Headlines News :
Home » » Skandal Panama Papers Merupakan Pertarungan Pers Melawan Penjahat Kapitalis

Skandal Panama Papers Merupakan Pertarungan Pers Melawan Penjahat Kapitalis

Written By Infobreakingnews on Kamis, 07 April 2016 | 10.38

CEO & Pimpinan Umum Info Breakingnews, Emil Foster S
Paris, infobreakingnews - Dasyatnya hasil kerja keras para wartawan yang tergabung dalam International Consortium Investigative Jurnalist (ICIJ), yang membongkar kejahatan korupsi para pesohor top dunia, yang pada umumnya bermulut manis dan bergaya roahniawan dari banyak tokoh dunia, yang ternyata asli berwatak penjahat.

Potensi profesi jurnalis jika sudah bergabung seperti ICIJ ini bahkan membuktikan sebagai suatu lembaga yang tidak dibiayai pemerintah dan negara manapun, tetapi bisa menjadi sautu lembaga terkuat melebihi lembaga apapun yang ada, tak terkecuali lembaga anti korupsi yang ada dihampir semua negara.

Bagaimana tidak, dunia seolah tersentak ketika sekitar 11,5 juta dokumen firma hukum Mossack Fonseca bocor ke publik. Mossack, Fonseca yang bergerak dalam bisnis membantu klien membentuk perusahaan di sebuah wilayah bebas pajak ini, menjadi salah satu alat yang digunakan oleh para pencoleng pajak agar kekayaannya tidak terdeteksi oleh negara. 

Ini membuktikan bahwa duniawi identik dengan keserakahan harta kekayaan, gila pujian ketika menjadi pejabat atau orang sukses, lalu menjadi semakin tamak, ibarat manusia durjana yang merasa haus dan semakin haus karena meminum air laut yang asin, sampai mencekik lehernya.

Para pesohor yang bergelimang uang itu banyak memanfaatkan jasa Mossack fonseca agar harta mereka tidak dipotong oleh negaranya masing masing. Dan yang paling mengejutkan adalah terungkapnya 12 pemimpin negara, serta 23 mantan peminpin negara, disamping  sejumlah nama bintang pemain bola dunia, aktor bahkan terdapat 168 politisi terkenal dunia, dan tentunya terdapat ribuan nama pengusaha sukses dunia sampai tokoh teroris juga menyimpan uangmya di Firma Hukum Mossack Fonseca ini.

Meski mereka tahu bahwa Pajak yang dipungut oleh negara juga kembali ke warga negara, namun  rakusnya sistim kapitalis yang begitu mengagungkan aset pribadi mampu membuat mereka lupa sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah lingkungan masyarakat.

Ketika keinginan untuk selalu menumpuk harta tanpa harus berbagi menjadi begitu tinggi maka cara cara mengamankannya pun menjadi prioritas utama hingga muncullah kejahatan pencucian uang dari hasil cara cara kotor untuk mendapatkan harta tersebut. Para pelaku bisnis sudah lupa bahwa terkumpulnya modal yang tidak seimbang pada sebagian golongan akan memunculkan ketimpangan dan kejahatan.

Apa yang dilakukan para  pencoleng melalui Mossack Fonseca menyadarkan kita betapa banyak harta yang mereka gelapkan yang seharusnya bisa untuk proses pembangunan negaranya. Namun anehnya banyak di antara mereka yang disebut dalam dokumen tersebut,  adalah pejuang pejuang demokrasi yang meneriakkan pemerataan dan kesejahteraan sosial di negara masing-masing. Inikah kebusukan Kapitalisme yang sanggup menciptakan ribuan kaum munafik demi mengumpulkan harta?

Kapitalisme akan menyuburkan Firma semacam Mossack Fonseca karena mereka mempunyai pasar yaitu orag orang yang rakus harta untuk menumpuknya tanpa harus dipotong oleh negara melalui pajak. 

Kita layak berterima kasih bahwa di dunia yang serba main telikung ini kita masih mempunyai lembaga yang disebut Pers. Bocornya dokumen dari panama ini juga tak lepas dari peranan International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) yang mengumpulkan dan menginvestigasi  dokumen yang meng hebohkan ini. 

Tanpa keterlibatan pers sebagai lembaga independent kemungkinan untuk meredam kerakusan kapitalisme menjadi kecil karena semua elemen demokrasi kecuali pers sudah terkendali oleh Kapitalisme.

Meski masih perlu diteliti kebenarannya secara hukum namun apa yang telah dilakukan ICIJ bisa menjadi indikasi bagi setiap penegak hukum di negara negara tempat orang orang yang disebut dalam dokumen itu, untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. 

Biar bagaimanapun kejahatan ekonomi seperti pencucian uang ini biasanya berbanding lurus dengan cara cara ilegal dalam proses transaksinya. Dan itu tidak jauh dari kolusi, suap dan tentunya korupsi. Karena besarnya dana yang disimpan setiap orang di Mossack Fonseca ini paling sedikit diatas Rp 1 triliun.

Dan yang terpaling sadis adalah ketika dunia mengetahui ada sekitar 2958 orang Indonesia yang menyimpan uangnya di firma hukum Mossack Fonseca ini, sehingga total uang yang dilarikan keluar negeri dan tersimpan di Mossack ini berjumlah Rp 50.000 Triliun atau setara dengan biaya anggaran negara untuk selama 40 tahun. 

Pertanyaannya, mampukan instutisi hukum kita seperti KPK, Kejaksaan Agung dan Polri menggiring para penjahat sohor itu ke sel penjara? *** Emil Foster Simatupang.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved