Headlines News :
Home » » Potret Negeri Korupsi, Orang Kuat Yang Kebal Hukum Dalam Kasus Pelindo II Tak Bisa Disentuh

Potret Negeri Korupsi, Orang Kuat Yang Kebal Hukum Dalam Kasus Pelindo II Tak Bisa Disentuh

Written By Infobreakingnews on Kamis, 15 Oktober 2015 | 13.47

Jakarta, infobreakingnews - Sampai saat ini kasus Pelindo yang diduga banyak menalan uang negara, belum ada yang dinyatakan tersangka padahal kerugian negara cukup jelas dalam kasus mega korupsi yang melebihi besar uang yang dirampok dalam kasus Century. 
Semua ini akibat adanya manusia yang sampai saat ini tidak dapat disentuh oleh aparat hukum, karena kekuasaan jabatan dan uang suap yang super royal. sehingga ocehan dari mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol (Purn) Victor Edison Simanjuntak mengungkapkan, adanya pihak-pihak yang tak tersentuh hukum atau untouchable man yang turut bermain dalam dugaan korupsi di Pelindo II. Adanya pihak untouchable man tersebut sempat diwanti-wanti oleh pelapor dugaan penyimpangan pengadaan barang dan jasa di Pelindo II kepada Bareskrim Polri dan dirinya saat melaporkan kasus itu pada Mei 2015 lalu.
"Awal Mei 2015, diperoleh informasi adanya penyimpangan barang dan jasa di Pelindo II. Dalam informasi tersebut dikatakan banyak pihak yang bermain di Pelindo II dan tidak akan tersentuh hukum. Yang melapor bilang, hati-hati ada orang yang untouchable di sini (Pelindo II)," kata Victor dalam diskusi "Mengurai Benang Kusut Korupsi Pelindo II" di Gedung Pemuda/DPP KNPI, Jakarta, Selasa (13/10).
Victor tak mengungkap lebih jauh mengenai sosok untouchable tersebut. Namun, Victor mengakui adanya sosok untouchable ini membuatnya terpacu untuk membongkar dugaan korupsi di tubuh perusahaan pelat merah itu. "Adrenalin saya meningkat. Saya keluarkan surat perintah penyelidikan untuk pengumpulan bahan keterangan dan barang bukti," katanya.
Victor menyatakan, banyaknya pihak yang bermain di Pelindo II, bahkan ada yang tak tersentuh hukum membuat pihaknya berhati-hati menangani kasus dugaan penyimpangan pengadaan mobil krane, QCC, simulator mobil krane, dan simulator kapal tersebut. Bahkan, dalam sebuah gelar perkara yang langsung dipimpinnya, Victor meminta tim penyelidik mencari tiga alat bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan status kasus itu ke tahap penyidikan. Padahal, dalam kasus lain, untuk meningkatkan status dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan hanya dibutuhkan dua alat bukti yang cukup.
"Saya pimpin gelar perkaranya. Waktu itu sudah ada bukti yang cukup, tapi saya katakan ke penyidik, karena banyaknya yang bermain di Pelindo II, tolong dilakukan penyelidikan lagi agar ada tiga alat bukti," ungkapnya.
Menurut Victor, dari penyelidikan yang dilakukan, pihaknya telah mendapat tiga alat bukti yang cukup untuk melakukan penindakan, yakni keterangan tujuh orang saksi, keterangan ahli, dan petunjuk berupa dokumen-dokumen yang diberikan oleh terlapor. Dengan alat-alat bukti tersebut, dalam suatu gelar perkara yang juga dihadiri oleh pihak dari Badan Pemeriksa Keuangan, Victor memutuskan untuk menindak Pelindo II dan melakukan penggeledahan.
"Melakukan penindakan tentu tidak sembarangan. Ada izin dan penetapan penggeledahan dari pengadilan. Saya panggil bagian hukum dari Pelindo II dan menyerahkan penetapan pengadilan untuk penggeledahan," tuturnya.
Dari hasil penggeledahan yang dilakukan pada akhir Agustus lalu itu, Bareskrim Polri menyita sejumlah dokumen di ruang kerja Direktur Utama PT Pelindo II, RJ Lino. Salah satu dokumen penting yang disita yakni hasil audit BPK yang berkesimpulan telah terjadi penyimpangan pengadaan barang di Pelindo II, termasuk mengenai proses pengadaan barang berupa mobil krane di Pelindo II yang seharusnya bottom up dilakukan secara top down karena perencanaan pengadaan mobil krane dilakukan Pelindo II dan dikirim ke masing-masing pelabuhan seperti Lampung, Bengkulu, Teluk Bayur, Palembang, Banten, Pontianak, dan lainnya.
Manajer teknik pelabuhan diminta menandatangani perencanaan pengadaan mobil krane sehingga seolah-olah pelabuhan yang membuat perencanaannya.
"Ada delapan mobil krane di pelabuhan. Terbengkalai tidak terpakai. Apakah boleh beli barang yang tidak digunakan. Padahal prinsip pembelian barang itu kehati-hatian," tegasnya.
Victor mengungkapkan, saat tim penyidik Bareskrim melakukan penggeledahan, Lino turun ke bawah dan menggelar konferensi pers. Dalam konferensi pers itu, Lino langsung menelepon Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Sofyan Djalil dan mengancam akan mengundurkan diri jika kepolisian melanjutkan proses penggeledahan.
Menurut Victor, tindakan Lino tersebut yang membuat kegaduhan hingga berujung dicopotnya Komjen Pol Budi Waseso sebagai Kabareskrim. "Apa kami sewenang-wenang terhadap pelaku, atau saat melakukan penggeledahan? Apa kami menyiksa? Tidak. Ada yang bilang gaduh, namanya penindakan ya gaduh, tapi saya sendiri tidak gaduh. Yang gaduh adalah orang yang menelepon menteri. Di depan umum dia telepon menteri. Ada nada perintah, kalau ini tidak diselesaikan saya akan mundur," ungkapnya.
Setelah Budi Waseso dicopot sebagai Kabareskrim dan digantikan oleh Komjen Pol Anang Iskandar, penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan mobil krane di Pelindo II belum berlanjut hingga saat ini. Bahkan, akibat pencopotan Budi Waseso, Victor mengundurkan diri sebagai Dirtipideksus Bareskrim Polri.
Gilanya lagi dalam kasus besar yang sempat menjadi perhatian publik akibat sikap arogan Lino yang pamer didepan ratusan wartawan, memaerkan acktingnya yang heboh di telepon beberapa orang menteri dan mengancam akan mundur dari Pelindo. Tapi banyak kalangan mengartikan bahwa Lino saat itu sedang mengancam akan membongkar banyak pejabat yang ikut kecepretan uang haram selama ini dari jalur Pelindo II. 
Disini sangat jelas terlihat bahwa Presiden Jokowi sama sekali tak berdaya dan tak mampu mengatasi nya malah membiarkan seorang Buwas yang sedang hebatnya memerangi kasus besar, dicopot ke BNN. Inilah potret negeri penuh korupsi. *** Emil F Simatupang.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved