Headlines News :
Home » » Top Gambling, Alibaba Akuisisi Lazada

Top Gambling, Alibaba Akuisisi Lazada

Written By Infobreakingnews on Jumat, 15 April 2016 | 14.07

Singapura, infobreakingnews - Akuisisi perusahaan e-commerce raksasa Alibaba terhadap Lazada menyisakan kepuasan tersendiri bagi perusahaan induk Lazada, Rocket Internet. Pasalnya, Lazada yang baru berumur empat tahun sudah mulai kehabisan uang untuk menjalankan bisnisnya.
Alibaba Group Holding memutuskan membeli saham US$ 1 miliar atau setara Rp 13 triliun dari Lazada Group beberapa hari lalu. Akuisisi ini merupakan strategi ekspansi bisnis Alibaba, untuk merentangkan sayapnya di kawasan Asia Tenggara.
Lazada memang merupakan raksasa e-commerce di kawasan Asia Tenggara, dan kerap dijuluki sebagai Amazon atau Alibaba-nya Asia Tenggara. Meski namanya sudah cukup berkibar di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut bermasalah dari sisi finansial.
Tahun lalu, Lazada membukukan pendapatan sebesar US$ 191 juta dalam kurun waktu sembilan bulan. Di sisi lainnya, biaya operasional Lazada untuk mendapatkan pelanggan, insentif yang harus dibayarkan pada pihak ketiga dan biaya pemasaran umum untuk produknya mencapai US$ 233 juta dolar.
Neraca keuangan yang masih negatif ini membuat Lazada sadar bahwa membangun sebuah e-commerce di pasar yang sedang berkembang tidak mudah. Dapat disimpulkan bahwa Lazada memang sengaja menjual saham mayoritasnya ke Alibaba untuk menyelamatkan keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Seperti dilansir dari TechCrunch, sebelumnya Lazada memang telah mengumpulkan dana pihak ketiga sebesar US$ 700 juta, namun lenyap setelah mengalami berbagai hambatan untuk masuk dalam pasar di mana perdagangan via daring baru saja lahir.
Ekspansi Lazada di enam negara Asia Tenggara tidak menguntungkan sepanjang 2015. Bahkan, perusahaan menghabiskan sebagian besar tahun belanja untuk mendapatkan investor baru dengan tujuan meningkatkan putaran keuangan mereka.
"Para eksekutif sangat gugup mereka kehabisan uang," kata salah satu sumber padaTechCrunch.
Walau Rocket Internet bisa menghimpun dana pihak ketiga untuk mendukung operasional, Lazada masih butuh banyak dana untuk memperluas bisnisnya. "Tidak banyak investor yang sanggup memberikan uang dalam jumlah besar untuk Rocket. Apalagi mereka bukan salah satu pencetus awal bisnis startup," kata seorang sumber.
Rocket Internet sempat menggandeng Kinnevik, perusahaan asal Swedia yang berinvestasi pada Lazada, untuk membantu keuangan perusahaan sampai akhirnya ada investor baru yang datang dan mengakuisisi startup tersebut.
Pada tahun ini upaya tersebut berhasil. Alibaba muncul sebagai malaikat penyelamat bagi Lazada yang sudah berada diambang kehancuran. Perusahaan asal Tiongkok tersebut mengutarakan minatnya dan menandatangani kesepakatan dengan Rocket Internet pada Januari tahun ini dan menguasai saham mayoritas di Lazada.
Meski Alibaba sempat mengulur waktu untuk melakukan sejumlah penilaian, kesepakatan akhirnya terlaksana dan diumumkan pertengahan April ini. Nilai kesepakatan tersebut tidak tanggung-tanggung. Alibaba membeli saham US$1 miliar atau setara dengan dua per tiga dari nilai valuasi grup Lazada. Alibaba juga memiliki opsi untuk membeli seluruh saham tersisa dalam 18 bulan ke depan.
Dengan indikator dan pengembangan bisnis yang tepat, bukannya tidak mungkin Alibaba akan menelan seluruh saham Lazada dan mengintegrasikannya kedalam kerajaan e-commercemiliknya.
Keuntungan yang Timpang
Keputusan Alibaba untuk membeli saham mayoritas Lazada merupakan akusisi e-commercebernilai US$ 1 miliar pertama di kawasan Asia Tenggara. Deal raksasa ini menjadi sebuah kejutan yang menyisakan tanda tanya besar sebab hampir semua investor Lazada mau melepas sahamnya setengah harga dan akan terus menjual sisa saham yang dimiliki dalam waktu 18 bulan kedepan.
Tiga investor membuka nilai penjualan saham mereka pada Alibaba, namun puluhan lainnya menutup rapat angka yang disepakati. Rocket Internet menjual 9,1 persen saham dengan nilai US$ 137 juta, Tesco menjual 8,6 persen saham untuk US$ 129 juta, sedangkan Kinnevik menjual 3,8 persen saham mereka dengan nilai US$ 57 juta.
Lebih dari 35 pemegang saham karyawan atau mantan karyawan yang memegang 43,83 persen juga menjual kepemilikan mereka pada Alibaba. Sedangkan satu investor yakni perusahaan asal Singapura, Temasek masih menahan kepemilikan saham mereka.
Rocket Internet yang mendirikan Lazada pada 2012 berhasil melipatgandakan investasi awal mereka yang hanya sebesar US$ 20,5 juta dolar. Namun, investor Lazada yang datang belakangan tidak mendapatkan keuntungan yang sama dengan Rocket Internet.
JP Morgan dan Summit Partners adalah salah satu investor awal Lazada yang kecewa dengan keuntungan yang mereka peroleh.
"Rocket mendapatkan banyak uang, tapi para investor lainnya tidak mendapatkan keuntungan yang sama," kata seorang sumber.
Mimpi Lazada untuk menjadi perusahaan startup raksasa seperti Amazon di Asia Tenggara tidak pernah terwujud. Valuasi Lazada sebesar US$ 1,5 miliar dolar mungkin membuat Alibaba tertarik, tapi keuntungan dan return of investment yang lama harus menjadi pertimbangan sendiri. Fakta lainnya adalah valuasi Lazada terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan Garena, salah satu startup minim investasi di Asia Tenggara yang memiliki valuasi US$ 3,75 miliar.
Salah satu pendiri awal Lazada mengaku pada TechCruch bahwa ambisi perusahaan bentukannya terlalu tinggi. Pertumbuhan pengguna internet dan gadget yang tinggi di Asia Tenggara tidak berbanding lurus dengan perdagangan di dunia digital.
Meski demikian, hambatan tersebut tidak mengurungkan niat Alibaba untuk mengambil alih Lazada setelah hanya mendapatkan tiga persen pangsa pasar dari total perdagangan digital di Asia Tenggara.
Dalam sebuah wawancara di tahun 2013, CEO Lazada Max Bittner mengatakan perusahaannya berada di jalur yang tepat dan akan segera menghasilkan keuntungan pada 2015. Namun, janji Bittner hanya sebatas angan-angan.
"Tidak ada alasan e-commerce tidak bisa menjadi besar di Asia Tenggara. Ada beberapa kota seperti Jakarta dan Bangkok yang memiliki julukan sebagai pusatnya sosial media. Puluhan juta orang lainnya juga menggunakan aplikasi pesan instan seperti Line. Ini jelas menjadi indikator seberapa kuat pangsa pasar internet di kawasan tersebut," kata Bittner pada saat itu.
Pernyataan Bittner tidak sepenuhnya salah. Namun, ada faktor lainnya yang tidak bisa diperhitungkan seperti pengalaman dan determinasi pengguna internet, sehingga menghambat ekspansi bisnis Lazada.
Keuntungan Asia Tenggara
Meski menjalankan bisnis dengan karut marut, Lazada berhasil melewati berbagai rintangan seperti ketersediaan logistik, kepegawaian yang terus bergolak serta pertumbuhan pasar yang melambat. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan Alibaba untuk mengambil Lazada sekaligus memperbesar pangsa pasar mereka di luar Tiongkok.
Salah satu mantan eksekutif Lazada bahkan mengatakan, "Alibaba membawa kerangka bisnis mereka dan sekarang mereka bisa mengubah kondisi internal (di Lazada)."
Di luar dari perjuangan Lazada, investor dan perusahaan startup Asia Tenggara menyambut baik akuisisi Lazada dengan optimisme. Sebagian bahkan percaya bahwa aksi korporasi ini bisa membawa gairah baru bagi bisnis digital di Asia Tenggara.
"Kesepakatan ini merupakan kemenangan besar bagi Asia Tenggara," kata Vinnie Lauria, co-founder Golden Gate Ventures Singapura.
"Para pemain besar di Tiongkok sangat tertarik dengan kawasan ini. Jadi, saat pertumbuhan ekonomi melambat di Negeri Tirai Bambu, pangsa pasar digital Asia Tenggara yang selama ini hanya dipandang sebelah mata menjadi salah satu jalan keluarnya," kata Lauria.
Investasi besar Alibaba ke Asia Tenggara menjadi bukti seberapa cepat kawasan Asia Tenggara berkembang.
"Ini hanya titik awal dan saya berharap investasi ini dapat menjadi pemicu bagi investor untuk melihat Asia Tenggara sebagai pangsa pasar yang potensial," kata Stefan Jung, salah satu pendiri Venturra Capital, perusahaan yang berbasis di Indonesia dan mengelola US$ 150 juta.
Masuknya Alibaba di Asia Tenggara membuat sejumlah perusahaan startups di kawasan tersebut optimistis dengan pengembangan pasar yang lebih besar.
"Ini mungkin saja akan menarik lebih banyak modal untuk masuk di Asia Tenggara. Tidak hanya untuk startup, tapi juga untuk lini bisnis lainnya. Semoga ini memberikan kdorongan yang cukup kuat untuk dunia teknologi sebab ini dapat menjadi sangat bagus untuk pasar," kata CEO dan penemu Zilingo, Ankiti Bose.
Pesaing
Dalam beberapa kesempatan, perusahaan startup yang berbasis di Amerika serikat, Amazon telah melirik sejumlah e-commerce di Asia Tenggara.
JD.com, pesaing utama Alibaba di Tiongkok juga telah masuk ke Indonesia tahun lalu dan berniat untuk terus memperkuat bisnis mereka. Tokopedia yang didanai oleh Softbank, Mataharimall.com yang didukung oleh Grup Lippo serta Orami juga mengincar ceruk pasar yang lebih besar di Asia Tenggara.
Meski kesempatan untuk menguasai pangsa pasar Asia Tenggara masih terbuka luas, Alibaba harus terlebih dahulu memberesi berbagai masalah yang ada di Lazada.*** Meylin Hwa.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved