Headlines News :
Home » » Waspadai Kondisi Air dan Sanitasi Buruk Timbulkan Penyakit Stunting

Waspadai Kondisi Air dan Sanitasi Buruk Timbulkan Penyakit Stunting

Written By Infobreakingnews on Sabtu, 26 Mei 2018 | 07.58

Jakarta, Info Breaking News - Selain gizi buruk, kondisi air dan sanitasi yang buruk turut menyebabkan tingginya angka stunting terhadap anak di Indonesia. Padahal, air dan sanitasi bersih menjadi tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang harus terpenuhi di tahun 2030.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat, sebanyak 8,9 juta anak balita mengalami stunting. Stunting adalah kondisi anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya akibat asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama sebagai dampak dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
"Dalam SDGs di tahun 2030 disebutkan, setiap negara harus memastikan ketersediaan sumber daya air dan sanitasi yang bersih bagi warga negaranya," ujar Direktur Eksekutif Asia Pacific Center for Ecohydrology United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Apce-UNESCO), Ignasius Dwi Atmaja Sutapa, di Jakarta, Jumat (25/5).
Menurut Ignasius, dalam riset Kementerian Kesehatan (Kemkes), stunting bisa disebabkan gizi buruk (40 persen) dan tidak adanya air bersih dan sanitasi buruk (60 persen).
"Jika hanya asupan gizinya saja yang baik, sedangkan air dan sanitasi buruk seperti terbuang begitu saja. Diibaratkan dapat makanan bagus tapi peralatan dan airnya kotor, ya tidak ada penyerapan gizi di pencernaan," tambahnya.
Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menyebutkan, untuk mengatasi krisis air nantinya, konsep ekohidrologi perlu dibuat. "Dalam konsep ini, air dan sanitasi bersih bisa diciptakan," katanya.
Apalagi, lanjut Ignasius, air bersih merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia untuk memenuhi standar kehidupan secara sehat. Masyarakat yang tercukupi kebutuhan air bersih akan terhindar dari penyakit yang menyebar lewat air dan memiliki hidup yang berkualitas.
Menurutnya, ekohidrologi adalah pendekatan pengelolaan sumber daya air terpadu dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan. Ekohidrologi mempertimbangkan aspek hidrologi, ekologi, ekoteknologi dan budaya.
"Dalam model terpadu, masyarakat perlu diedukasi untuk lebih peduli. Tidak lagi membuang sampah domestik dan limbah pabrik ke sungai. Saat ini saluran air masih dianggap tempat sampah," kata Ignasius.
Pilot project ekohidrologi sendiri, sudah diterapkan di Waduk Saguling, Bandung Barat dalam kategori daerah aliran sungai. Sementara itu, untuk di daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur, Ignasius mengaku masih melakukan pemetaan lokasi.
"Ekohidrologi nantinya bakal menyediakan ketersediaan air bersih yang berkelanjutan," pungkasnya.*** Candra Wibawanti.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved