Headlines News :
Home » » Jalur Independen Ahok, Puncak Kebencian Rakyat Terhadap Mahar Partai Politik

Jalur Independen Ahok, Puncak Kebencian Rakyat Terhadap Mahar Partai Politik

Written By Infobreakingnews on Selasa, 22 Maret 2016 | 07.26

Denpasar, infobreakingnews - Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto (AH) menilai munculnya gerakan melawan partai politik atau yang biasa disebut deparpolisasi, salah satunya karena adanya praktik mahar politik di parpol.
Adanya mahar itu membuat banyak anak bangsa berkualitas tidak bisa maju menjadi calon pemimpin, baik di tingkat lokal maupun nasional karena harus membayar mahar ke parpol.
"Salah satu penyebab deparpolisasi adalah mahar politik. Rakyat muak cara-cara seperti itu," kata AH saat roadshow dengan pimpinan Dewan Pengurus Daerah (DPD) PG se-provinsi Bali di Denpasar, Selasa (22/3).
Acara itu dihadiri semua pimpinan DPD I dan DPD II Bali, sementara AH didampingi Ketua Tim Sukses (Timses) Melchias Markus Mekeng, anggota tim Lawrence Siburian, Indra Piliang dan Lamhot Sinaga.
AH mengakui secara terus terang ada mahar itu di parpol dan menurutnya semua parpol yang ada di negara ini melakukan hal tersebut.
Baginya, pembangunan demokrasi di negara ini tidak akan menjadi lebih baik jika didasarkan pada praktik-praktik mahar tersebut. Artinya, demokrasi yang dibangun bukan peningkatan kualitas tetapi lebih berkembang karena besarnya uang (kapital).
Jika terpilih menjadi Ketum Golkar, dia bertekad mengikis, bahkan menghilangkan praktik-praktik tersebut.
"Saya jadikan mahar itu sebagai modal kampanye bagi sang calon kepala daerah. Bukan meminta mahar kepada calon supaya bisa dicalonkan. Bagaimana mau menang kalau uang sudah habis untuk bayar mahar," jelasnya.
Dia menjelaskan, apa yang terjadi dengan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok saat ini adalah perlawanan dari generasi Y atau generasi milenium terhadap perilaku parpol yang korup, pragmatis, dan sarat praktik mahar setiap ada pencalonan kepala daerah.
Para generasi Y tersebut sesungguhnya tidak anti parpol, tetapi praktik-praktik parpol yang tidak benar tersebut menimbulkan gerakan deparpolisasi.
"Kondisi ini tidak bisa disalahkan para generasi tersebut karena parpol gagal bekerja sesuai harapan rakyat. Parpol harus koreksi diri," tegas anggota Komisi XI DPR ini.
Sebagaimana diketahui, generasi Y merupakan istilah bagi para anak muda yang lahir di tahun 1980-an. Generasi ini biasa disebut generasi millenium yang muncul setelah Generasi X.
Generasi ini dicirikan menguasai dunia media sosial (medsos), anti kemapanan dan status quo, dan selalu menginginkan ada hal baru atau perubahan. Generasi ini sangat menghormati egaliterian.
"Kebijakan masing-masing partai berbeda. Tapi ke depan Golkar akan mendorong mahar tak jadi penghalang. Perlu ada kriteria tertentu, sebaiknya mahar menjadi modal untuk maju. Bagi saya memenangi pilkada lebih baik dari pada mahar," pungkasnya. *** Any Christmiaty.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved