Headlines News :
Home » » Perang Syaraf Malaysia - Korea Utara

Perang Syaraf Malaysia - Korea Utara

Written By Infobreakingnews on Rabu, 08 Maret 2017 | 09.06

Kuala Lumpur, infobreakingews - Hubungan Korea Utara dan Malaysia kian tegang. Setelah Malaysia memanggil pulang duta besarnya untuk Korea Utara di Pyongyang, hubungan kedua negara semakin panas.


Kedua pihak saling curiga pasca pembunuhan Kim Jong Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Puncaknya Malaysia memanggil pulang duta besarnya dari Pyongyang, Senin (20/2/2017).
Menurut Kantor Berita Negara KCNA mengatakan, pada Selasa 7 Maret 2017, semua warga negara Malaysia yang berada di Korea Utara dilarang meninggalkan Korea Utara.
Mereka harus tetap tinggal di Korea Utara hingga kasus Kim Jong-nam selesai. Saat ini banyak warga Malaysia yang terkatung-katung di Bandara International Pyongyang, Korea Utara.
Sebagai tanggapan atas larangan itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi kemudian menyatakan akan melarang semua staf Kedutaan Korea Utara dan diplomat meninggalkan negaranya.
Pyongyang dan Kuala Lumpur telah berselisih atas pembunuhan oleh dua wanita menggunakan racun pelumpuh syaraf VX nerve agent di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada 13 Februari 2017.
Malaysia mengusir Duta Besar Korea Utara sebagai dampak ketegangan diplomatik yang melonjak. Pyongyang lalu membalas pada Senin malam, yang secara resmi memerintahkan mengusir Dubes Malaysia.
Wakil Kepala Polisi Diraja Malaysia, Noor Rashid Ibrahim, mengatakan pekerja di bandara  menyampaikan cerita yang diungkap Kim Jong Nam, bahwa "dua perempuan tak dikenal telah mengusap wajahnya dengan cairan dan ia merasa pusing karenanya."


Pihak berwenang Malaysia telah mencoba bersama-sama mengumpulkan rincian kasus pembunuhan itu sejak kematian Kim Jong Nam pekan lalu. Sejauh ini Polisi Malaysia menangkap empat orang yang membawa dokumen identitas Korea Utara, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.
Penyidik mencari empat orang Korut yang terbang keluar dari Malaysia pada hari bersamaan dengan serangan itu, demikian dinyatakan Noor Rashid. Ia mengatakan, orang-orang itu tiba di Malaysia pada hari yang berbeda-beda, mulai  31 Januari dan terbang ke luar negeri Senin (13/2/2017). 
"Saya tidak akan mengungkapkan di mana mereka berada," katanya kepada wartawan, sambil menambahkan bahwa Interpol telah membantu penyelidikan.Empat orang yang dimaksud berusia antara awal 30-an hingga 50-an. Mereka bepergian dengan paspor biasa bukan paspor diplomatik, tambah polisi Malaysia.
Para pejabat Indonesia mengatakan tiga dari orang-orang tersebut transit di Bandara Soekarno-Hatta International Airport, Jakarta sesaat setelah serangan, lalu meninggalkan bandara dengan penerbangan pukul 10.20 menuju Dubai.
Orang keempat terbang dari Jakarta pada hari Minggu (19/2/2017)  menuju ke Bangkok, demikian menurut juru bicara kantor imigrasi Indonesia, Agung Sampurno.
Hasil otopsi Kim Jong Nam baru bisa dirilis setidaknya hari Rabu (22/2/2017). Penyidik sangat ingin berbicara dengan kerabat terdekat Kim Jong Nam untuk mengidentifikasi tubuh korban.
Diketahui Kim Jong Nam memiliki dua putra dan seorang putri dari dua perempuan berbeda yang masing-masing tinggal di Beijing dan Makau. "Kami belum bertemu keluarga terdekat," kata Noor Rashid.
Noor Rashid mengatakan tuduhan terhadap empat tersangka di tahanan akan ditentukan oleh jaksa. Menurut polisi, seorang perempuan asal  Indonesia yang ditahan dalam kasus itu diketahui berprofesi sebagai tukang pijat di spa. Sementara seorang pria Malaysia yang juga ditahan untuk kasus yang sama bekerja di sektor katering. 
Tahanan lainnya, seorang perempuan Vietnam, bekerja di sektor hiburan. Sementara tahanan pria yang berwarga negara Korea Utara bekerja di bagian teknologi informasi sebuah perusahaan Malaysia.
Hingga saat ini perempuan Indonesia yang ditahan dalam kasus Kim Jong Nam mengaku kepada penyelidik bahwa ia ditipu, karena dia berpikir yang dilakukannya adalah bagian dari acara komedi.
Kang Chol, Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia, mengatakan bahwa Malaysia mungkin "mencoba untuk menyembunyikan sesuatu" dan bahwa otopsi dilakukan "secara sepihak dan tanpa kehadiran kami."
Hal ini menimbulkan ketegangan antara Malaysia dan Korea Utara. Pyongyang keberatan atas otopsi tubuh korban, namun  Malaysia mengatakan mereka hanya mengikuti prosedur. *** Novie Koesdarman
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved