Headlines News :
Home » » Masih Ada Nuansa RAS, dan Kemunafikan Yang Fanatik Dibalik Peristiwa Pengeroyokan Ahok

Masih Ada Nuansa RAS, dan Kemunafikan Yang Fanatik Dibalik Peristiwa Pengeroyokan Ahok

Written By Infobreakingnews on Rabu, 31 Agustus 2016 | 06.08

Ahok bersama Nusron Wahid
Jakarta, infobreakingnews - Nusron Wahid, ketua tim pemenangan Gubernur Ahok merasa geram terhadap peristiwa berbau rasial, pengerorokan  menimpa Andrew Budikusuma (23) di bus TransJakarta yang sebelum dipukul diteriaki 'Ahok'. 

Nusron mengatakan, kasus yang terjadi di Bus TransJakarta tersebut menandakan masih adanya masalah Suku, Agam, Ras dan Antar golongan (SARA) di Ibu Kota.

"Karena fenomena kejadian di Transjakarta itu menandakan masih ada problem masalah SARA di Indonesia, terutama di Jakarta," kata Nusron kepada sejumlah media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (30/8/2016).

Nusron mengatakan, meskipun Indonesia telah memiliki UU antidiskriminasi, namun perjuangan tentang keindonesiaan masih belum selesai di negeri ini.

"Itu juga yang salah satu alasan saya mau capek-capek urusin Ahok, karena saya kepikiran dimensi keindonesiaannya itu," katanya.

Nusron juga menegaskan, orang boleh menilai tentang kinerja Ahok yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI. Namun pantang baginya untuk menyinggung masalah SARA.

"Orang boleh bilang dia enggak becus kerja dan sebagainya. Satu hal yang enggak boleh diserang, isu SARA, agama, etnis. Kenapa? Karena itu adalah sunnatullah Indonesia. Keniscayaan Indonesia. Yang namanya Bhineka Tunggal Ika, yang namanya Indonesia itu multiagama, multietnis, itu adalah sunnatullah," tegas Nusron.

Nusron menyadari jika Ahok merupakan 'sasaran' empuk untuk dikritik, terlebih Ahok merupakan Gubernur DKI yang mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI lagi di Pilkada 2017. Ahok juga merupakan orang beretnis Tionghoa.

"Perjuangan tentang keindonesiaan kita itu diuji, dan ujiannya apa? Ujiannya di Ahok. Juga di Papua dan di tempat lain. Karena itu kita sedang diuji keindonesiaan kita lewat Ahok. Sesungguhnya kita ini utuh tidak memahami substansi Indonesia," ujar Nusron.

Terlepas dari kasus TransJakarta tersebut, lanjut Nusron, juga masih banyak dijumpai kasus kekerasan berbau rasial, terutama di dunia maya.

"Kita juga menjumpai, di YouTube mungkin bisa dilihat dan didengar statement Bintang Pamungkas. Mungkin juga tokoh-tokoh yang lain mengenai masalah China dan macam-macam. Ini yang enggak boleh," katanya.

"Ketika kita di Indonesia, kita harus siap bahwa di Indonesia itu ada China. Dan China itu tidak beda dengan kita. Membedakan justifikasi tentang ke-China-an orang berarti membedakan juga dengan ke-Jawa-an, ke-Batak-an maupun ke-Padang-an. Saya emosi kalau bahas soal ini," tambah Nusron.

"Kalau memang orang masih mempersoalkan dimensi mayoritas minoritas, berarti dia belum paham falsafah tentang ke-Pancasila-an. Ini kan orang ditarik-tarik ke falsafah mayoritas minoritas. Indonesia tidak mengenal mayoritas minoritas. Indonesia yang dikenal adalah bangsa Indonesia dan yang disebut bangsa Indonesia itu adalah orang yang lahir di Indonesia dan menyatakan dirinya sebagai warga negara Indonesia. Mau dia suku apapun. Itu saja," tambahnya lagi.


"Apa ga sadar mereka yang kelompok suka mengeroyok seperti itu, bahwa terlalu banyak pemimpin hebat dinegeri ini yang justru berasal dari para pendatang, dan anak bbbbbbbansa dari suku dan agama lain." pungkas Nusron dengan nada tinggi seakan mengingatkan mereka kaum fanatik yang sesunggguhnya bermoral munafik. *** Candra Wibawanti.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved