Headlines News :
Home » » Diperiksa KPK, Aguan Bungkam, Tapi Sunny Akui Jadi Penghubung

Diperiksa KPK, Aguan Bungkam, Tapi Sunny Akui Jadi Penghubung

Written By Infobreakingnews on Kamis, 14 April 2016 | 07.30

Bos Agung Sedayu Group, Aguan
Jakarta, infobreakingnews - Bos Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma enggan memberikan komentar apapun terkait kasus dugaan suap dalam pembahasan dua Raperda mengenai reklamasi di pantai utara Jakarta. Sikap tersebut ditunjukan Aguan, sapaan Sugianto usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama sekitar delapan jam sebagai saksi atas kasus yang telah menjerat Ketua Komisi D DPRD DKI, M Sanusi, dan Presdir PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja itu, pada Rabu (13/4).
Keluar ruang pemeriksaan sekitar pukul 18.00 WIB, Aguan dikawal ketat oleh sejumlah anggota kepolisian. Berbagai pertanyaan wartawan menyangkut kasus ini tak digubris oleh Aguan. Dengan tenang, Aguan yang mengenakan kemeja batik warna ungu melangkah dan masuk mobil Alphard berwarna putih B 88 IF yang telah menunggunya di pelataran Gedung KPK.
Sementara pada hari yang sama juga Sunny Tanuwidjaja, staff khusus Gubernur Basuki, mengakui menjadi penghubung antara pihak pengembang yang terlibat dalam reklamasi 17 pulau di pantai utara Jakarta dengan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan pihak eksekutif lainnya.
Hal itu dikatakan Sunny usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus dugaan suap terkait pembahasan dua Raperda mengenai reklamasi di pantai utara Jakarta. Rabu (13/4).
Diakui Sunny hubungannya dengan pengembang dan Pemprov DKI merupakan salah satu poin yang ditanyakan penyidik dalam pemeriksaan yang berlangsung selama sekitar delapan jam ini.
"Ditanyakan juga soal itu. Intinya saya menerima informasi dari pengembang dan saya menyampaikannya kepada Pak Gubernur dan eksekutif," kata Sunny.
Sunny yang disebut sebagai orang dekat Ahok ini mengaku dicecar penyidik dengan 12 pertanyaan. Selain soal hubungannya dengan para pengembang, Sunny juga ditanya penyidik mengenai tugas pokok dan fungsinya di kantor Gubernur DKI. Termasuk dalam pembahasan Raperda tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RWZP3K) Provinsi Jakarta dan Raperda tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.
"Ditanya yang simpel-simpel saja. Soal tugas dan fungsi saya di kantor Gubernur, peranan saya dalam pembahasan raperda, kemudian juga soal hubungan saya dengan tersangka, Pak Sanusi. Itu saja," kata Sunny.
Sunny tak membantah beberapa kali turut mengatur jadwal pertemuan antara Ahok dengan pihak pengembang. Namun, katanya, terkadang para pengusaha tersebut bertemu dengan Ahok tanpa diatur dirinya.
"Kan biasanya Pak Ahok bisa ketemu mereka sendiri. Kadang minta bantu saya jadwalkan. Dengan Pak Ahok kadang-kadang, tidak selalu," kata dia.
Meski demikian, Sunny membantah salah satu yang diusulkan pihak pengembang untuk disampaikan kepada Ahok mengenai kontribusi tambahan yang dibebankan kepada pengembang. Kontribusi tambahan ini disebut menjadi salah satu poin dalam Raperda yang masih menjadi perdebatan antara DPRD dan Pemprov DKI.
Pihak DPRD disebut ingin kontribusi tambahan itu sebesar 5 persen dari luas lahan kali NJOP, sementara Pemprov DKI menginginkan kontribusi tambahan sebesar 15 persen dari luas lahan kali NJOP.
"Oh enggak, nggak termasuk‎ (kontribusi tambahan)," ujar Sunny.
Sunny mengaku tak mengetahui adanya aliran dana dari para pengusaha kepada anggota DPRD dan Pemprov DKI. Menurutnya, aliran uang itu tidak ditanyakan oleh penyidik.
"Enggak, enggak tahu. Enggak ditanyakan juga," katanya.
Diketahui, Sunny merupakan salah satu pihak yang turut diminta KPK untuk dicegah Ditjen Imigrasi bepergian ke luar negeri. Sebelumnya, Komisioner KPK, Saut Situmorang menyatakan, KPK meminta Ditjen Imigrasi untuk mencegah Sunny lantaran nama itu selalu disebut-sebut pada saat para tersangka dalam kasus ini, yakni Sanusi; Presdir PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja; serta Personal Assistant PT Agung Podomoro Land, Trinanda Prihantoro. *** Raymond Sinaga.


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved