Headlines News :
Home » » Apapun alasannya, Presiden Jokowi Harus Pecat Ketua BPK Yang Terlibat Panama Papers

Apapun alasannya, Presiden Jokowi Harus Pecat Ketua BPK Yang Terlibat Panama Papers

Written By Infobreakingnews on Minggu, 17 April 2016 | 09.41

Ketua KPK, Agus Rahardjo
Jakarta, infobreakingnews – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus menilai masyarakat atau Pemda DKI Jakarta dapat melakukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap BPK terkait Laporan Hasil Pemeriksaan atau LHP BPK dalam pembelian lahan RS Sumber Waras. Gugatan ini dilayangkan jika opini, kesimpulan dan rekomendasi yang dituangkan di dalam LHP BPK tersebut merupakan pesanan[ihak tertentu yang bermuatan politis, karena tidak sinkron dengan temuan fakta-fakta hukum hasil pemeriksaan.
Apalagi belakangan ini banyak ditemukan kajian BPK menyimpang karena adanya pesanan khusus yang dikemas melalui kajian auditor yang patut dibersihkan dari lembaga yang menghitung kerugian negara itu.
Sebelumnya diketahui bahwa ketua BPKnya Harry Azhar Azis sendiri justru tersangkut dalam skandal besar Panama Papers, yang kini menjadi topik dunia kriminal yang mengemplang pajak negara, terlebih bagi Harry Azhar Azis yang kini menjabat ketua BPK,  justru diketahui pernah mendirikan suatu perusahaan offshore dengan nama China yaitu Sheng Yeu International Limited, yang merupakan satu perusahaan hitam yang fungsinya hanya untuk melarikan sejumlah uang bernilai besar keluar negeri dan melepaskan dari tanggung jawab membayar pajak kepada negara, yang juga bisa diartikan sebagai uang hasil kejahatan korupsi atau pencucian uang, seb
Dalam UU BPK, kata dia LHP adalah akhir dari proses penilaian kebenaran, kepatuhan, kecermatan, kredibilitas dan keandalan data atau informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan secara independen, obyektif dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan yang dituangkan dalam LHP sebagai Keputusan BPK.
“Karena itu, LHP BPK harus benar-benar berisi pernyataan yang profesional dari pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang tidak boleh menyesatkan siapapun, apalagi kalau LHP itu dibuat berdasarkan pesanan pihak-pihak tertentu dengan motif politik, ekonomi dan/atau KKN untuk mengkriminalisasi seseorang yang jelas-jelas di luar tujuan dilakukan audit menurut UU,” ujar Petrus di Jakarta, Minggu (17/4).
Dalam banyak kasus, kata Petrus, pihaknya sering menemukan LHP BPK patut diduga sebagai rekayasa, karena antara temuan penyimpangan, opini dan kesimpulan serta rekomendasinya tidak sinkron. Kadang-kadang temuan penyimpangannya, kata dia mencengangkan, opini dan kesimpulannya mengerikan, akan tetapi rekomendasinya loyo. Atau sebaliknya temuan dan opini serta kesimpulannya biasa-biasa saja, akan tetapi rekomendasinya meminta agar pejabat yang bersangkutan diproses pidana oleh KPK, Kejaksaan atau Polri.
“Ini mengindikasikan bahwa para auditor BPK RI tidak bekerja secara independen, obyektif dan profesional, dalam menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, kepatuhan dan keandalan data/informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab atas keuangan negara,” tandas dia.
Diungkapkan, bahwa dalam situasi di mana KKN di kalangan penyelenggara negara terjadi secara masif, maka BPK harus dipandang sebagai sebuah institusi dengan pejabat-pejabat yang memiliki jabatan yang rawan KKN. Karenanya, dalam menyusun sebuah LHP, patut diduga terjadi manipulasi data/informasi dalam memberikan penilaian kebenaran, kepatuhan, kecermatan, kredibilitas dan keandalan data/informasi tentang pengelolaan dan tanggung jawab atas keuangan negara.
“Dengan demikian, seseorang akan dengan sangat mudah dikriminalisasi atau dipolitisasi haknya untuk mendapatkan keadilan yang diawali dari penyesatan terhadap LHP BPK, dan dengan mudah aparat penegak hukum akan menjadikan LHP sebagai salah satu bukti permulaan untuk menaikan status pemeriksaan dari penyelidikan ke penyidikan dan memberi status tersangka kepada seseorang,” ungkap dia.
Dalam kasus pembelian lahan RS Sumber Waras, menurut Petrus, LHP BPK sudah ditangan KPK bahkan menjadi salah satu alat bukti bagi KPK dalam melakukan penyelidikan. Publik berharap agar KPK tetap menjaga independensi dan netralitasnya dalam melihat LHP BPK dimaksud, sebagaimana KPK pernah menyatakan penilaian atau pendapatnya bahwa dalam kasus pembelian lahan RS. Sumber Waras, belum ada kerugian negara dan tidak adanya niat Gubernur DKI Jakarta untuk melakukan kejahatan korupsi.
“KPK bisa saja mengabaikan LHP BPK karena KPK berbeda penilaian dan pendapat dengan LHP BPK terkait dugaan korupsi dalam pembelian lahan RS. Sumber Waras. Di sini sesungguhnya opini, kesimpulan dan rekomendasi BPK tentang telah ada kerugian negara akibat adanya pelanggaran hukum dalam jual beli lahan RS. Sumber Waras dapat dikesampingkan oleh KPK,” terang dia.
“Karena bisa saja meskipun menurut KPK telah ada pelanggaran hukum, tetapi tidak ada kerugian negara atau sebaliknya ada kerugian negara tetapi tidak ada pelanggaran hukum, sehingga penyelidikan kasus dugaan korupsi pembelian lahan RS. Sumber Waras wajib dihetikan penyelidikannya berdasarkan kewenangan KPK menurut ketentuan pasal 44 UU KPK,” kata dia menambahkan.
Selain terdapat mekanisme penghentian penyelidikan, lanjut Petrus, KPK juga masih memiliki satu kewenangan lain yaitu mengalihkan penyidikan yang sedang dilakukan oleh KPK kepada Jaksa Pengacara Negara atau kepada Pemda DKI Jakarta untuk menempuh proses gugatan perdata manakala Pemda DKI Jakarta merasa dirugikan dalam jual beli lahan RS. Sumber Waras ini. Mekanisme hukum seperti ini, kata dia telah dianut oleh UU No. 31 Tahun 1999, Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Hal ini sudah diatur di dalam Pasal 32 yang menyebutkan dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa salah satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk mengajukan gugatan perdata atau kepada instansi yang dirugikan untuk melakukan gugatan perdata berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata.
“Dalam konteks ini, KPK harus menjadi filter terakhir untuk menangkal seluruh upaya pihak-pihak tertentu yang mencoba memperalat LHP BPK sebagai senjata untuk mengkriminalisasi atau mempolitisasi seseorang,” kata Petrus.
Lebih dari itu menurut Petrus, teriakan nyaring ketua BPK Harry Azhar Azis terkait Audit RS Sumber Waras, ibarat maling teriak maling.*** Jerry Art.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved