Headlines News :
Home » » Kinerja BPOM Nihil, Bisnis Vaksin Palsu Telah Berjalan 15 Tahun

Kinerja BPOM Nihil, Bisnis Vaksin Palsu Telah Berjalan 15 Tahun

Written By Infobreakingnews on Senin, 27 Juni 2016 | 10.16

Jakarta, infobreakingnews - Kejahatan kemanusiaan yang terorganisir selama 15 tahun melalui pembuatan cairan vaksin palsu terhadap bayi dan balita, menjadikan kasus vaksin palsu ini membuktikan bahwa kinerja Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), kini manjadi dipertanyakan.
Ditenggarai sindikat bisnis vaksin palsu yang sudah berjalan selama 15 tahun ini, melibatkan banyak pihak. Dan betapa ngeri membayangkan kebelakang, betapa banyaknya kasus bayi dan balita yang meninggal kejang kejang setelah mendapatkan vaksin itu.
Sepekan ini Direktorat Tindak Pidana Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri sudah menangkap sebanayk 13 tersangka, dan belum termasuk tambahan dalam kasus pembuatan dan pendistribusian vaksin palsu kesejumlah daerah.
"Kemarin kan sudah kita tangkap 13 orang dan kita pastikan akan bertambah lagi malam ini. Kita tangkap kembali distributor dan para pelaku yang membantu memproduksi," kata Direktur Tipideksus Brigjen Pol Agung Setya kepada infobreakingnews.com,  di Jakarta, Senin (27/6).
Mereka yang ditangkap itu termasuk yang mengumpulkan botol vaksin bekas dari rumah sakit yang kemudian diisi kembali dengan cairan vaksin oplosan yang palsu dan kemudian dikemas ulang itu.
"Jumlah tersangka akan terus bertambah. Yang jelas kita bongkar tuntas supaya rantainya terungkap semua dan ke depan aman tidak ada vaksin palsu lagi. Kita juga jerat tersangka dengan pasal pencucian uang," lanjutnya.
Seperti diberitakan, kasus ini terungkap karena polisi menemukan beberapa penjual vaksin yang tidak punya izin untuk peredaran yakni di Bekasi di mana kemudian terungkap di dalamnya ada vaksin yang ternyata palsu.
Yang ditangkap pertama adalah J, pemilik toko di Aska Medikal, di Jalan Raya Karang Santri Bekasi. Lalu hasil pengembangan didapatkan kelompok Bintaro, Bekasi Timur, dan Kemang Regency.
Menurut Agung, vaksin palsu itu dibuat di gudang atau rumah yang dari sisi higienisnya tidak memenuhi standard. Isinya campuran infus dan vaksin tetanus. Semua ini dicampur jadi satu.
Salahsatu diantara rangkaian jumlah tersangka yang sudah ditangkap Polisi, pasutri Hidayat dan Rita yang dikenakan pasal pencucian uang TPPU karena melalui kejahatan kemanusiaan memalsukan vaksin untuk bayi ini, pasutri yang memiliki dua anak kecil ini telah berhasil menikmati keuntungan sebesar Rp 100 juta setiap Bulan selama belasan tahun.
"Kita akan sita semua rekening, rumah mewah dan mobil, semua aset yang mereka miliki, karena hal itu jelas berasal dari bisnis vaksin palsu selama belasan tahun. " pungkas Agung. *** Johanda Sianturi.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved