Headlines News :
Home » » Awas, Jutaan Obat Illegal Pabrik Balaraja Sangat Berbahaya

Awas, Jutaan Obat Illegal Pabrik Balaraja Sangat Berbahaya

Written By Infobreakingnews on Selasa, 06 September 2016 | 23.36

Jakarta, infobreakingnewsTim gabungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) bekerja sama dengan Direktorat V Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri berhasil menemukan lima gudang produksi dan distribusi obat ilegal di Kompleks Pergudangan Surya Balaraja, Serang, Banten. Temuan ini merupakan pengembangan dari adanya penyalahgunaan obat Carnophen hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Dari 5 gudang produksi dan distribusi obat ilegal tersebut berhasil ditemukan alat-alat produksi obat ilegal seperti mixer, mesin pencetak tablet, mesin penyalut/coating, mesin stripping, dan mesin filling. Selain itu ditemukan bahan baku obat, produk ruahan, bahan kemasan, maupun produk jadi obat dan obat tradisional siap edar. Diperkirakan produk ilegal ini bernilai lebih dari Rp30 miliar.
Kepala Badan POM Penny Lukito mengatakan, temuan ini didominasi oleh obat yang sering disalahgunakan untuk menimbulkan efek halusinasi, yaitu Trihexyphenydyl dan Heximer.
“Trihexyphenydyl dan Heximer merupakan obat anti Parkinson yang bila digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan dan mempengaruhi aktivitas mental dan perilaku yang cenderung negatif.,” kata Penny di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (6/9).
Operasi ini merupakan pengembangan dari adanya penyalahgunaan obat Carnophen hampir di seluruh Indonesia. Di 2014 Badan POM berhasil mengungkap penyalur bahan baku Carnophen ilegal di Jakarta, dan 2015 POLRI berhasil mengungkap salah satu pelaku terbesar produksi dan distribusi obat Carnophen di wilayah Kalimantan Selatan.
Temuan lainnya adalah obat analgetika atau anti nyeri Tramadol yang jika disalahgunakan dapat menimbulkan efek halusinasi. Sesuai Peraturan Kepala Badan POM 7/2016 tentang Pedoman Pengelolaan Obat-Obat Tertentu yang Sering Disalahgunakan, Trihexyphenydyl dan Tramadol termasuk dalam golongan Obat-Obat Tertentu (OOT). Penyalahgunaannya obat-obat ini dapat menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Karena efek negatifnya, maka golongan OOT hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan ilmu pengetahuan. Industri farmasi yang menggunakan bahan baku OOT hanya boleh menggunakannya untuk keperluan produksinya sendiri dan tidak boleh memindahtangankan bahan OOT kepada pihak lain, walaupun dalam satu grup, kecuali ada izin khusus dari Kepala Badan POM.
Carnophen dan Somadryl juga ditemukan dalam gudang tersebut. Kedua obat ini merupakan obat nyeri otot yang memiliki kandungan bahan aktif Carisoprodol. Jika obat ini sering digunakan juga dapat menimbulkan efek halusinasi.
Badan POM telah membatalkan izin edar obat yang hanya mengandung Carisoprodol sejak tahun 2013 melalui Keputusan Kepala Badan POM tentang Pembatalan Izin Edar Karisoprodol Tunggal. Selain itu, juga ditemukan Dextromethorphan yang merupakan obat antitusif atau obat batuk yang sering disalahgunakan karena dapat menimbulkan efek halusinasi.
“Dextromethorphan dalam bentuk sediaan tunggal juga sudah dilarang peredarannya oleh Badan POM sejak tahun 2013,” kata Penny.
Selain obat, tim gabungan juga menemukan obat tradisonal merek Pa’e, African Black Ant, New Anrat, Gemuk Sehat, dan Nangen Zengzhangsu dalam jumlah besar. Produk tersebut merupakan produk tanpa izin edar atau mencantumkan nomor izin edar fiktif, dan telah masuk dalam daftar public warning Badan POM karena mengandung bahan kimia obat Sildenafil Sitrat yang disalahgunakan sebagai penambah stamina pria alias obat kuat.
Modus
Penny menambahkan, modus pelaku kejahatan ini adalah memproduksi obat yang sudah dibatalkan nomor izin edarnya, memalsukan obat yang telah memiliki izin edar, serta mencampur bahan kimia obat dalam obat tradisional.
“Tindakan memproduksi dan mendistribusikan produk ilegal melanggar Pasal 196 dan Pasal 197 UU 36/2009 tentang Kesehatan. Ancamannya pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar,” kata Penny.
Saat ini telah dilakukan pemeriksaan terhadap 15 orang saksi guna mengetahui aktor intelektual kejahatan tersebut. Terhadap barang bukti telah dilakukan penyitaan dan setelah mendapat persetujuan pengadilan akan segera dilakukan pemusnahan.
Penny kembali menyatakan bahwa tindakan pelaku memproduksi dan mengedarkan obat-obatan tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.
“OOT yang ditemukan akan merusak generasi muda Indonesia yang merupakan aset bangsa,” kata Penny.
Karena itu, perlu pengawasan yang lebih komprehensif dengan pengaturan dalam rancangan UU Obat dan Makanan yang akan mengatur lebih ketat terhadap pelanggaran tersebut melalui pengaturan pengawasan, penyidikan, dan ketentuan pidana.
Badan POM mengimbau para pelaku usaha agar tidak memproduksi dan mengedarkan obat maupun makanan ilegal termasuk palsu serta tanpa izin edar.
Kepada masyarakat Badan POM juga mengimbau jika mencurigai adanya praktik produksi dan peredaran obat dan makanan ilegal, laporkan ke Contact Center Badan POM. Masyarakat harus menjadi konsumen cerdas dengan mengingat selalu “Cek KIK”, yaitu pastikan Kemasan dalam kondisi baik, memiliki Izin edar, tidak melebihi masa kedaluwarsa, serta membeli obat di sarana resmi.*** Johanda Sianturi.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved