Headlines News :
Home » » Tertekan, Lebih dari 500.000 Warga Jepang Menderita "Hikikomori"

Tertekan, Lebih dari 500.000 Warga Jepang Menderita "Hikikomori"

Written By Infobreakingnews on Minggu, 28 Januari 2018 | 13.20


Tokyo, Infobreakingnews -  Terhitung sekitar 500.000 warga Jepang menderita "hikikomori" akibat tekanan sosial yang begitu hebat di negeri matahari terbit tersebut.

Hikikomori sendiri merupakan sebutan untuk kondisi kejiwaan di mana seseorang menutup diri di rumah dan menghindari kontak sosial. Secara teknis, Pemerintah Jepang mengkategorikan hikikomori sebagai orang yang tidak meninggalkan rumahnya atau berinteraksi dengan orang lain selama enam bulan.

Hikikomori bisa hadir dalam berbagai bentuk. Salah satu bentuk adalah kemalasan atau ketiadaan energi untuk meninggalkan sofa, bahkan untuk pergi ke toilet. Hikikomori juga bisa hadir dalam bentuk gangguan obsesif kompulsif. Salah satu penderitanya bercerita kepada NY Times, bahwa dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mandi atau bersih-bersi lantai kamar mandi. Ada juga yang tidak pernah keluar rumah karena main video game sebagai "terapi bius". Salah satu hikikomori, Kyoko, bercerita kepada Nippon.com, bahwa tekanan sosial dari orangtuanya dan dari kehidupan sehari-hari membuatnya menutup diri dari dunia.

Profesor Jeff Kingston dari Temple University di Tokyo, mengatakan kepada Business Insider, bahwa penderita hikikomori umumnya adalah para pria lajang dan berasal dari keluarga menengah.

"Hikikomori dianggap gangguan jiwa untuk kelas menengah karena penderitanya masih tinggal bersama orangtua yang menyokong mereka di rumah," kata Kingston.

Menurut statistik resmi pemerintah, pada tahun 2015 terdapat 541.000 hikikomori berusia 15-39 di Jepang. Jumlah ini bisa lebih besar karena banyak keluarga yang enggan melaporkan kondisi ini kepada pemerintah. Peneliti di Jepang mulai mengamati perilaku ini sejak tahun 1980-an.

Penyebab hikikomori bermacam-macam, bisa karena nilai ujian yang jelek atau karena putus cinta. Secara ekonomi, kondisi ini menghambat pertumbuhan ekonomi Jepang karena mereka menjadi pengangguran dan mengurangi angkatan kerja. Ketika keluarga tidak mampu lagi merawat mereka, maka mereka menjadi tanggungan negara. Apalagi saat ini, Jepang kekurangan tenaga kerja, di mana lapangan kerja yang tersedia 1,5 kali lebih banyak dari calon tenaga kerja.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Jepang menciptakan pusat konseling dan mengirimkan pekerja sosial ke rumah untuk berbicara dengan para hikikomori. Kelompok-kelompok sukarela juga mulai bermunculan.


Kondisi gangguan jiwa menjadi salah satu topik diskusi di World Economic Forum (WEF) 2018 di Davos, Swiss. ***Nadya
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved