Headlines News :
Home » » Polisi Temukan Banyak Kejanggalan Pada Kasus Laporan Perkosaan Siswi Magang Di Kantor Walikota Jakpus

Polisi Temukan Banyak Kejanggalan Pada Kasus Laporan Perkosaan Siswi Magang Di Kantor Walikota Jakpus

Written By Infobreakingnews on Rabu, 10 Agustus 2016 | 07.25

Jakarta, infobreakingnews - Sepekan sudah peristiwa perkosaan yang dilaporkan seorang siswi yang sedang magang di kantor Walikota Jakarta Pusat, banyak ditemukan kejanggalan dan ketidak sesuaian keterangan yang dikumpulkan setelah tim penyidik Polres Metro Jakarta Pusat, terutama hasil visum korban yang tidak sesuai dengan waktu kejadian, membuat satreserse terus melakukan penyelidikan perkosaan yang dilaporkan itu terjadi di sebuah ruang kosong di Lantai VI Kantor Wali Kota Jakarta Pusat masih menyimpan sebuah misteri.
"Terkait dengan perkembangan kasus dugaan pemerkosaan di Kantor Walikota Jakpus, jadi hasil pemeriksaan saksi-saksi dan pemeriksaan terlapor maupun korban tidak ada kesesuaian," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono, Rabu (10/8).
Dikatakan Awi, penyidik kemudian melakukan pengembangan terkait dengan hasil visum korban.
"Hasil visum, tidak ditemukan adanya robekan yang baru dalam alat vital korban. Ada robekan selaput dara, namun tidak cocok dengan waktu kejadian yang dilaporkan," ungkapnya.
Ia menambahkan, hasil lab juga tidak menemukan adanya sperma di alat kelamin dan pakaian korban.
"Terakhir bahwasanya tidak ada kekerasan di alat kelamin dari korban dan tubuh yang lainnya," katanya.
Ia menyampaikan, dari hasil pemeriksaan lab itu, penyidik kemudian mengkonfrontir seluruh saksi, korban dan terlapor.
"Tentunya nanti penyidik yang menyimpulkan. Ini fakta-fakta yang kami temukan, nanti akan disimpulkan penyidik apakah kasus ini cukup bukti atau tidak untuk dinaikan ke tingkat penyidikan. Kalau tidak ada bukti, ya kita SP3 (Surat Perintah Pemberhentian Penyelidikan)," katanya.
Menyoal KPAI mengkritik penyidik melakukan konfrontir antara terlapor dengan korban, Awi menyampaikan, konfrontir dilakukan karena ada keterangan yang tidak sesuai.
"Korban menyampaikan begini, ternyata saksi menyampaikan begitu. Dari pada nanti ada fitnah, mending kita dudukkan bersama. Posisimu di mana, dari situ kan nanti ketahuan," jelasnya.
"Sebenarnya kalau ada kesesuaian laporan mungkin tidak perlu. Karena ada laporan tidak sesuai, kan wajar kalau kita dudukkan bersama. Sebenarnya tujuannya apa sih? Jangan sampai kita salah menghakimi orang," tambahnya.
Awi menuturkan, penyidik mencari apa ada motif tertentu karena alibi masing-masing tidak sesuai.
"Nah fakta hukum itu lah yang mau dicari sama penyidik. Satu pegang kakinya, terus kemudian digagahi sama A kan dari laporan itu. Akhirnya dicari fakta hukumnya dari mana? Oh dari visum ternyata tidak ada. Ini kita cari tahu apa ada motif tertentu kok ada ketidaksesuaian, alibi masing-masing tidak sesuai," tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswi berinisial PAR yang sedang magang atau PKL, diduga diperkosa oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS), di sebuah ruang kosong, Lantai 6 Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, tanggal 3 Agustus 2016 lalu.
Orang tua korban sudah membuat laporan dengan nomor LP: 1076/K/VIII/2016/RJP. Terlapornya seorang oknum PNS berinisial AA.
Dalam laporan itu, korban diduga tiba-tiba dibekap hingga tidak sadarkan diri. Kemudian, dibawa ke sebuah ruangan kosong di Lantai VI Kantor Walikota Jakarta Pusat. Ketika sadar, korban mengaku dalam keadaan telanjang dan merasakan sakit pada bagian alat vital korban.
Kasus dugaan perkosaan ini sendiri sempat membuat Gubernur Ahok gusar dan meminta aparat bisa mengungkap secara tuntas.*** Any Christmiaty.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved