan Utara, Jakarta Barat.
Ini adalah buntut dari laporan minimal tiga korban. Salah satunya LP/B/1380/X/2018/Bareskrim tanggal 27 Oktober 2018 dengan pelapor bernama Ivo Wulandarisa BR Purba.
Menurut Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul PT. VCard Technology Indonesia mempunyai server aplikasi yang terletak di daerah Zheijang, China dengan hosting server di Arizona dan New York, USA.
“Vloan juga memiliki nama lain yaitu Supercash, Rupiah Cash, super dana, Pinjaman Plus, Super dompet, dan super pinjaman. Pada saat nasabah mendownload aplikasi pinjaman Vloan nasabah mengikuti dan menyetujui seluruh aturan yang ada di aplikasi agar pinjaman dapat disetujui oleh perusahaan itu,” kata Ricky di Dit Siber, Cideng, Selasa (8/1).
Setelah menyetujui persyaratan tersebut, maka seluruh data yang ada dalam ponsel nasabah dapat diakses dan disedot oleh melalui aplikasi Vloan. Berbekal data inilah, jika kelak nasabah tidak dapat melunasi pinjaman mereka, maka informasi jika nasabah berutang dan menunggak utang akan disebar.
Data yang diambil tersebut di luar data yang harus dicantumkan oleh nasabah pada saat peminjaman. Data yang dicantumkan itu misalnya nama (sesuai KTP), NIK, tanggal lahir, alamat, rekening bank, pekerjaan, ID card tempat bekerja, dan swafoto pemohon dengan memegang KTP dan emergency contact ( lima nomor telepon).
“Jika ada nasabah yang telah jatuh tempo melakukan pembayaran pinjaman uang diatas 30 hari serta tidak dapat dihubungi maka para DC (Desk Collection) ini akan membuat grup Whatsapp dan mengundang nomor nasabah dan nomor–nomor teman maupun keluarga dari nasabah yang diambil dari kontak hanphone nasabah,” sambungnya.
Dari sini teror dimulai dimana pihak Desk Collector akan menyampaikan pesan berbau pornografi atau sexual harassmentkepada korban yang sudah tergabung dalam group yang dibuat oleh Desk Collector.
Desk collector lainnya yang tergabung dalam group Whatsapp ikut-ikutan membuat suasana semakin panas dan memberikan tekanan batin kepada korban.
“Tujuannya agar nasabah merasa cemas dan khawatir dengan segala tindakan baik yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh para tersangka dengan harapan dari mereka yang menunggak akan langsung membayar tagihan pinjaman,” pungkasnya.*** Ira Maya.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved