Headlines News :
Home » » Kereta Mewah Menuju ke Bandara Selalu Kosong Penumpang

Kereta Mewah Menuju ke Bandara Selalu Kosong Penumpang

Written By Infobreakingnews on Selasa, 16 Oktober 2018 | 07.04

Jakarta, Info Breaking News - Kereta bandara relasi Stasiun Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta dianggap belum sesuai ekspektasi.
Hal ini terlihat dari sepinya penumpang yang menggunakan jasa angkutan tersebut. Hal senada juga dirasakan mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Edy Haryoto, yang memprakarsai kereta bandara kala itu.
Edy mengatakan, ada beberapa hal yang tak sesuai ekspektasinya saat menelurkan ide itu. Salah satunya soal okupansi penumpang yang jauh dari target.
"Beberapa hari lalu dapat kiriman kliping berita luar negeri, disebutkan KA Bandarahanya okupansi 40 persen" ujar Edy di kantor pusat Railink Jakarta, Selasa (16/10).
"Saya kan merasa disalahi, belum mencapai target," lanjut dia. Edy memakluminya karena kereta bandara baru berjalan delapan bulan.
Ia mengatakan, saat baru mulai disampaikan idenya pada 2002, ia membayangkan ada stasiun yang terintegrasi langsung dengan terminal-terminal di bandara. Sehingga penumpang kereta bandara merupakan orang-orang yang sudah pasti akan beraktivitas di bandara untuk bepergian ke tempat lain.
Dengan demikian, proses check in juga bisa dilakukan di stasiun kereta bandara. "Di sini sudah bicara dengan groundhandling sehingga bagasi sudah diurus. Jadi udah on board. Itu yang belum terjadi," kata Edy.
Namun, yang terjadi saat ini kereta bandara berakhir di area terpisah dengan terminal di bandara. Penumpang harus naik laigi sky train untuk sampai ke terminal yang dituju. "Setelah itu masih harus seret koper. Terminl III digebukin karena terlalu jauh," lanjut dia.
Saat dirinya masih menjadi Dirut KAI saat itu, Edy membayangkan kereta bandara merupakan suatu moda khusus. Karena itu ia mengatur agar jalurnya tak mengganggu relasi kereta reguler. Keret tersebut spesial, sehingga rutenya menjauh dari stasiun-stasiun di sekitar bandara, seperti Tangerang.
Faktanya, cukup banyak pengguna kereta bandara tujuannya menuju bandara Soekarno-Hatta. Sebagian memanfaatkan kereta tersebut menuju stasiun yang dilintasi kereta tersebut, yakni Stasiun Sudirman Baru, Stasiun Duri, dan Stasiun Batu Ceper. Persoalan lainnya adalah letaknya yang dianggap kurang strategis.
Edy mengaku sedikit kebingungan untuk aksses masuk stasiun. Letaknya juga agak tersembunyi di bawah kolong terminal jalan Jenderal Sudirman. Hal ini membuat stasiun tersebut sulit dijangkau dengan kendaraan umum karena letaknya agak jauh dari terminal Trans Jakarta.
"Tapi kalau nanti udah jadi satu, sentralized, ada MRT, insya Allah akan jauh lebih baik," kata Edy. Edy mengatakaan, kritiknya tersebut bukan berarti menyalahkan apa yang telah dilakukan Railink.
Ia yakin hal-hal tersebut masih bisa diperbaiki ke depannya. Edy juga telah menyurati Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, mempertanyakan sebenarnya status kereta bandara adalah murni angkutan ke bandara atau komuter.
Pasalnya, ia merasa keberadaaannya kini menggeser peran komuter karena penumpang yang ke arah Duri atau Batu Ceper lebih memilih naik kereta bandara ketimbang Commuter Line. "Ya tidak apa-apa sih, daripada tidak nambah penumpangnya," kata Edy.*** Nadya.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved