Headlines News :
Home » » Jaksa Ungkap Keterlibatan Edy Nasution Menjadi Calo Sejumlah Perkara Besar

Jaksa Ungkap Keterlibatan Edy Nasution Menjadi Calo Sejumlah Perkara Besar

Written By Infobreakingnews on Kamis, 01 September 2016 | 07.38

Jakarta, infobreakingnews -  Panitera PN Jakarta Pusat Edy Nasution membantu mengurusi sejumlah perkara perusahaan besar di Indonesia. Setelah ketahuan mengurusi perkara Lippo Group, Edy juga diketahui mengurusi perkara PT Paramount Enterprise.

Hal ini terungkap dari surat tuntutan Doddy Aryanto Supeno, anak buah bos Lippo Group, Eddy Sindoro. Dalam tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum pada KPK Tito Jaelani menyebutkan berdasarkan putusan Raad Van Yustitie di Jakarta tanggal 12 Juli 1940 No 232/1937 pada November 2014 dan 16 Februari 2015 kuasa hukum ahli waris Tan Hok Tjian mengajukan surat ke PN Jakarta Pusat mengenai permohonan eksekusi putusan Raad Van Yustitie di Jakarta tanggal 12 Juli 1940 No 232/1937.


Yang pada pokoknya, tanah PT Jakarta Baru Cosmopolitan (JBC) harus segera dieksekusi. Kemudian pada November 2015, Ervan Adi Nugroho yang juga Direktur PT JBC memperoleh surat PN Jakarta Pusat perihal permohonan eksekusi lanjutan yang belum didistribusikan.

"Atas surat tersebut Ervan Adi Nugroho meminta kepada Wresti Kristian Hesti untuk mempelajari surat tersebut dan "memending atau menunda pelaksanaan putusan tersebut dengan meminta tolong kepada Eddy Sindoro," beber Jaksa Tito.

Adapun, Hesti adalah bagian legal dari PT Lippo Group. Sedang Eddy Sindoro adalah Bos PT Lippo Group.

Kemudian, kata Jaksa Tito, Hesti mempelajari surat tersebut dan menyampaikan hasilnya kepada Eddy Sindoro dan Ervan Adi Nugroho. Hesti berpendapat supaya tidak dilakukan eksekusi seperti keinginan Ervan, kalimat akhir surat tersebut isinya harus disamakan dengan surat PN Pusat terdahulu dengan mengubah kalimat dalam surat tersebut dari "belum dapat disekskusi" diganti dengan "tidak dapat dieksekusi".

"Menindaklanjuti permintaan tersebut Wresti Kristian hesti selanjutnya menemui Edy Nasution menyampaikan permintaan Ervan Adi Nugroho untuk memending pelaksanaan eksekusi putusan tersebut kepada Edy Nasution," ujar Jaksa Tito.

Rupanya dari pertemuan itu, Edy menyampaikan pada Hesti bahwa surat eksekusi belum dikirim. Usai mendapat kepastian itu, Ervan kata Jaksa Tito memberikan duit lewat Hesti sejumlah Rp50 juta.

Adapun duit itu kemudian diserahkan Hesti pada Doddy yang selanjutnya diserahkan pada Edy di basement Hotel Acasia, lalu KPK menangkap Edy yang sesungguhnya sudah akan dipromosikan ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. *** Ira Maya/ Mil.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved