Headlines News :
Home » » Dari Jokowi Sampai Ketum PBNU Minta Agar Penjahat Kelamin Di Suntik Kebiri Saja

Dari Jokowi Sampai Ketum PBNU Minta Agar Penjahat Kelamin Di Suntik Kebiri Saja

Written By Infobreakingnews on Kamis, 22 Oktober 2015 | 20.54

Menteri Kesehatan,Nila Moeloek Saat Merumuskan Hukum Suntik Kebiri

Jakarta, infobreakingnews - Walau sudah semua pihak sepakat, namun Kementerian Kesehatan tidak bisa melakukan kastrasi atau suntik kebiri kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Kementerian Kesehatan masih belum menerima analisa lengkap dasar hukum hukuman suntik kebiri.

"Memang secara ilmu kedokteran memang betul ada. Namun, tentu ada batasan dan wewenang hukumnya. Saya kira Jaksa Agung (HM Prasetyo) yang pantas membicarakan hal ini terlebih dahulu," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek kepada wartawan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2015).

Nila mendukung hukuman terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak diperberat. Akan tetapi, hukuman tersebut harus didasarkan pada aturan hukum yang jelas. Termasuk batas kewenangan untuk melakukan suntik kebiri.

Sementara itu ditempat terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menyambut baik usulan pemerintah memberlakukan hukuman kebiri terhadap pelaku paedofil. Namun, Said tidak begitu setuju dengan hukuman kebiri.

"Hukum mati, hukum mati saja," kata Said usai acara perayaan Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).

Awalnya Presiden Jokowi menyebutkan hukuman tambahan terhadap pelaku kajahatan seksual terhadap anak ini harus dilakukan suntik kebiiri, agar dikemudian hari para residivis yang sudah bebas dari tahanan, tidak mampu lagi melakukan kegiatan seksual karena telah dilumpuhkan alat vital bahkan gairah seks nya dari dalam diri sipenjahat kelamin yang secara psikologis memang sangat sulit untuk meredam kegilaan seksnya terhadap anak kecil yang sudah merusak jiwanya, hanya suka dan penuh gairah pada anak kecil.

Sehingga Jokowi pun meminta agar ada tambahan hukuman bagi mereka penjahar kelamin spesial anak, dan sesungguhnya ucapan Jokowi itu bermula dari spontannya Guburnur DKI Jakarta Ahok yang meminta agar dikebiri saja para pelaku seks yang super bejad tersebut, apalagi banyak korban kekerasan seksual paedofil itu dibunuh juga, seperti yang terakhir kasus anak 9 tahun di Kalideras, Jakarta Barat, dan sebelumnya yang paling menggemnparkan peristiwa gadis cilik 7 tahun di Bali. *** Johanda Sianturi.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved