Headlines News :
Home » » Sama Sama Sedang Operasi Razia, Perwira Polisi Babak Belur Dihajar TNI

Sama Sama Sedang Operasi Razia, Perwira Polisi Babak Belur Dihajar TNI

Written By Infobreakingnews on Minggu, 08 Februari 2015 | 15.47


Jakarta, infobreakingnews - Kini Ibukota Jakarta menjadi giliran peristiwa bentrok antar anggota kesatuan TNI dan Polri, dimana seorang anggota Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Teuku Arsya Khadafi mengalami luka cukup serius akibat pengeroyokan yang dilakukan puluhan oknum TNI. 

Ironisnya perwira Polisi itu juga mengaku sedang bertugas resmi melakukan operasi razia ditempat hiburan cafe Bengkel, salah satu cafe yang cukup terkenal dikawasan elit Segitiga Emas Sudirman Jakarta Selatan, yang sudah babak belur karena dikeroyok oleh sejumlah TNI yang juga sedang melakukan razia gabungan di tempat hiburan itu, sehingga  harus memborgol kedua tangan Arsya bahkan lalu dimasukkan ke dalam truk seperti pelaku kejahatan yang sedang tertangkap basah.

Peristiwa terjadi ketika Kompol Arsya, Kompol Budi Hermanto (Pamen Polri) dan Iptu Rovan (anggota Subdit Jatanras Ditrekrimum Polda Metro Jaya) sedang melakukan tugas di Bengkel Kafe, Jaksel, pada Jumat (6/2) dini hari. Saat itu datang sekitar 30 personil gabungan dari TNI dan Provost Polri melakukan razia.

"Wajar dong anggota kami menanyakan mana pimpinan mereka yang razia itu, karena anggota kami pun saat itu sedang bertugas, ada sprint-nya dan sudah ditunjukkan ke pihak TNI AL yang melaksanakan razia tersebut," jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Heru Pranoto kepada infobreakingnews.com, Minggu (8/2/2015).

Sempat terjadi ketegangan antara ketiga anggota Polri saat itu dengan pihak TNI. Pihak TNI menginterogasi ketiganya saat itu karena keberadannya di kafe tersebut.

"Padahal sudah ditunjukkan sprint-nya, kalau mereka sedang ada tugas di situ, tetapi mereka tidak percaya," katanya.

Arsya yang aktif bertanya kemudian dituding melakukan perlawanan. Beberapa oknum TNI saat itu memegangi tangannya kiri-kanan, lalu memukulinya beramai-ramai hingga jatuh tersungkur.



Tidak sampai di situ, bahkan pihak TNI juga merampas senjata api ketiga anggota tersebut. Selanjutnya, Arsya diborgol tangannya dan dimasukkan ke dalam truk lalu dibawa ke POM TNI.

"Seharusnya tidak perlu dibawa sampai POM TNI AL, apa urusannya? Karena kita sendiri punya Ankum sendiri, ada Provost, kenapa dibawa ke POM AL?," cetusnya.

Heru yang mendapat laporan anggotanya dibawa ke POM AL kemudian menjemputnya. Namun, sesampainya di POM AL pun masih sempat terjadi ketegangan. Salah satu oknum TNI berpangkat Serka bahkan mengucapkan, "ada apa pak? Masih kurang dipukulin?,".

"Tindakan ini sangat kami sayangkan, dan kami akan membawa ini ke ranah hukum," pungkasnya.

Sementara itu Kadispen TNI AL Laksma Manahan Simorangkir punya penjelasan lain soal kasus penganiayaan 2 perwira Polri saat ada razia gabungan antara POM TNI AL dan Provost Polri di Bengkel Cafe di SCBD, Jakarta, Jumat (6/2) dini hari.

Menurut Manahan, Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kompol Budi Hermanto membentak dan mengacungkan pistol saat hendak diperiksa. Saat itu POM TNI AL dan Provost Polri melakukan razia gabungan atas perintah Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko.

"Mereka seperti orang mabuk karena mereka seolah-olah tidak peduli dengan situasi. Kalau normal kan bisa tahu ada operasi dan koordinasi sama kita," kata Manahan saat dihubungi , Minggu (8/2/2015).

Saat hendak diperiksa, 2 perwira Polri itu tak mau menunjukkan identitas. Setelah ditangkap, mereka baru mengaku sebagai anggota Polri.

"Setelah ditangkap, mereka baru bilang Polri. Kita sempat ajukan saran untuk tes urine tapi mereka nggak mau. Kita ada kok bukti-bukti, foto lengkap," ucap Manahan. Menurutnya, selain 2 perwira itu, ada juga orang-orang lain yang dijaring petugas gabungan.

"Nggak apa-apa kalau memang tugas, tapi kenapa nggak ngaku. Mereka laporannya cuma berdua, kalau kita ada 48 orang karena memang lagi operasi. Ada dari Propam juga, kita memang lagi penegakan ketertibakan gabungan," ujar Manahan.

Manahan membenarkan adanya pemukulan terhadap 2 perwira polisi itu. Namun hal tersebut terpaksa dilakukan karena petugas razia gabungan membela diri. 

"Pemukulan membela diri karena mereka mengacungkan pistol. Mereka membentak saat diperiksa, dan mengacungkan pistol sehingga petugas membela diri. Akhirnya diamankan. Lalu dilaksanakan koordinasi dengan Polri dan diserahkan ke kesatuannya. Saya ingin meluruskan, nggak ada kok kita gimana-gimana sama Polri. Orang kita langsung koordinasi dengan Polri," imbuh Manahan.

Sampai dengan berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Panglima TNI Moeldoko maupun dan petinggi Polri atas peristiwa yang memalukan ditempat hiburan malam yang cukup bergengsi itu. *** Buce Dominique.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

-

-
-

Music Video

Iklan Pilihan

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved