Headlines News :
Home » » Walau Kemuakan Rakyat Memuncak, MKD Tetap Tutup Hati Nurani, Jaksa Harus Cepat Tangkap

Walau Kemuakan Rakyat Memuncak, MKD Tetap Tutup Hati Nurani, Jaksa Harus Cepat Tangkap

Written By Infobreakingnews on Selasa, 08 Desember 2015 | 16.39

Imam Prasodjo
Jakarta, infobreakingnews -  Hampir semua lapisan masyarakat sudah melampiaskan kemarahannya terhadap proses MKD di Senayan yang berlangsung gaduh dan terkontaminasi korup, sampai Sosiolog Universitas Indonesia Imam B Prasodjo jengah. Ia muak akan apa yang terjadi di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Walau begitu banyak diprotes, namun para politisi Senayan dari kubu KMP seakan tak perduli dengan jeritan rakyat yang sudah terlalu muak denganprilaku koruptif ditengah penderitaan rakyat yang semakin sulit mencari biaya penghidupan.

Mahkamah terhormat itu baru saja menggelar sidang etik kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla oleh Ketua DPR Setya Novanto. Sidang kasus pencatutan nama petinggi negara terkait perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia itu berlangsung tertutup.

Sidang untuk Novanto itu berjalan berbeda dengan dua sidang sebelumnya yang menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said dan Presiden Direktur PT FI Maroef Sjamsoeddin.

Melalui puisi berjudul Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia Imam menilai apa yang dipertontonkan MKD merupakan kebobrokan moral. Panggilan 'yang mulia' untuk Anggota DPR yang diberi hak menggunakan jubah layaknya hakim pengadilan itu membuat hatinya terluka.

Ratusan juta masyarakat negeri ini menyaksikan kepalsuan 17 Anggota MKD. Meminjam istilah yang sering disebut belakangan, MKD bak masuk angin dalam menuntaskan kasus Novanto.

Tenggorokan Imam dan masyarakat digambarkan begitu kering karena tontonan konyol itu. Imam tak kuat, ia meludahi 17 orang yang tampak bangga dengan panggilan 'yang mulia' itu melalui puisi.

Berikut petikan puisi yang ditulis Imam dalam akun Facebook-nya, sesaat setelah sidang etik Novanto digelar.

Maafkan Aku Meludah ke Arah Wajahmu yang Mulia

Tidakkah kita melihat
Sebuah kebobrokan moral
Kasat mata diperagakan
Integritas begitu unggul bersinar
Bersanding dengan gelapnya kepalsuan

Panggilan "yang mulia" berkali diucapkan
Namun hati begitu terluka mendengar
Karena gelar dan perilaku tak bersesuaian
Karena baju kehormatan disalahgunakan
Dijadikan penutup kebusukan dan kebobrokan

250 juta pasang mata melihat
Tenggorokan begitu kering terjerat
Tak mampu menelan ludah
Melihat kemunafikan di puncak kebejatan

Karena itu yang mulia
Maafkan aku
Kali ini aku tak tahan
Harus meludah ke arah wajahmu
Wajah kepalsuan yang bagiku
Begitu menyebalkan dan memuakkan

*** Any Christmiaty.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved