Headlines News :
Home » » Peristiwa Sejarah Yang Paling Memiluhkan Inilah Membuat Mereka Menolak Diganti Bandara Silangit diganti Nama Raja Sisingamangaraja XII

Peristiwa Sejarah Yang Paling Memiluhkan Inilah Membuat Mereka Menolak Diganti Bandara Silangit diganti Nama Raja Sisingamangaraja XII

Written By Infobreakingnews on Senin, 10 September 2018 | 07.44

Muara Nauli, Info Breaking News - Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan mengganti nama Bandara Internasional Silangit menjadi Bandara Internasional Raja Sisingamangaraja XII berdasarkan Keputusan Menhub Nomor KP 1404 Tahun 2018 tertanggal 3 September 2018 mendapat penolakan dari tokoh masyarakat sekitar bandara, karena ternyata nama Silangit itu memiliki arti yang sangat dalam sebagai tumpah darah para leluhur mereka secara menyedihkan dimasa lalu
Pongat Simanjuntak, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan penolakan masyarakat itu didasari atas nama keramat Silangit yang dinilai sebagai tanda keselamatan tubuh dan jiwa.
Menurut Pongat, kata Silangit berasal dari satu ungkapan dalam bahasa batak, yakni 'Silang di langit' disingkat Silangit yang memiliki terjemahan 'Salib di langit', yang dimaknai sebagai simbol keselamatan.
"Muasal kata Silangit lahir sebagai ungkapan keselamatan tubuh dan jiwa saat menyikapi sisa kepedihan di masa penjajahan Belanda yang dicetuskan para orang tua kami terdahulu," terang Pongat Simanjuntak, kepada Info Breaking News, Senin (10/9).
Saat masa penjajahan, kata dia, telah menimbulkan banyak korban nyawa dari keturunan klan 'Sibagot ni Pohan' yang mendiami kawasan tersebut.
"Saat anak bertanya keberadaan ayahnya pada setiap ibundanya, jawabnya sudah pasti 'Silang di langit i amang inang haporusan' (Salib di langit itulah Nak keselamatan)," sebutnya.
Jawaban dari sang ibunda merupakan wujud kepasrahan kepada Tuhan demi keselamatan jiwa setiap suami, ayah, dan pejuang lainnya yang pada saat itu diduga tewas di tangan penjajah tanpa diketahui keberadaan jasadnya.
Semangat ungkapan keselamatan jiwa tersebut akhirnya disepakati bersama oleh keturunan 'Sibagot ni Pohan' yang terdiri dari 12 marga, yakni Tampubolon, Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan Pardede, untuk diresmikan sebagai nama kawasan yang saat ini menjadi lokasi keberadaan bandara.
"Itulah alasan bagi keturunan 'Sibagot ni Pohan' untuk meresmikan nama kawasan tersebut menjadi Silangit dengan keberadaan sebuah sumur pertanda sumber air bersih pembasuh duka setiap ibu yang ditinggal mati suaminya," jelasnya.
Semangat penamaan Silangit demi keselamatan yang dicetuskan para pendahulunya, menurut Pongat, juga telah menginspirasi masyarakat setempat untuk mendukung semangat pembangunan hingga warga keturunan 'Sibagot ni Pohan' ringan tangan menghibahkan lahan demi keberadaan bandara.
"Namun, bila nama bandara diganti, hal itu telah menghianati nilai semangat yang selama ini ada. Makanya, kami menolak pergantian ini dan akan bertindak tegas untuk menyikapinya," ungkap nya secara tegas.

Oleh karena itu, diharapkan pihak pemerintah pusat bisa mempertimbangkan hal yang sangat luar biasa ini, apalagi mengingat bahwa lahan tanah bandara internasional itu justru dihibahkan oleh ke 12 Marga Batak itu kepada Pemerintah. *** Eva Tampubolon.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved