Headlines News :
Home » » Pro-Kontra Keanggotaan Inggris di Uni Eropa

Pro-Kontra Keanggotaan Inggris di Uni Eropa

Written By Infobreakingnews on Minggu, 19 Juni 2016 | 16.54


London, infobreakingnews - Masa depan Inggris di Uni Eropa akan ditentukan pada referendum pada 23 Juni nanti. Keluarnya Inggris dari UE atau Brexit dinilai akan mengguncang perekonomian dunia dan Inggris sendiri. Mayoritas dunia menginginkan agar Inggris bertahan di UE. Akan tetapi, di Inggris, dukungan "in" dan "out" terbagi dua sama kuat.
Lalu mengapa sebagian warga Inggris ingin agar negaranya keluar dari UE?
Argumen utama kelompok pro-Brexit adalah Inggris akan lebih baik jika bisa mengatur perekonomiannya sendiri dan kebijakan imigrasinya sendiri tanpa harus mengikuti rambu-rambu UE.
Meskipun Inggris tergabung dalam UE, namun Inggris tidak pernah secara penuh merangkul kebijakan dan idealisme UE. Misalnya, Inggris tidak menjadi anggota Schengen Area yang membebaskan imigrasi dan tidak mengadopsi mata uang euro.
Ketika perekonomian UE terguncang dengan krisis utang Yunani yang membuat negara-negara anggota lainnya harus merogoh kocek untuk menyelamatkan Yunani. Hal itu membuat sebagian warga Inggris menjadi skeptis akan masa depan UE.
Pada tahun 2012, PM Inggris mendapatkan tekanan dari partainya sendiri (Partai Konservatif) untuk melakukan referendum dan akhirnya Partai Konservatif mendapatkan keinginannya.
Boris Johnson, eks Wali Kota London, mengatakan bahwa kelemahan UE adalah menempatkan birokrasi yang tidak dipilih langsung untuk membuat kebijakan di Uni Eropa sehingga menyebabkan beberapa kebijakan yang tidak masuk akal dan merepotkan.
"Kebijakan seperti tidak boleh mendaur ulang kantong teh, atau anak di bawah delpaan tahun tidak boleh meniup balon, atau batas kekuatan penyedot debu. Semua kebijakan ini menggelikan. Lalu ketika kami ingin merubah kebijakan dalam negeri, tetapi harus dilakukan di level Eropa," kata Johnson.
Salah satu yang pro agar Inggris keluar dari UE adalah Nigel Farage, pemimpin UK Independence Party (UKIP) yang berhaluan sayap kanan (nasionalis). 
Nigel menilai Eropa dibebani oleh masuknya buruh berupah rendah sehingga menurunkan pendapatan warga Inggris asli. Dia juga mengatakan masuknya imigran ke Inggris akan menyedot anggaran sosial pemerintah dan bahkan meningkatkan angka kejahatan.
Berdasarkan survei terakhir yang dilakukan YouGov untuk harian Sunday Times, dukungan untuk Inggris bertahan di Uni Eropa (UE) unggul tipis 44 persen-43 persen dibanding dengan dukungan untuk keluar dari UE. ***Nadya
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved