Headlines News :
Home » » Sanusi Yang Ganas Menyerang Ahok Berubah Menjadi Ayam Sayur Saat Pakai Rompi Tahanan KPK

Sanusi Yang Ganas Menyerang Ahok Berubah Menjadi Ayam Sayur Saat Pakai Rompi Tahanan KPK

Written By Infobreakingnews on Sabtu, 02 April 2016 | 09.09

Dengan Wajah Kusam Sanusi Digelelandang Masuk Sel Tahanan KPK
Jakarta, infobreakingnews - Lebih dari 24 jam politisi Partai Gerindra yang dikenal paling keras mengkritisi kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan yang selalu doyan menyerang Ahok, Mohammad Sanusi, diperiksa penyidik KPK membuat anggota DPRD yang dikenal penuh dengan penampilan mewah ini mejadi loyo bagai ayam sayur.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta M Sanusi itu ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (1/4) malam. Penahanan ini dilakukan setelah Sanusi yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) sehari sebelumnya, menjalani pemeriksaan intensif sebagai tersangka. 
Adik kandung wakil ketua DPRD DKI M.Taufik ini terlihat keluar ruang pemeriksaan pada Sabtu (2/4) dinihari sekitar pukul 00.25 WIB dengan wajah loyo, dan kegarangan wajahnya yang selalu tampil dilayar tv itupun berubah drastis dengan rompi oranye tahanan KPK yang digiring langsung mendekam kedalam sel tahanan.
 Politisi Gerindra yang juga dikenal sangat berpenampilan mewah ini memilih bungkam saat dikonfirmasi awak media mengenai kasus dugaan suap pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Wilayah Zonasi Pesisir Pulau-Pulau Kecil (RWZP3K) dan Raperda Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta yang menjeratnya sebagai tersangka. Termasuk mengenai dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPRD, M Taufik yang juga kakaknya dalam kasus ini.
Sanusi terus berjalan cepat dan masuk mobil tahanan yang membawanya ke Rumah Tahanan Polres Jakarta Selatan. KPK menahan Sanusi di rutan tersebut selama 20 hari mendatang.
Kuasa Hukum Sanusi, Krisna Murti menyebut kondisi kliennya tak memungkinkan untuk terus menjalani pemeriksaan. Sanusi, katanya Krisna langsung diperiksa selama lebih dari 24 jam setelah ditangkap tangan pada Kamis (31/3). Untuk itu, Krisna meminta penyidik untuk menunda sementara pemeriksaan terhadap kliennya.
"Kondisinya masih belum memungkinkan. Masih shock," kata Krisna usai mendampingi pemeriksaan Sanusi di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (2/4) dini hari.
Selama pemeriksaan ini, Sanusi dicecar penyidik dengan 17 pertanyaan. Pemeriksaan ini, kata Krisna masih seputar pemberian uang suap dari PT Agung Podomoro Land (APL). Namun, Krisna belum mengetahui secara rinci kasus yang menjerat kliennya ini.
Tak hanya Sanusi, KPK juga langsung menahan Karyawan PT APL Trinanda Prihantoro yang turut ditangkap dalam OTT. Trinanda yang menjabat Personal Asistant PT APL itu ditahan setelah selesai diperiksa intensif penyidik hingga Sabtu (2/4) dinihari sekitar pukul 01.07 WIB.
Seperti halnya Sanusi, Trinanda yang telah mengenakan rompi tahanan tak berkomentar apapun saat keluar Gedung KPK. Trinanda berusaha menutupi wajahnya, sementara tangannya terlihat terus menggenggam kantong plastik putih.
Tanpa menghiraukan berbagai pertanyaan wartawan, Trinanda terus berjalan ke mobil tahanan yang akan mengantarnya ke Rumah Tahanan Polres Jakarta Timur. KPK menahan Trinanda di Rutan Polres Jakarta Timur selama 20 hari ke depan terhitung sejak Jumat (1/4).
Diberitakan, kasus ini bermula dari OTT yang dilakukan Tim Satgas KPK pada Kamis (31/3) malam. Dalam OTT ini, KPK menangkap Sanusi usai menerima uang dari seorang perantara bernama Geri di sebuah pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta Selatan.
Uang tersebut merupakan pemberian dari Trinanda yang diperintahkan oleh Presdir PT.Agung Podomoro Land ( APL), Ariesman Widjaja. Dan pemerian uang ini merupakan yang kedua kali, setelah sebelumnya Sanusi menerima Rp 1 miliar pada 28 Maret 2016 lalu. Padahal sebelumnya Sanusi yang masuk daftar Cagub DKI ini gencar menyerang Ahok dan mengkritisi secara keras KPK dalam banyak kasus korupsi.
Uang sebesar Rp 1 miliar dan Rp 140 juta yang diterima Sanusi diduga bagian dari commitment fee suap yang terkait pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) DKl Jakarta terkait Reklamasi, yakni Raperda tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi Jakarta 2015-2035 dan Raperda tentang Rencana Kawasan Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.
Sementara bos Agung Padomoro Land, Ariesman Wiajaya, yang datang menyerahkan diri pada Jumat Malam itu langsung ditahan bersama staffnya, Trinanda setelah ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap. 
Keduanya disangka melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. *** Candra Wibawanti.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved