Headlines News :
Home » » Dari Persidangan OC Kaligis, KPK Akui Ada Pertemuan Petinggi Nasdem Dan Rakyat Menangisi Negeri Yang Korup Ini

Dari Persidangan OC Kaligis, KPK Akui Ada Pertemuan Petinggi Nasdem Dan Rakyat Menangisi Negeri Yang Korup Ini

Written By Infobreakingnews on Senin, 28 September 2015 | 20.59


Jakarta, infobreakingnews - Pemandangan yang sesungguhnya sangat kontras dan aeh tapi nyata, seorang pengacara kondang yang sudah melahirkan segudang pengaraca hebat dinegeri ini, Otto Cornelis Kaligis (OCK), yang biasanya disetiap ruang pengadilan selalu duduk sebagai penasehat hukum membela kliennya yang tengah disidang, justru kini OCK duduk sebagai terdakwa dipengadilan yang paling memalukan yakni Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
OCK yang tetap menjaga penampilan yang penuh kren habis berjas mewah sebagaimana biasanya jika hadir sebagai pembela klien nya, dengan tenang membenarkan adanya pertemuan antara dirinya, Gubernur Sumut nonaktif Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Wagub Sumut, Tengku Erry Nuradi dengan petinggi Partai NasDem. Tapi Kaligis menyebut pertemuan itu hanya islah antara Gatot dengan Erry Nuradi yang juga Ketua DPW NasDem Sumut.

"Saya kan ketua mahkamah (Mahkamah Partai NasDem). Pada saat itu anggota saya, wagub (Erry Nuradi) diminta sama si Gatot untuk islah, karena dia khawatir wakilnya sudah bikin manuver tanggal 17 Agustus akan jadi instruktur upacara. Berhasil kok islah itu, duduk baik-baik. Cuma itu yang saya tahu," ujar Kaligis sebelum menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (28/9/2015).

OCK mengaku tidak mengetahui jika dibalik pertemuan Islah itu ada sejumlah uang yang nilainya berkisar puluhan miliar mengalir dari pihak Gatot kepada petinggi Nasdem, sebagaimana yang kini diakui oleh pihak KPK.

Walau Kaligis menyebut islah itu tidak ada kaitannya dengan perkara hukum. Dia mengatakan Sekjen Partai NasDem, Patrice Rio Capella-yang sudah diperiksa KPK-tidak ada kaitan dengan perkara suap hakim dan panitera PTUN yang menyeret Kaligis sebagai terdakwa atau perkara lain, namun justru disitulah KPK ditantang apakah berani dan mampu menyentuh orang kuat Nasdem yang kini sedang dekat dengan Presiden Jokowi yang sedang berkuasa. Dan disinilah tolak ukur yang akan membuat rakyat sangat kecewa terhadap Jokowi jika kelak ternyata petinggi Nasdem Surya Paloh dan Sekjen nya terbukti menerima dana haram islah antara Gatot dan wakilnya, yang ternyata uang suap itu juga diambil Gatot dari Dana Bansos Sumut yang msutinya untuk kaum fakir miskin.

"Saya sebagai ketua mahkamah tak pernah menodai partai ini sampai saya mengundurkan diri. Mengundurkan diri pilihan saya sendiri. Surya Paloh jauh dari itu apalagi Rio capella. Rio Capella sama sekali ngga ada kaitannya dengan perkara saya," sambungnya.

Mahkamah Partai NasDem menurut Kaligis memang punya kewenangan melakukan pertemuan antara Gatot dan Erry yang disebut sebagai islah. "Loh apa yang salah? saya sebagai ketua mahkamah. Kalau orang mau damai apa salahnya? kebetulan Erry kan dari Nasdem juga dewan pimpinan wilayah. Bukan cuma Erry yang datang ke saya, semua orang datang ke kantor saya karena ketua mahkamah kan mendamaikan," tuturnya.

"Yang saya dengar memang islah. Habis itu pertemuan sekali lagi saya ga ikuti, tapi sama sekali ga ada hubungannya sama perkara," tegas Kaligis.

Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja menyebut pihaknya tengah menelaah adanya pertemuan Gatot, Evy dengan petinggi NasDem, sehingga KPK kini sedang mendalami dan terus mendalami seperti bahasa streoptip selama ini yang buntutnya hanya dipetieskan oleh KPK karena sesungguhnya KPK sekarang jelas tidak sehebat dimasa Samad dan BW yang tak gentar dengan petinggi parpol apapun, bahkan Samad pengen memeriksa Megawati dalam kasus penjualan Indosat lalu Samad juga menangkap seorang Presiden seperti SBY yang berada dalam pusaran kasus Bank Century waktu itu. Sayang Samad dan BW dijatuhkan oleh Komjen Buwas saat awal menjadi Kabagreskrim karena terungkapnya kasus jadul dimasa lalu Samad dan BW. Yang terpenting cukup dengan menjadikan kedua pendekar KPK itu menjadi status tersangka, karena undang undang dan aturan main KPK sudah cukup seorang petingginya berhenti dari KPK dengan resmi sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh Polisi. Dn tamatlah karier kedua pendekar KPK yang bernyali segila Samad dan BW yang tak ada takutnya dengan siapapun termasuk kepada Presiden.

Sayangnya orang hebat seperti itu sejak dahulu kala selalu saja dimatikan dalam tanda kutip oleh pihak penguasa negeri ini, lalu hukum karma dan balas dendam pun terus berkelanjutan. Rakyat perlu menangis negeri ini. *** Yohanes Suroso.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved