Headlines News :
Home » » Bahhhh PLN Ternyata Punyata Utang Rp 500 Triliun, Tapi Dirutnya Bilang Masih Aman

Bahhhh PLN Ternyata Punyata Utang Rp 500 Triliun, Tapi Dirutnya Bilang Masih Aman

Written By Info Breaking News on Jumat, 18 Januari 2019 | 08.42

Prabowo Subianto
Jakarta, Info Breaking News - Publik baru tau kalau PLN ternyata memiliki uyang yang cukup besar hingga mencapai Rp 500 Triliun. Pantasan aja tarif dasar Listik semakin berat dirasakan oleh rakyat. 
Apalagi hal itu disinggung oleh Capres Prabowo yang menyebutkan utang PT PLN (Persero) sudah tidak sehat lagi. Ini jelas berbahaya. Pernyataan Prabowo bisa dikatakan benar. Artinya masih banyak PR yang harus dibenahi perusahaan pelat merah itu agar tidak bangkrut ke depannya.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov melihat ada dua kondisi yang dihadapi PLN. Pertama, kondisi PLN tengah mengalami tekanan internal. Mulai dari biaya produksi dari BBM dan batubara. Sehingga harga BBM naik di tahun 2018, ini disebabkan pengaruh minyak dunia dan pelemahan rupiah.
Kedua, PLN sebagai BUMN juga turut diintervensi pemerintah, seperti harga tarif listrik. Hal ini memang untuk menjaga daya beli masyarakat dan tidak memberatkan rakyat. Menurut dia, membebani laba PLN. Selain itu, juga ada proyek 35.000 MW.
"Dari sisi lain, bukan pasokan listrik yang kurang tapi distribusinya. Artinya PLN tidak mampu menjual produksi tidak sampai 100 persen. Ada pos-pos listrik di daerah yang tidak terserap di masyarakat," jelasnya kepada wartawan.
Kendati kondisi PLN terbilang aman. Karena memiliki modal atau Debt to Equity Ratio (DER) sebesar Rp900 triliun. Sementara utang PLN Rp500 juta. Menurut dia jangan terlena. Karena risiko rugi tengah menghantui.
"Walaupun kondisi finansial aman. Kita tidak lupa risiko sumber pendapatan PLN seperti apa? Artinya ada yang terbuang dengan sia-sia," kata dia.
Yang dimaksud dia terbuang dengan sia-sia adalah hasil produksi yang belum digarap lantaran transimisi listrik blum merata hingga ke pelosok daerah.
"Juga harga listrik PLN masih lebih mahal dari negara lain. Nah itu membuat daya saing kita kalah. Energi listrik jadi persoalan," ujar dia.
Dia menambahkan, karena masalah itu sebabkankekhawatiraninvestor akan lari, dan memilih negara lain yang jauh lebih murah.
"(Iya) dikhawatirkan untuk sektor industri mahal. Ini jadi pertimbangan juga. Begitu pun masyarakat akan melakukan seefisien mungkin penggunaan listrik. Ini malah jadi rugi, karena tidak kompetitif," jelas dia.
Menanggapi kekhawatiran beberapa pihak termasuk Capres nomor urut 02 terhadap utang PLN yang dianggap mengerikan. Direktur PLN Sarwono Sudarto memastikan, bahwa utang PLN masih terbilang aman. Indikator ini dilihat dari modal Rp 900 triliun. Sementara utang PLN Rp 500 triliun.
'Artinya modal masih di kisaran 0,55. Sedangkan utang hanya sekitar 55 persen dari modal," kata dia, belum lama ini..
Sarwono menjelaskan, utang dikatakan dalam kondisi berbahaya apabila modal mencapai angka 3, yaitu ketika utang mencapai 3 kali lipat dari modal.
"Utang itu, ukurannya Debt to Equity Ratio. Maksimal 300 persen. Jumlah utang dibagi modal tidak boleh lebih 300 persen. Kita sudah melakukan revaluasi aset sehingga utang tinggal 50 persen dari modal. Modal kita Rp 900 triliun, bisa pinjam sampai Rp 2.000 triliun masih aman," papar dia.
Terkait kerugian PLN sebesar Rp18,4 triliun pada kuartal III 2018, dia menjelaskan karena dipengaruhi oleh kurs. Sebab utang-utang PLN dipengaruhi oleh perubahan kurs. Terpenting, kata dia, laba operasional PLN masih untung Rp9,6 triliun.
"Misalnya kami pinjam 30 juta dolar AS, kurs dolar AS waktu kita pinjam beberapa tahun lalu masih Rp10 ribu, bayarnya masih 30 tahun lagi. Hari ini kurs dolar AS Rp14 ribu. Dibukukan sekarang, jadi besar sekali. Enggak ada masalah, yang penting operasional kita untung," tutur dia.
Klaim pihak PLN bahwa utang Perseroan masih dalam kondisi aman diaminkan oleh Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah. Menurut dia, utang PLN Rp500 triliun relatif. Artinya jika dia yang berutang tinggi. Sedangkan untuk negara tidak.
"Jadi relatif ya. Kita sebagai orang yang objektif tidak seperti itu. Nilai Rp500 triliun tidak bisa dilihat besar atau kecil. PLN ini sebuah perubahan bisa mengaliri listrik dari Sabang sampai Merauke," ujarnya.
Dia meminta harus melihat PLN secara konperensif tidak hanya dari sisi utang. Dia menjelaskan, jika melihat utang harus dibandingkan dengan aset sebesar Rp1.300 triliun, modal Rp900 triliun. Artinya secara finansial kondisi PLN masih aman karena punya aset.
"Equity Rp900 triliun, masih sangat bagus. Berarti net kekayan negara Rp400 triliun. Nah kondisi keuangan masih aman," jelas dia.
Begitu pun kata dia, kondisi kinerja operasional PLN masih menghasilkan keuntungan sebesar Rp9,6 triliun di tahun 2018. Tetapi sambung dia, yang dihadapi PLN memberikan jasa listrik kepada masyarakat mendapatkan iuran dalam bentuk rupiah. Sementara PLN berutang dalam bentuk dolar.
"Sehingga dapat beban kurs. Inilah yang menyebabkan PLN rugi besar. Rugi sekitar Rp7 triliun per net dikarenakan kurs," pungkas dia. *** Jerry Art.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Music Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved