Headlines News :
Home » » Penangkapan Mahasiswa RI di Turki Dinilai Hanya Salah Paham

Penangkapan Mahasiswa RI di Turki Dinilai Hanya Salah Paham

Written By Infobreakingnews on Senin, 13 Juni 2016 | 14.25

Ankara, infobreakingnews - Penangkapan seorang mahasiswa Indonesia di Turki, Handika Lintang Saputra oleh otoritas hukum Turki dinilai karena adanya kesalahpahaman. Penangkapan tersebut juga tidak terlepas dari kondisi politik Turki yang semakin memanas.
“Kita perlu memahami konteks Turki. Mengapa ada penangkapan semacam ini kepada warga negara asing, termasuk mahasiswa kita. Ada situasi politik khusus di Turki saat ini,” ujar mantan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Arya Sandiyudha di Jakarta, Senin (13/6/2016).
Dikatakan, dalam beberapa bulan terakhir terjadi beragam aksi kekerasan di Turki. Pada Maret 2016 ada 35 korban jiwa akibat ledakan bom di Ankara dan 5 korban jiwa di Istanbul. Lalu, pada Februari 2016 ada 28 korban jiwa akibat aksi kekerasan di Ankara dan pada Januari 2016 ada 12 wisatawan mancanegara asal Jerman yang korban jiwa di Istanbul.
“Berbagai peristiwa itu membuat pemerintah Turki sangat sensitif dengan instabilitas politik dan keamanan. WNI kita ditangkap dalam konteks situasi itu dan saat ini masih pendalaman. Belum terbukti jika dia adalah bagian dari ancaman,” ujar Doktor bidang politik dan hubungan internasional dari Universitas Fatiih, Turki, itu.
Pada Jumat (3/6/2016), Handika ditangkap otoritas hukum Turki karena diduga terlibat kegiatan politik terlarang. Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI (KBRI) di Ankara terus mendampingi Handika, yang merupakan mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Kota Gianzep.
Arya menambahkan, stabilitas dalam situasi politik khusus di Turki saat ini menempatkan beberapa kelompok kritis sebagai oposisi, termasuk gerakan yang disebut telah diikuti oleh Handika. Gerakan itu, ujarnya, memiliki dua aspek menonjol, yakni kajian Islam sufi tradisionalis dan kegiatan pendidikan sosial.
“Namun, ada aspek lain yakni aktivitas para elite kelompok tersebut. Konflik di Turki antara mereka dengan pemerintah sebenarnya ada di wilayah isu politik yang melibatkan elite dan aktivis utama gerakan itu,” ujarnya.
Arya meyakini, Handika hanya terlibat dalam dua aspek pertama gerakan itu. Keyakinan itu didasari oleh pengalamannya sendiri saat masih menjadi mahasiswa di Turki. 
“Nyaris semua mahasiswa kita tidak mau terlibat isu politik di Turki yang keras. Saya mengenal mereka karena pada 2014 menjadi ketua PPI Turki. Mereka sudah terlalu sibuk memikirkan belajar dan membangun diplomasi lewat jalur PPI,” kata Arya.
Selain itu, ujarnya, sejak awal KBRI langsung melakukan upaya untuk mengadvokasi dan melindungi mahasiswa RI itu. Langkah-langkah yang dilakukan KBRI ialah mulai dari menghubungi pihak kepolisian, mendengarkan keterangan jaksa, meminta Kementerian Kehakiman Turki membuka akses kekonsuleran, hingga mengunjungi penjara untuk membawakan baju ganti dan perlengkapan lain.
“Sekarang, upaya hukumnya adalah mengadvokasi yang bersangkutan sesuai dengan keterangan bahwa dia sangat mungkin ditangkap karena adanya kesalahpahaman. Kita tahu ada situasi politik khusus di Turki yang membuat WNI kita terseret. Jadi, ini masih pendalaman,” ujarnya. ***Nadya
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved