Headlines News :
Home » » Organisasi Minyak Dunia Cemaskan Resiko Kenaikan Harga

Organisasi Minyak Dunia Cemaskan Resiko Kenaikan Harga

Written By Infobreakingnews on Sabtu, 02 Juni 2018 | 08.36

Paris, Info Breaking news -  Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menilai prospek pertumbuhan ekonomi dunia saat ini cerah. Akan tetapi, risiko spesifik dapat membahayakan kemajuan yang telah lama ditunggu dan diharapkan risiko tersebut bisa ditekan sedemikian rupa.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global mendekati rata-rata jangka panjang sebesar empat persen yang merupakan kecepatan jelajah yang dicapai sebelum krisis keuangan, OECD's 2018 Economic Outlook melaporkan. Pengangguran di seluruh 35 negara anggota yang sebagian besar dianggap sangat maju, berada pada titik terendah sejak 1980.


Tetapi kombinasi harga minyak yang meningkat, ketegangan perdagangan, dan kerentanan pasar keuangan dapat bersatu di tengah lingkungan pengetatan moneter, mengeja potensi bencana. Sedangkan ekspansi ekonomi masih didorong oleh suku bunga rendah dan stimulus fiskal yang artinya lebih rentan terhadap perubahan pasar dan politik.

"Ekspansi ekonomi akan berlanjut untuk dua tahun mendatang dan prospek pertumbuhan jangka pendek lebih menguntungkan. Namun, pemulihan saat ini masih didukung oleh kebijakan moneter yang sangat akomodatif termasuk oleh pelonggaran fiskal," kata Sekretaris Jenderal OECD Jose Angel Gurria, seperti dikutip dari CNBC, Jumat, 1 Juni 2018.


Harga minyak dunia telah meningkat secara signifikan pada tahun lalu, dan jika mereka terus mengikuti tren ini -beberapa ahli memperkirakan kembali ke USD100 per barel- pergerakan ekonomi akan melihat tekanan inflasi yang serius dan pertumbuhan rumah tangga yang lebih rendah, kata laporan itu.

Karena bank sentral menjauh dari pelonggaran moneter dan menaikkan suku bunga terutama di AS maka normalisasi ini dapat mengekspos kerentanan ekonomi yang diciptakan oleh tahun pengambilan risiko keuangan dan memuncaknya utang. Apalagi, utang publik dan swasta berada pada rekor tertinggi.

Untuk mengatasi hal ini, OECD menekankan perlunya reformasi struktural dan kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan berinvestasi dalam inovasi.

"Stimulus fiskal hanya bagus untuk sementara waktu. Gagasan tentang utang yang tinggi jelas merupakan destabilizer ekonomi. Jawabannya adalah pertumbuhan ekonomi yang solid yang melampaui pertumbuhan yang didorong oleh stimulus dan itu didasarkan pada fundamental," kata Ketua Komite Penasihat Bisnis dan Industri OECD Phil O'Reilly.*** Novie Koesdarman.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved