Headlines News :
Home » » Kisah Nyata "Perzinahan Masa Kecilku" (bagian 2)

Kisah Nyata "Perzinahan Masa Kecilku" (bagian 2)

Written By Infobreakingnews on Kamis, 08 Oktober 2015 | 17.42

True story, infobreakingnews - Ivan yang memiliki bentuk tubuh lebih tinggi dari Andy terbilang lebih royal dalam memberikan jajan buatku, Ivan lah yang meneruskan biaya sekolahku. Namun lebih dari itu justru Ivan lah yang paling boros dalam bercinta, seakan tak pernah merasa lelah menggauliku. Bedanya Ivan selalu ceriwis dalam menggauliku karena selalu saja memuji bentuk tubuhku yang mempesona syahwat kelakiannya. Aku nyaris dibuatnya kewalahan, karena selain ukurannya jauh lebih big dari Andy, tapi Ivan juga suka bermain longplay.

Orangtua Ivan merupakan salah satu petinggi di bagian reserse kriminal dengan pangkat Jenderal bintang dua. Pernah dua kali aku bertemu dengan papinya Ivan yang cukup disegani dikalangan Polisi, tapi aku mengerti kalau papi Ivan itu memberikan support buatku untuk meneruskan jalinan cinta dengan putranya.

Sekali waktu disaat liburan Ivan sengaja permisi kepada orangtuaku untuk membawaku liburan keluar kota. Ivan yang sudah mulai mengerti prihal keadaan ayahku yang sangat berterima kasih atas biaya sekolahku dibayar Ivan, namun lebih dari itu Ivan juga tau kalau ibu tiriku yang matre itu akan selalu tersenyum manis jika dibawain banyak makanan serta segepok uang ketangannya. 

Aku sendiri ga pernah dikasih Ivan kalau akan beberapa malam nginap di Villa milik ortunya yang berada dikawasan Anyer Banten itu. Sebuah rumah mewah yang lengkap dengan peralatan dapur serta tungku perapian diruang tengah sambil bakar jagung dan ikan segar yang kami beli dari nelayan pantai.

Kehidupanku yang sulit, membuatku baru kali ini menikmati suasana pantai dengan suara debur ombak yang tak pernah berhenti, membuat hatiku sejuk hingga terbawa suasana romantis dalam dekapan Ivan yang doyan banget.

Ivan yang memanjakanku dengan bakar ikan dan membeli buah Duren, membuat darah mudaku semakin bisa mengimbangi besarnya birahi Ivan. Dengan Ivan lah aku baru mengerti posisi 69 dan posisi lainnya yang selama ini hanya bayang biru yang kulihat disitus dewasa. Oh ampun betapa aku baru merasakan nikmatnya hingga kepaling puncak birahiku.

Dengan Ivan juga aku belajar minum Bir dengan santap ikan bakar ala kami berdua di Villa pinggir pantai Banten itu. Aku juga akhirnya sudah terbiasa dengan aroma asap rokok dari Ivan, walau begitu aku tak pernah tertarik untuk mencoba merokok seperti beberapa teman wanita dikelasku. Tapi justru merokok yang satu dan spesial itu lah aku semakin lihay bersama Ivan.

Untungnya sejak kecil aku tidak pernah merasa jijik terhadap aroma yang kurang sedap, dan hal itulah yang membuat Ivan semakin menggila menggauli habis lekuk tubuhku.Sehingga apapun yang diinginkan Ivan aku selalu manut saja.

Dua hari dua malam kami habiskan waktu kami berdua di Villa Anyer nan indah. Dengan adanya tukang urut yang mencari penghasilan tambahan dikawasan pantai Anyer, aku bersama Ivan merasakan nikmatnya tubuh yang semalaman luluh lantah diatas ranjang, terasa nikmat ketika dipijati urut oleh perempuan setengah baya warga lokal.

Malam kedua di Villa Anyer itu Ivan yang sudah banyak meneguk Bir, nyaris membuatku lemas tak berdaya karena sampai subuh hari baru Ivan terhempas disamping tubuhku yang sudah  berpeluh. Aku yakin situasi dimalam kedua itulah yang membuat pertama kalinya aku hampir hampir... Begitu kusadari buah dadaku mulai bengkak, dan menstruasi ku sudah telat dua minggu, maka aku melaporkan hal itu ke Ivan.

Begitu kulaporkan keadaanku yang sedang hamil, Ivan langsung membawaku ke klinik dikawasan jalan Raden Saleh Jakarta, dimana aku ternyata sudah hamil jalan bulan kedua, begitu kata dokter yang tangannya sempat lama dan berulang ulang meremasi kemaluanku dalam posisi mengangkang didepan sang dokter kandungan yang kuyakin genit.

Ivan langsung saja menyetujui untuk dilakukan tindakan oburtus (digugurkan) karena dikantong Ivan selalu siap uang, apalagi Ivan punya beberapa kartu kredit dan debit. Dan akhirnya urusan di Klinik Raden Saleh itupun cuma berkisar dua jam tuntas, namun selama beberapa hari badanku terasa demam sampai membuatku bolos dari sekolah yang sesungguhnya tinggal beberapa bulan lagi kami sama sama dinyatakan lulus SMA.

Dan menjelang tamat SMA itulah hubunganku dengan Ivan mulai terganggu karena hadirnya Selvy, yang sejak pertama selalu mencuri perhatian Ivan. Sebenarnya Selvy juga teman dekatku, tapi aku ga pernah menyangka kalau hatinya tertambat ke cowokku. Dansaat Ivan berterus terang keaku sedang jalan dengan Selvy, aku secara tegas bilang ke Ivan, silahkan aja dengan Selvy kalau memang suka.

Walau menyimpan rasa benci namun jujur aku sesungguhnya berterimakasih atas kebaikan Ivan yang sudah membiayai SMA ku sejak kelas dua hingga diakhir kelas tiga itu. Aku sendiri gak berdaya menahan Ivan karena kusadar siapa diiriku sebenarnya, sebagai anak yang brokenhom dan miskin. Bagiku sudah cukup aku terbekali dengan izajah SMA dan sama sekali aku tak berniat untuk kuliah karena keadaan orangtuaku yang miskin.

Setamat SMA aku langsung mencari pekerjaan sebagimana yang diharapkan oleh ortuku. Dan paling pertama kali aku bekerja sebagai Pelayan toko HP dikawasan Roxy Jakarta. Wajahku yang cantik dengan ukuran buah dadaku 36 aku terlihat lebih dewasa dan menarik dimata kaum lelaki. 

Ko Willy sebagai pemilik toko yang sudah punya isteri dan dua anak, sejak awal kutangkap pandangan matanya selalu meliirik kearah dadaku yang menonjol, hinggga dibulan ketika aku bekerja ditokonya, Lo Willy secara terus terang mencoba mengajakku kencan.

" Aku hanya pengen kerja mencari uang untuk membantu kesulitan ekonomi keluargaku" jawabku polos tanpa merubah posisi badanku yang sedang diperhatikan.

" Asal Mira mau nginap semalam aja, saya bisa kasih uang sepuluh juta " katanya Ko Wlly terus terang.

Ya aku saat itu sedang membutuhkan sejumlah uang untuk membiayai berobat ayahku yang sudah harus masuk opname akibat nafasnya yang semakin sesak. Walau aku tau ada cara lain untuk meringankan biayai berobat ke RS Cipto, dimana aku harus minta surat ketarangan tidak mampu dari RT hingga ke Lurah, tapi aku lebih memilih jalan pintas memenuhi hasrat Ko Willy yang sejak pertama sudah pengen menelanku bulat-bulat.

Disebuah hotel dikawasan jalan Pecenongan itulah aku dibawah masuk kesebuah kamar hotel yang lumayan dingin AC nya. Kulihat sejak dimobil Ko Willy sudah menelan sebutir Pil biru, seperti yang dulu pernah dipakai Ivan ketika kami di Villa Anyer. Duh.... kupastikan Ko Willy ingin sekali terpuaskan dengan membayar tubuku sepuluh juta untuk nginap semalam.

Memang berbeda kencan dengan lelaki yang sudah beristiri dan beranak dua, sudah memiliki jam terbang diatas ranjang. Tapi sama sekali tak pernah kuduga kalau Ko Willy mengecupi lumat semua bentuk tubuhku hingga ke area yang paling pribadiku. Aku dibuatnya terbakar habis, lalu instingku mengikuti gerak yang dia inginkan. Saling melumat.

Hingga keesokan menjelang Chek out siang, Ko Willy masih menggarap habis habisan tubuh sensualku. Ya sebanyak tiga kali lelaki Cina itu menggauliku secara ganas dengan melumat kewanitaanku disela sela jeda posisi yang beraneka versi.

Aku sadar dan terbayang, begitulah nasib para perempuan PSK yang menjual tubuhnya dengan sejumlah uang transaksi. Tak ada rasa cinta seperti dengan Ivan, tapi kok rasanya gairahku tetap saja berkobar seperti dengan dua cowokku sebelumnya. Sampai aku merenungi diriku, apakah karena jilatan Ko Willy yang sensasional itu, atau memang sesungguhnya aku tercipta sebagai seorang perempuan yang memiliki nafsu birahi terlalu tinggi?.

Yang jelas itulah hari terakhirku bekerja ditoko HP itu, dan hanya sekali itu saja aku berhubungan badan dengannya. Sepekan aku menjagai ayahku yang terbaring sakit opname di RS. Cipto mangunkusomo, Jakarta.

Ayahku tercinta meninggal dipelukanku setelah selama seminggu berada di RS milik pemerintah itu. Kepergian ayah yang sejak kecil menghidupiku secara pas-pasan, membuatku terpukul. Jujur aku belum sempat membuat ayah bahagia. Tuhan terlalu cepat memanggil ayah yang sesungguhnya sangat membela dan menyayangiku.

Padahal cita-citaku, walau ayah memiliki isteri muda yang kejam terhadapku, aku pengen ayah merasakan senang walau harus menjadi apapun asal ayah bisa merasakan hidup berkecukupan. Kasihan ayah yang sejak dulu hanya hidup dibawah garis kemiskinan.

Sedihnya hatiku karena tidak sempat membuat ayah bahagia. Padahal ayahku tau kalau aku anak perempuan satu satunya, tunggal, semata wayang dan cantik bahkan aku kata orang, memiliki tubuh yang menarik, tak kalah dengan artis yang cuma terkenal karena layar kaca. Tapi perjalanan panjang hidupku harus kulalui sendiri, bagai sebatang kara di Ibukota Jakarta yang sesungguhnya sangat ganas, keras, bagaikan batu cadas.

Satu persatu perhiasan yang pernah kudapatkan hadiah dari mantan cowokku sebelumnya, kujual satu persatu demi menyambung kebutuhan hidup bersama ibu tiriku. Sampai kemudian aku terjaga pada suatu malam buta, dimana suara berisik dari kamar sebelah, yang kemudian kuketahui kalau ibu tiriku sedang berkencan dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak kukenal.

"sebaiknya ibu menikah saja dengan lelaki itu, biar lebih baik dipandang tetangga." kataku pada saat ibu tiriku baru keluar dari kamar mandi. Perempuan berdarah sunda asal Bandung yang menjadi ibu tiriku seakan kaget dengan kalimat yang kuucapkan, namun lebih kaget lagi perempuan yang sesungguhnya tidak pernah bisa kusayangi seperti almarhum ibuku, melihat koper dan beberapa tas ransel yang sudah siap kukemas.

"Mira,,,kau mau kemana ? tanya ibu tiriku ketika kakiku akan melangkah keluar rumah.
"Tak usah ibu memikirkan kemana aku akan pergi, karena aku sudah tidak punya siapapun lagi." kataku sambil bergegas meninggalkan rumah peninggalan kedua orangtuaku.

Bagiku lebih baik memberikan rumah pusaka itu kepada ibu tiriku, asal aku lepas dari rongrongannya, terlebih aku sudah sangat muak dengan sikap berpura manisnya, tapi hatinya munafik.

Dengan menaiki sebuah taksi aku menuju kekawasan jalan Gajah Mada, Jakarta kota.Dengan hasil browsingan semalaman melalau Android, aku telah menemukan arahku, menuju kesebuah rumah kost  an, dibelakang Gajah Mada Plaza, yang biaya perbulannya berkisar Rp 1.500.000,-  dengan ukuran 3 kali 4 meter, didalamnya sudah ada kamar mandi dan AC pendingin.

Rumah kosan yang terbilang cukup lumayan dimana terdapat 4 kamar yang disewakan, sementara pemiliknya sendiri Bang Coky, lelaki Batak yang ternyata sudah hampir 6 tahun ditinggal mati isteri dan memiliki seorang anak perempuan berusia 10 tahun, bernama Neimar.

" Kalau ada sesuatu yang mungkin dibutuhkan, jangan sungkan, mintakan saja pada Neimar, anakku. " kata Bang Coky setelah menerima uang untuk bulan pertama dari tanganku. Bang Coky yang sudah menduda hampir selama 6 tahun itu, tampak begitu sangat menyayangi putri tunggalnya, Neimar. Walau hari itu sedang tanggal merah diklender menandakan libur, tapi Bang Coky tetap masuk bekerja, yang belakangan kuketahui sebagai sebagai seorang wartawan disebuah harian nasional yang terbesar di Ibukota.

" Iya...terimakasih pak, pasti saya akan ......" kataku tak tuntas karena mataku sedang bertatapan erat dengan gadis kecil yang cantik berambut panjang, Neimar.

" Papi berangkat dulu yang sayang...." kata Bang Coky kepada Neimar yang tangannya sudah berada dipergelanganku sejak tadi.

" Iya pi, hati hati ya pi," kata Neimar dengan suara yang polos melepas orangtuanya berangkat kerja.

"Mari tante... saya tunjukan kamarnya. "
"Ayo...sayang.: kataku bergegas mengikuti langkah kecil simungil.

Kamar ku yang berada seberang ruang tamu, memiliki sebuah tempat tidur ukuran single, sebuah lemari pakaian dua pintu, sebuah meja dan bangku jengki. Aku langsung semangat menaruh pakianku pada lemari sambil mengisi air pada bak kecil dikamar mandi.

" Kalau tante belum ada TV, biar nonton diruang tamu aja ya..." suara Neimar menggodaku.
" Iya sayang, lagian tante juga ga terlalu suka nonton tivi kok. " jawabku sambil memindahkan semua pakaianku dari dalam koper.
"Disini banyak yang dari luar kota , klo tante darimana asalnya? "
"hmmm, tante dari Jakarta sini kok Nei."
"ohh"

Entah kenapa hatiku tak kuat berdiam diri, saat kulihat Neimar membawa sapu tanpa kuminta. Aku langsung mendekapnya, dan dekapanku semakin erat karena mendapat balasan dari Neimar yang mengingatkanku akan masa kecil bersama ibu mendiang.

Aku ingin bertanya kenapa begitu cepat mami Neimar meningal, tapi keinginan itu kutahan karena aku tak mau terkesan lancang terhadap hal yang sangat pribadi.

Menjelang siang, setelah semua urusan berbenah kamar selesai, aku bersama Neimar berjalan kaki menuju ke Plaza Gajah Mada yang hanya berjarak seratus meter dari rumah kosan. Aku bersama Neimar  sepakat menikmati Bakmi Gama yang terkenal dan Es campurnya yang lezat.

"Apakah tante yang kosan dirumah juga suka kesini dengan Nei ? " tanyaku sambil menikmati Es campur spesial.

"Dulu pernah sewaktu ada tante Rosa, pernah kami kemari, tapi setelah tante Rosa pindah kerja ke Surabaya, gak pernah lagi. " jawab Neimar yang memiliki bola mata yang bundar.


Selain diriku, ada tiga wanita yang juga kos dirumah Bang Coky. Ketiganya bekerja, dan dikamar paling pojok belakang ditempati oleh sepasang suami isteri yang sama sama bekerja. sementara kamar utama didepan ditempati bang Coky dan  putri tunggalnya yang baru duduk dibangku kelas V SD. Neimar bersekolah di perguruan Khatolik dikawasan Cideng.

Pada dinding ruang tamu terpasang beberapa figura besar foto keluarga Bang Coky dengan almarhum isterinya bersama Neimar yang baru berusia 4 tahun. Almarhum mami Neimar cfantik sekali dalam foto itu sedang mengenakan  Kebaya resmi. Potret keluarga bahagia. Tapi Tuhan begitu cepat memanggil sang isteri tercinta meninggalkan seorang anak perempuan yang lucu dan cantik secantik ibunya, juga meninggalkan seorang suami yang terbilang baik dan cukup ganteng, berwajah tampan walau sedikit dingin dalam bicara.


Hampir menjelang dua minggu aku belum mendapatkan pekerjaan yang tepat, walau hampir tiap hari ada panggilan dari yang kulamar, tapi masih belum cocok hatiku untuk menerima tawaran kerja. Selain gajinya kecil, peraturannya terlalu ketat. Belum apa apa sudah terkesan cerewet dan menekan, membuat bathinku belum pas menemukan pekerjaan yang sesuai.

Keuanganku sudah sangat menipis, walau masih dua minggu lagi bayar uang kos sebesar satu setenhah juta itu, tapi kok rasanya hatiku tidak mau membayar telat kepada Bang Coky yang kurasakan sangat berwibawah dan disegani anak anak kos.

Jujur lama aku tergoda, namun kalau bisa aku memilih, aku akan memilih tidak akan menghubungi orang khusus yang ada di HPku. Apalagi setelah nomor kartu seluler kuganti, nomor nomor tertentu itu belum pernah kuhubungi, walau masih tetap kusimpan di memori card.

Bisa saja aku seketika minta bantuan ke Ivan yang kutau masih sayang berbagi uang keaku, tapi kalau kuingat sakitnya cara Ivan menjalin asnmara kepaada perempuan yang masih terbilang teman dekatku, sebangku sekolah di SMA, ah ...masih mendingan aku mencoba sms an dengan mantan bos ku Ko Willy.

Betul saja tebakanku, begitu aku membalas dan menyebutkan namaku, Ko Willy spontan minta ketemuan. Tapi kucoba sedikit menahan diri dengan dialog panjang vcia sms, lalu kusebutkan permintaanku, kebutuhanku sebesar Rp 25 juta.

' Ok no problem, dengan senang hati aku bisa ngasih jumlah yang sedang Mira butuhkan, tapi boleh dong... klo kita dari Jumat sore sampai Minggu siang baru turun ke Jkt." bunyi sms dari Ko Willy.

" Kemana rencananya Ko ? " tanyaku
" gak jauh kok, kita cuma nginap dikawasan Puncak Bogor aja, bosan kepanasan di Jkt.ni" jawabnya.

"Ok setuju dan Jumat sekitar jam 5 an sore jemput saya di Carrefour Hayamwuruk ya." kataku.
"Ok sampai nanti cantik.." jawab Ko Willy yang sesadar sadarnya aku mengetahui betapa lahapnya lelaki Cina yang satu ini melumati dengan mulut, bibir dan lidahnya yang menjulur. Oughhh....



(bersambung..)
Share this article :

1 komentar:

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved