Headlines News :
Home » » Sepanjang Sejarah Tragedi Yang Sarat Rekayasa, Baru Kali Ini Presiden Undang Prajurit Pengangkat Jenazah Korban PKI

Sepanjang Sejarah Tragedi Yang Sarat Rekayasa, Baru Kali Ini Presiden Undang Prajurit Pengangkat Jenazah Korban PKI

Written By Infobreakingnews on Kamis, 01 Oktober 2015 | 19.58

Luhut Panjaitan

Jakarta, infobreakingnews - Ganti acara rutin tahunan  ala orde baru, Hari Sakti Pancasila, Presiden Joko Widodo mengundang para prajurit pengangkat jenazah enam jenderal dalam tragedi Gerakan 30 September 1965 ke Istana Kepresidenan Jakarta.


"Presiden mengundang tiga prajurit yang mengangkat jenazah Pahlawan Revolusi untuk bertemu di Istana," ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan kepada infobreakingnews.com, di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2015).

Menurut Luhut, undangan itu sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada para prajurit. Luhut mengaku mendapat perintah mencari semua prajurit yang terlibat dan masih hidup sampai saat ini.

"Saya kira itu menjadi salah satu apresiasi Presiden, karena tinggal tiga yang hidup dari semua yang terlibat pengangkatan jenazah," kata mantan Kepala Staf Kepresidenan ini.

Seperti diketahui, ada delapan penyelam dan dua dokter yang mengangkat jenazah Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Mereka dipimpin Komandan Kompi Intai Para Amfibi KKO AL Kapten KKO Winanto.

Anggota RPKAD Kopral Anang berhasil mengangkat jasad Lettu CZI Pierre Andreas Tendean atau ajudan Jenderal A.H. Nasution.

Pratu KKO Subekti mengangkat dua jenazah sekaligus, yakni jasad Mayjen Suwondo Parman (Asisten I bidang intelijen Menpangad) dan Mayjen Soeprapto (Deputi II Menpangad).

Kopral KKO Hartono berhasil mengangkat jenazah Mayjen Haryono M.T. (Deputi III Menpangad) dan Brigjen Sutoyo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal TNI-AD). Sementara Serma KKO Suparimin berhasil mengangkat jenazah Letjen A. Yani.

Kapten KKO Winanto sendiri mengecek lagi ke dalam sumur untuk memastikan masih ada atau tidaknya jenazah lain. Alumnus AAL 1959 itu ternyata berhasil menemukan satu jasad lagi, yakni Brigjen D.I. Pandjaitan (Asisten IV bidang Logistik Menpangad). 

Apakah masih relevan slogan Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawan nya, atau undangan kepada para pengangkat jenazah korban PKI itu semacam pemanis dari perdebatan pepsan kosong menyoal Jokowi dikabarkan akan minta maaf kepada PKI yang ternyata merupakan fitnah yang dikembangkan oleh aktor PKI yang sampai saat ini masih bergentayangan. Wallahulallam bissawab. *** Emil F Simatupang.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved