Headlines News :
Home » » Bangsa Ini Akan Lebih Kuat Jika Pembinaan Hukum Dijadikan Kurikulum Pendidikan Dasar

Bangsa Ini Akan Lebih Kuat Jika Pembinaan Hukum Dijadikan Kurikulum Pendidikan Dasar

Written By Infobreakingnews on Minggu, 03 April 2016 | 16.17

Hartono Tanuwidjaja, SH Msi
Jakarta, infobreakingnews - Menimbang semakin parahnya pelanggaran hukum dan ketidak patuhan terhadap hukum, pihak pemerintah dihimbau segera menjadikan pelajaran ilmu hukum sekaligus pembinaan hukum sejak dini melalui kurikulum pelajaran dari tingkat Sekolah Dasar hingga pada jenjang pendidikan SLTA.

" Hilangnya mata pelajaran Budi Pekerti dibangku sekolah pendidikan dasar sejak tahun 1980, sangat mempengaruhi pertumbuhan prilaku anak ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Sehingga tidak heran mengapa belakangan ini kita acapkali melihat anak remaja hingga orang dewasa, cenderung berprilaku melanggar hukum." kata Hartono Tanuwidjaja, SH Msi, melalui pesan singkatnya kepada infobreakingnews.com, Minggu (3/4/2016).
Lebih lanjut Hartono yang juga sebagai Ketua PERADI Jakarta Barat ini menyebutkan, tidak ada salahnya dimasukan pendidikan anti korupsi pada kurikulum sekolah dasar, tetapi harus diingat bahwa pendidikan anti korupsi itu adalah merupakan sebagian kecil dari ilmu pengetahuan hukum itu secara utuh.

Hartono sendiri melihat pembinaan hukum yang dilakukan oleh pihak MenkumHAM didalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan hal yang sia sia, jika pendidikan hukum tidak dilakukan sejak dini disekolah dan diterapkan dalam masyarakat melalui pembinaan orangtua ditengah keluarga.

“ Jangan terbalik, harusnya pembinaan dan pendidikan hukum diberikan ketika orang belum melakukan pelanggaran hukum dan harus diberikan sejak dini kepada anak-anak, salah satu contoh yang paling sederhana adalah ketika orangtua memberitahu kepada anaknya, bahwa mengendarai sepeda motor dengan tidak menggunakan Helm  apalagi belum cukup umur karena tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), itu adalah salah dan bisa menimbulkan persolan hukum. " ungkap Hartono.

“ Di ibaratkan peristiwa kejahatan itu muncul setiap hari seperti rumput, walaupun dipangkas, ditebang maupun dicabut, tapi akan muncul lagi, karenanya sejak dini anak harus sudah diberitahu bahwa ini baik dan itu tidak baik,” ungkapnya.
Menurut Hartono yang sudah berprofesi hampr selama 25 tahun sebagai Advokat & Pengacara Hukum  ini, pertumbuhan prilaku positip anak bangsa sangat ditentukan oleh rasa solidaritas, karena untuk mengisi kebersamaan demi keutuhan bangsa dan negara itu harus dilakukan dari kacamata yang positif, yaitu tidak sekedar mengedepankan penegakan hukum, tidak sekedar patuh kepada hukum, tidak sekedar mengikuti criminal justice sistem. “Tapi harus mengisi, peran apa untuk mencegah terjadinya kejahatan, hal yang terpenting sebelum menjadi penjahat dia harus dibina. Bukan orang sudah jahat baru dibina, itu kan terbalik,” paparnya.
Lebih penting lagi menurut Hartono, agar pemerintah memberikan penghargaan berupa peran terhadap seseorang yang baik dengan remunerasi income yang baik juga. Jangan orang yang baik tidak diperhatikan, sementara orang yang belum tentu baik, namun karena merupakan publik figur justru dia yang diperhatikan.

"Namun sekali lagi dan yang paling mendasar adalah keluarga dan faktor lingkungan, merupakan faktor penentu dalam proses pembentukan karakter seseorang untuk menjadi baik atau tidak baik. " ungkap Hartono.

Bahkan seorang penulis besar bernama Jackson Brown Jr,menyebutkan, 
Karakter kita adalah apa yang dilakukan ketika kita berpikir tidak ada yang melihat

" Jadi sebenarnya setiap manusia itu berproses untuk belajar mengendalikan pikirannya supaya dia mendapatkan kebahagiaan hidupnya. " pungkas Hartono.
*** Emil Foster Simatupang.



Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved