Headlines News :
Home » » Kaluarga Korban Memaafkan Penembak Gereja di Charleston

Kaluarga Korban Memaafkan Penembak Gereja di Charleston

Written By Infobreakingnews on Minggu, 21 Juni 2015 | 13.51



Carolina, infobreakingnews - Penembakan yang telah memakan korban 9 orang tewas di Gereja Emanuel African Methodist Episcopal (AME) cukup menggemparkan kota Charleston, Carolina Selatan.  Seorang teman Dylann Roof, pria yang diketahui sebagai pembunuh mengungkapkan bahwa Roof mengatakan rencana awalnya untuk menyerang kampus.

Berdasarkan laporan The Washington Post yang dilansir Reuters, Sabtu, Christon Scriven yang merupakan tetangga dari Roof menuturkan bahwa Roof mengatakan hal tersebut baru-baru ini pada suatu malam ketika sedang minum, rencananya untuk menembaki sekolahan. Pada kesempatan lain, Roof juga mengatakan ingin menembaki College of Charleston.

"Reaksi saya saat itu: Kau mengatakan hal yang gila," kata Scriven. "Aku tidak berpikir ia sungguh-sungguh." Scriven juga mengatakan kepada NBC News bahwa Roof mungkin telah mengubah rencananya setelah memutuskan bahwa perguruan tinggi merupakan target yang sulit untuk akses.

"Dia hanya mengatakan pada hari Rabu, semuanya akan terjadi. Dia mengatakan mereka memiliki waktu tujuh hari," kata Scriven untuk NBC News.

"Aku tiba-tiba berpikir bahwa dia benar melakukannya [...] Seperti, ia benar-benar akan dan melakukan apa yang ia ingin lakukan." Roof, 21 tahun, didakwa dengan sembilan pembunuhan dan pelanggaran senjata atas aksinya di salah satu gereja Amerika-Afrika tertua di kawasan Amerika Serikat bagian Selatan itu.


Ulah nekat si penembak di Gereja Emanuel African Methodist Episcopal (AME) tak membuat para keluarga korban membencinya. Meski kehilangan orang yang mereka sayangi, para jemaat rumah ibadah bersejarah di Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat itu memaafkan tersangka penembakan, Dylann Roof.
"Aku memaafkanmu," kata putri seorang korban, sambil menahan tangis seperti dikutip dari BBC, Sabtu (20/6/2015). Para keluarga korban juga mengatakan hal serupa kepada Dylann.
Hal itu mereka sampaikan saat berhadapan langsung dengan Dylann, dalam sidang yang digelar pada Jumat 20 Juni 2015 siang waktu setempat di Pengadilan Charleston, AS. Ia didakwa telah menembaki sebuah kelompok studi Injil dan menewaskan 9 orang.
Namun suasana 'haru biru' pecah di antara para keluarga korban, saat dipersilakan oleh hakim untuk maju dan berbicara.

"Kamu telah merampas sesuatu yang begitu berharga dari ku. Aku tak akan pernah lagi bisa berbicara dengan nya. Aku tak akan pernah bisa lagi memeluk nya. Namun aku memaafkanmu. Dan semoga Tuhan menumbuhkan kasih dalam jiwamu," kata seorang perempuan yang menyebut dirinya anak dari seorang korban tewas, Ethel Lance. 


Anthony Thompson, keluarga dari korban lain, Myra Thompson, menyerukan Dylann untuk bertobat. "Saya memaafkan kamu, begitu juga dengan keluargaku," timpal dia.


Seorang lagi, Felecia Sanders -- yang selamat dari pembunuhan dengan berpura-pura sudah mati saat kejadian penembakan dan sang anak Tywanza terluka parah -- juga turut menyampaikan pendapat dalam persidangan tersebut.



"Kami menyambutmu Rabu malam itu di studi Injil kami, dengan tangan terbuka. Kamu telah membunuh sebagian dari manusia paling baik yang saya kenal. Setiap inci di tubuhku terluka... Dan aku tak akan pernah jadi manusia yang sama lagi," kata Felicia Sanders melalui video yang ditujukan untuk Dylann.

Keluarga Dylann pun memberikan pernyataan melalui pengacara mereka.

"Kata-kata tak bisa mengungkapkan keguncangan dan kesedihan kami atas apa yang terjadi malam itu. Kami sangat sedih dan berduka. Kami sangat terharu oleh kalimat-kalimat sangat menyentuh dari keluarga korban, yang menyampaikan kasih dan pengampunan Tuhan, di tengah penderitaan mereka yang begitu rupa," ucap keluarga Roof dalam sebuah pernyataan.

Polisi menilai penembakan di gereja Afrika-Amerika Rabu 17 Juni itu sebagai kejahatan berlatar kebencian (ras). Sementara Departemen Kehakiman kini tengah mengembangkan penyelidikan, apakah kasus ini merupakan tindakan terorisme dalam negeri.

"Kami mengkaji berbagai kemungkinan terkait penembakan yang dirancang untuk membangkitkan ketakutan dan teror di kalangan masyarakat," ungkap Departemen Kehakiman melalui sebuah pernyataan.


Sementara itu, di Arena Olah Raga Charleston, ribuan orang berkumpul pada Jumat malam untuk mengenang para korban dengan doa dan nyanyian.


Para jemaat Gereja tengah berkumpul pada Rabu 17 Juni 2015 malam ketika penembak berjalan ke gedung. Dia lantas duduk di ruang sidang selama sekitar 1 jam dan kemudian melepaskan tembakan. Demikian kata Kepala Polisi Charleston Gregory Mullen.
9 Orang tewas dalam penembakan di Gereja AS ini, 3 pria dan 6 perempuan. Selain itu beberapa orang lainnya juga luka-luka. Di antara yang tewas adalah pendeta gereja Clementa Pinckney, yang juga seorang senator negara bagian Demokrat.
Dilansir Channel News Asia, Kamis 18 Juni 2015, Dylann ditahan ketika berhenti berlalu lintas di Shelby, Carolina Selatan, sekitar 4 jam perjalanan dari lokasi penembakan. Dia diduga melepaskan tembakan ke arah 6 perempuan dan 3 laki-laki, termasuk seorang pendeta di dalam Gereja Emmanuel ketika mereka tengah berdoa.
Gereja Emanuel African Methodist Episcopal (AME) adalah rumah ibadah umat Kristiani tertua di wilayah selatan Amerika, dipimpin oleh Senator South Carolina Clementa Pinckney dari Partai Demokrat. Rumah ibadah ini merupakan salah satu yang memiliki jemaat kulit hitam tertua dan terbesar di selatan Baltimore.*** Novie Koesdarman
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved