Headlines News :
Home » » Erick S Paat : Mustinya Klien Kami Tidak Duduk Sebagai Terdakwa

Erick S Paat : Mustinya Klien Kami Tidak Duduk Sebagai Terdakwa

Written By Infobreakingnews on Senin, 27 Juni 2016 | 21.18

Erick S Paat, SH
Jakarta, infobreakingnews - Banyaknya keganjilan yang terungkap didalam persidangan. apalagi ke 5 saksi dibawah sumpah memberikan keterangan yang terpenggal dan banyak yang lupa karena mengingat kasus Simulator SIM ini telah terjadi 4 tahun silam.

Apalagi derita yang dialami oleh terdakwa Sukotjo S Bambang, Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI) merasa perusahaannya telah 'dirampok' oleh Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) Budi Susanto. Dia menyebut aset pribadi dan perusahaannya disita Budi sehingga tak bisa melanjutkan proyek pengadaan driving simulator SIM R2 dan R4. 


Menurut Sukotjo, saat itu dirinya sedang mengerjakan proyek simulator dan tidak ada deadline. Sementara menurut pihak Budi, Sukotjo tidak bisa menyelesaikan pengadaan simulator sesuai perjanjian, sehingga pabriknya disita dan diminta mengembalikan uang proyek yang telah dibayarkan PT CMMA. 

"Semua barang yang ada di dalam situ dirampas. Jadi apakah bukan perampokan? Bagaimana saya bisa produksi kalo semua dirampas," kata Sukotjo kepada infobreakingnews.com, sesaat usai persidangan pada pekan lalu di Pengadilan Tipikor Jakarta jalan Bungur Besar Raya Jakarta.


Sebelumnya Sukotjo S Bambang yang didampingi penasehat hukumnya, Erick S Paat, SH bersama rekan pengacara lainnya, sengaja tidak ingin melakukan eksepsi atas dakwaan jaksa Haerudin cs dari KPK, karena semata mata terdakwa ingin agar kasus hukum yang terlalu lama membelitnya segera tuntas secara berkeadilan dimeja hijau.


Jaksa menuduh Sukotjo telah memperkaya diri sendiri dengan menerima Rp 3.9 miliar, sekaligus juga dianggap telah memperkaya orang lain yaitu mantan Kakorlantas Polri Inspektur Jenderal (Irjen) Djoko Susilo sebesar Rp 36,9 miliar, dimana Djoko Susilo telah dipidana selama 18 tahun dan denda Rp 1 miliar dan hukuman pengganti sebesar Rp 32 miliar.

Selanjutnya jaksa KPK menyebutkan keterlibatan Wakakorlantas Brigjen (Pol) Didik Purnomo sebesar Rp 50 juta, dan Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) Sukotjo S Bambang sebesar Rp 3,9 miliar. Kemudian telah memperkaya Primkoppol Polri senilai Rp 15 miliar. Perbuatannya disebut telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 144,984 miliar atau Rp 121,830. Miliar dalam perhitungan kerugian negara oleh ahli dari BPK RI.

Sebenarnya, Sukotjo selama ini telah berada di dalam tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kebun Waru, Bandung, Jawa Barat. Ia menjadi terpidana dalam kasus penipuan dan penggelapan. Namun, Sukotjo dinyatakan bebas bersyarat pada 3 Januari 2014 lalu.
Sukotjo yang sudah pernah bebas secara hukum, namun kembali ditangkap KPK karena menilai Sukotjo dianggap memiliki informasi penting untuk KPK seputar kasus simulator SIM dan pengadaan pelat nomor kendaraan bermotor di Korlantas Polri.
Adapun tersangka lainnya, yakni Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) Budi Susanto dan Wakil Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Brigadir Jenderal (Pol) Didik Purnomo.
Penetapan ketiganya dilakukan berdasarkan pengembangan penyidikan atas perkara tersangka Irjen Djoko Susilo yang diduga menyalahgunakan kewenangannya selaku Kepala Korlantas Polri 2011 sehingga menimbulkan kerugian negara atau menguntungkan orang lain.
"Mustinya klien kami tidak lagi dihadapkan sebagai terdakwa karena telah bebas bersyarat secara hukum. Apalagi justru Sukotjo S Bambang lah yang pertama kali melaporkan kasus ini sehingga KPK mampu membongkar keterlibatan Irjen Djoko Susilo.cs " kata Erick S Paat kepada sejumlah media.

Majelis hakim yang diketuai Ibnu Widodo menunda sidang hingga Rabu (28/6) nanti dengan agenda mendengarkan sejumlah saksi, setelah sebelumnya mendengarkan 5 orang saksi yang kesemua dari pihak Korlantas. *** Emil F Simatupang.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved