Headlines News :
Home » » Maruarar : Pemimpin Besar Lahir Dari Tekanan Diskriminasi

Maruarar : Pemimpin Besar Lahir Dari Tekanan Diskriminasi

Written By Infobreakingnews on Sabtu, 10 Desember 2016 | 09.34

Maruarar Sirait
Jakarta, infobreakingnews -‎ Jalan untuk menjadi politisi yang memperjuangkan kebenaran sejati bukan hal mudah. Politisi harus benar-benar siap menghadapi hambatan dan tak mudah mengeluh.
Hal itu disampaikan anggota DPR RI asal PDI Perjuangan, Maruarar Sirait dalam Sekolah Pemimpin Nasional Angkatan I yang diselenggarakan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Hotel Discovery, Ancol, Jakarta, Jumat (9/12) malam. Maruarar menjadi pembicara bersama politikus muda Golkar, M.Misbakhun. Lebih dari 100 anggota ICMI, yang sebagian menjadi kepala daerah dan anggota DPRD, menjadi peserta sekolah itu.
"Jalan menjadi pemimpin yang menginspirasi itu tak mudah. Tak ada pemimpin yang lahir dari sebuah kemanjaan. Pemimpin lahir dari tekanan, diskriminasi, tapi punya sikap jelas dan konsisten, dan akhirnya bisa mencapai tujuannya," kata Maruarar.
Maruarar mengatakan tokoh politik yang berhasil menunjukkan kekuatan itu antara lain pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela yang dipenjara demi memperjuangkan rakyat kulit hitam. "Luar biasanya setelah menjadi presiden, Mandela tak balas dendam. Dia justru mengampuni dan merangkul rakyat kulit putih. Beliau jadi legend, jadi role model bagaimana seorang pemimpin politik besar itu hadir," kata dia.
Dalam konteks Indonesia masa kini, Maruarar menilai ada dua sosok negarawan sejati yang patut dicontoh yakni Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Meski keduanya berbeda secara politik, tetapi bersatu ketika menyangkut urusan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Jika ingin menjadi politisi yang handal, belajarlah dari kedua tokoh bangsa itu," kata Ara, sapaan akrabnya.
Dia menceritakan kisahnya sebagai anggota DPR selama tiga periode. Maruarar yang berdarah batak dan non-muslim, berhasil diterima di daerah pemilihan (dapil) Subang, Jawa Barat dengan mayoritas muslim. Bahkan Ara berhasil memperoleh suara terbanyak di dapil itu.
"Saya pernah ditama Gus Dur, kenapa saya bisa mendapat suara terbesar. Saya jawab, 'Gus, saya temukan Islam yang bersahabat, terbuka, dan cinta perdamaian. Dan akhirnya saya terpilih'. Saya sampaikan apa adanya. Saya 12 tahun di sana. Ratusan kali saya masuk musholla, mesjid, Islamic Center, dimana saya rasa aman dan nyaman. Ultah saya saja dirayakan di Islamic Center," jelas Maruarar.
Seorang politisi kata dia, harus bisa melakukan pendekatan secara kultural kepada masyarakat, apa pun latar belakangnya. Untuk menarik perhatian anak muda yang menjadi pendukungnya, Ara mengaku banyak membuat kegiatan menarik seperti olahraga, budaya, dan pemberdayaan ekonomi. "Plus satu hal. Jangan pernah mewakilkan diri di daerah, kepada seseorang yang loyal kepada kita tapi tak disukai masyarakat. Justru yang seperti ini bisa mengurangi suara untuk kita," imbuhnya.*** Candra Wibawanti.


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved