Headlines News :
Home » » Luhut : Gereja Jangan Menjadi Ajang Berpolitik

Luhut : Gereja Jangan Menjadi Ajang Berpolitik

Written By Infobreakingnews on Rabu, 30 September 2015 | 18.37

Luhut Bersama Breakingnews
Pematang Siantar, infobreakingnews - Menjelang Pilkada serentak akhir tahun ini, merebak kondisi rumah ibadah seperi gereja dan lainnya berubah fungsi menjadi ajang berpolitik dibalik dukungan kampanye kepada salah satu kandidat. Untuk itu secara tegas Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Panjaitan, mengharapkan, seluruh gereja supaya menghindari politik praktis menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serantak, 9 Desember 2015.
"Jangan marah jika Luhut secara keras mengkritik gereja. Saya menginginkan gereja berdiri pada posisi netral. Saya ingin gereja tumbuh dengan baik dan benar," ujar Luhut dalam sambutannya di acara Sinode Am Pariode (SAP) XX Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (29/9).
Luhut menganjurkan, seluruh gereja membiarkan semua calon kepala daerah untuk berpolitik. Namun, gereja harus dapat posisinya, supaya calon kepala daerah tidak berpolitik dengan gereja. Sebab, setiap pendeta harus dapat mengerti dengan tugas dan tanggungjawabnya tersebut.
"Seorang pendeta merupakan gembala bagi umatnya. Pendeta pun juga harus menjadi tauladan. Oleh karena itu, pendeta jangan berpolitik praktis lagi. Jika itu dilakukan maka kehidupan ini menjadi sangat berat. Lebih baik gereja kembali pada fungsi dasarnya, Kanonia, Marturia dan Diakonia," katanya.
Menurutnya, tugas seorang pendeta sudah sangat berat, sehingga dibutuhkan sesuatu yang fokus untuk melaksanakannya. Jangan sampai gereja terlibat dalam berpolitik, apalagi sampai memunculkan pengelompokan - pengelompokan. "Lebih baik mengandalkan doa untuk kebaikan bangsa dan menghimpun gereja," sebutnya.
Kondisi salah kaprah tempat ibadah dijadikan ajang kampanye dukung mendukung lalu pengkhotbahnya tidak lagi murni menyampaikan siraman rohani berupa firman Tuhan yang mampu menguatkan iman jemaat, karena dicekoki hal dunia dan ketamakan dalam diri bagi yang mengaku hamba Tuhan padahal sesungguhnya merupakan seorang hamba uang.
Apalagi jika anggota majelis gereja yang memiliki otoritas pengaturan gereja disusupi orang yang gila berpolitik sehingga nuansa gereja menjadi utama dalam memperbincangkan isu politik dan menggunakan pembenaran dalam penyimpangan, sehingga jemaat bisa terancam pertumbuhan rohaninya. Biasanya model komunitas tempat ibada seperti seringkali menimbulkan konflik yang membuat pecah anggota gereja." Jangan sampai anggota majelis itu berubah menjadi manusia jelmaan iblis (majelis) yang bisa merusak pertumbuhan iman seorang kristen." pungkas Luhut secara keras. *** Bonggas Sibuea.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved